Dugaan Keracunan Siswa SMKN 6 Semarang, Dapur MBG Karangturi Disetop

- BGN menghentikan sementara operasional dapur SPPG Karangturi, Semarang, pemasok MBG, setelah ratusan siswa SMKN 6 Semarang diduga mengalami keracunan makanan.
- Dari 693 sasaran MBG, Dinas Kesehatan Kota Semarang menyelidiki 422 responden; hingga 1 Agustus 2026, enam siswa masih dirawat di rumah sakit dan puskesmas.
- BGN bersama polisi, Dinkes, dan instansi terkait menelusuri pengolahan serta distribusi makanan; penyebab mual, muntah, dan diare masih diselidiki.
Semarang, IDN Times - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Semarang. Tindakan ini menyusul dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan siswa SMK Negeri 6 Semarang.
Hingga Sabtu (1/8/2026), enam siswa masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas. Sementara itu, investigasi lintas sektor terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kejadian.
1. Operasional dapur MBG dihentikan sementara

Koordinator KPPG Semarang, Hadi Riajaya mengatakan, BGN memutuskan menghentikan sementara operasional dapur SPPG Karangturi yang menyuplai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penghentian operasional dapur ini dilakukan sebagai langkah kehati-hatian.
Menurutnya, keselamatan para penerima manfaat menjadi prioritas utama selama proses investigasi berlangsung.
“Makanya dapur kami suspend sementara. Keselamatan penerima manfaat jadi yang utama dan prioritas,” kata Hadi dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/8/2026).
Keputusan tersebut diambil setelah muncul dugaan keracunan pangan yang menimpa pelajar SMKN 6 Semarang.
2. Enam siswa masih menjalani perawatan

Berdasarkan data BGN, dari total 693 siswa yang menjadi sasaran program MBG di sekolah tersebut, Dinas Kesehatan Kota Semarang telah melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap 422 responden.
Hingga Sabtu, masih ada enam siswa yang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Rinciannya, dua siswa dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro, satu siswa di RST Bhakti Wira Tamtama, satu siswa di Puskesmas Bangetayu, dan dua siswa lainnya di Puskesmas Halmahera.
“Kami bergerak cek kondisi penerima manfaat yang terdampak. Mulai dari yang di puskesmas sampai yang dilarikan ke rumah sakit untuk rawat inap,” ujar Hadi.
BGN menyatakan, terus memantau perkembangan kondisi para siswa sambil melakukan evaluasi terhadap kejadian tersebut.
3. Investigasi libatkan polisi hingga Dinkes

Sehari setelah laporan diterima, BGN membentuk investigasi lintas sektor bersama sejumlah instansi.
Tim investigasi melibatkan KPPG Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Polrestabes Semarang, serta Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Selain memantau kondisi korban, tim juga menelusuri kronologi pengolahan hingga distribusi makanan di dapur SPPG Karangturi.
Dalam kronologi yang dirilis BGN, bahan baku mulai diterima pada Rabu (29/7) siang, kemudian diproses sejak malam hari hingga dini hari.
Pada Kamis (30/7) pukul 04.00 WIB, ahli gizi disebut melakukan uji organoleptik dan gramasi sebelum makanan dikemas. Distribusi kemudian dilakukan dalam dua kloter pada pukul 06.00 WIB dan 08.10 WIB.
4. Penyebab dugaan keracunan masih diselidiki

BGN menyebut laporan pertama mengenai siswa yang mengalami gejala mual, muntah, dan diare diterima dari pihak sekolah pada Jumat (31/7) pukul 09.40 WIB.
Meski kronologi pengolahan makanan telah dipaparkan, penyebab dugaan keracunan hingga kini belum disimpulkan.
Investigasi dan pemeriksaan masih berlangsung untuk memastikan sumber kejadian.
BGN menegaskan hasil penyelidikan akan menjadi dasar penentuan langkah berikutnya terkait operasional dapur SPPG Karangturi maupun penanganan kasus tersebut.

















