Rembang, IDN Times — Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Rembang pada Rabu (9/9/2026) resmi dialihkan secara daring atau online. Keputusan darurat ini diambil usai puluhan siswa hingga tenaga pengajar bertumbangan akibat diare massal yang diduga dipicu oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Buntut Keracunan Massal MBG, Siswa MAN 2 Rembang Terpaksa Belajar Daring

1. Sekolah belum kondusif, pihak madrasah fokus sterilisasi
Kepala MAN 2 Rembang, Ahmad Suhadak Solikhin, menyatakan bahwa peralihan ke sistem KBM daring terpaksa dilakukan karena situasi di lingkungan madrasah masih jauh dari kata kondusif. Saat ini, pihak sekolah sedang berfokus penuh menangani para korban sekaligus melakukan sterilisasi area.
"Hari ini KBM kita laksanakan daring karena mengingat masih belum kondusif. Kemarin sampai jam dua (dini hari) murid-murid masih ada yang dirawat, baik yang dirujuk ke rumah sakit maupun di puskesmas," ujar Suhadak saat dihubungi IDN Times, Rabu (9/9/2026).
Suhadak menambahkan, pihaknya masih terus menginventarisasi jumlah pasti korban dari total populasi sekolah yang mencapai 1.386 murid serta 90 guru dan tenaga kependidikan (tendik).
2. Pasien membeludak, Puskesmas Lasem alami over kapasitas
Efek keracunan massal ini membuat Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Lasem kewalahan melayani pasien yang terus berdatangan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Rembang, dr. Ali Syofi’i, mengonfirmasi lonjakan data tersebut.
"Update pasien dari MAN Lasem yang masuk UGD Puskesmas Lasem hingga Rabu pukul 05.40 WIB berjumlah 88 orang," jelas dr. Ali.
Kondisi overload ini memaksa pihak puskesmas merujuk sejumlah pasien ke rumah sakit terdekat. Dari total 88 pasien yang tercatat pagi ini, 52 orang menjalani rawat jalan, sementara 36 lainnya harus opname (7 di antaranya dirujuk: 5 ke RSUD, 1 ke RS PKU, dan 1 ke RS Bhina).
3. RSUD Rembang ikut turun tangan rawat 23 korban
Limpahan pasien yang tak tertampung di Puskesmas Lasem langsung dilarikan ke RSUD dr. R. Soetrasno Rembang. Kasi Informasi RSUD Rembang, M. Nur Achdi Yustanto, menyebutkan bahwa pihaknya saat ini tengah merawat puluhan warga madrasah dengan keluhan identik.
"Kami merawat 23 pasien dari MAN 2 Rembang, rinciannya 11 orang rawat inap dan 12 orang rawat jalan. Keluhannya sama: mual, pusing, hingga nyeri perut akibat gangguan pencernaan," papar Yustanto di IGD RSUD Rembang.
Kabar baiknya, Yustanto memastikan kondisi seluruh pasien yang ditangani di RSUD saat ini sudah berangsur membaik di bawah pantauan ketat tim medis.
.
4. Dapur SPPG Ngemplak hentikan operasional dan minta maaf
Menyusul insiden fatal yang melumpuhkan aktivitas sekolah ini, Kepala Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngemplak, Raditya Ardi Pratama, akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya dan berjanji akan bertanggung jawab penuh.
"Kami sangat prihatin terhadap kondisi para pasien. Bersama pihak mitra, kami berkomitmen untuk bertanggung jawab dan melakukan evaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang," tegas Raditya.
Evaluasi ketat tersebut akan menyasar seluruh rantai pasok MBG, mulai dari seleksi bahan baku, pengolahan, hingga proses distribusi ke sekolah. Sebagai catatan, MAN 2 Rembang dipasok oleh SPPG Ngemplak, berbeda dengan SMAN 1 Lasem yang disuplai oleh SPPG Soditan.
Untuk sementara waktu, operasional dapur SPPG Ngemplak resmi dihentikan hari ini demi berfokus pada penanganan para pasien
Curated For You
- Puluhan Siswa MAN 2 Lasem Keracunan MBG, Penyebabnya Melon dan Ayam09 Sep 2026, 07:54 WIB