Mahasiswi Universitas Muria Kudus, Nadia Natasha menanam bibit pohon Multipurpose Tree Species (MPTS) di kawasan lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Selasa (10/2/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Program Officer BLDF, Dandy Mahendra mengatakan, One Action One Tree (OAOT) lahir dari kepekaan terhadap perubahan perilaku anak muda selama pandemik COVID-19. Ia melihat, saat mobilitas turun dan banyak aktivitas berpindah ke layar, percakapan soal lingkungan dan krisis iklim justru makin sering muncul di media sosial.
Meski demikian, Dandy mengakui, persoalannya tidak bagaimana membuat isu lingkungan ramai dibicarakan. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah mengubah perhatian yang beredar di ruang digital itu menjadi tindakan nyata yang bisa dihitung, dilacak, lalu benar-benar memberi dampak bagi lingkungan.
Dari kebutuhan itulah OAOT kemudian dirancang. BLDF, imbuh Dandy, membuat skema konversi dari aktivitas yang dekat dengan keseharian anak muda.
Pada program tersebut, satu kilometer aktivitas lari atau tiga kilometer bersepeda, dihitung setara dengan satu bibit pohon. Aktivitas lain, seperti kampanye lingkungan di media sosial dan olahraga tertentu, juga ikut masuk dalam perhitungan.
Saat penutupan rangkaian OAOT 2026 di Balai Desa Japan, Dandy mencatat, program itu sudah mengumpulkan 60.321 bibit pohon berjenis Multi-purpose Tree Species (MPTS). Jenis pohon itu dipilih karena tidak hanya bernilai ekologis untuk konservasi tanah dan air, tetapi juga bisa dipanen buahnya berulang kali. Seperti mangga, alpukat, pamelo, kelengkeng, durian, matoa, hingga cengkeh.
Jumlah bibit tersebut berasal dari akumulasi 31.051 kilometer berlari, 67.941 kilometer bersepeda, serta 525 konten kampanye lingkungan di media sosial.
Meski demikian, torehan angka tersebut belum selesai ketika bibit tidak benar-benar sampai tertanam di tanah.
Di titik itulah kerja lapangan kemudian mengambil alih. Relawan menjadi jembatan antara partisipasi anak muda dari wilayah urban--seperti Rifa--dan kebutuhan untuk berkonservasi di lereng Muria.
Salah satunya datang dari Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan), komunitas mahasiswa yang rutin membantu mengangkut dan menanam bibit di kawasan sabuk hijau Gunung Muria. Di antara mereka ada Imanimatul Aliyah dan Nadia Natasha, mahasiswi Universitas Muria Kudus (UMK).
Mahasiswi Universitas Muria Kudus, Imanimatul Aliyah menanam bibit pohon Multipurpose Tree Species (MPTS) di kawasan lereng Gunung Muria, Kabupaten Kudus, Selasa (10/2/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Untuk mengikuti kegiatan penanaman, keduanya rela menempuh perjalanan dari Kayen, Kabupaten Pati, sekitar 40 kilometer menuju titik kumpul di kampus, lalu melanjutkan perjalanan ke lereng gunung, Selasa (10/2/2026). Jarak itu menunjukkan satu hal bahwa bagi sebagian anak muda, kepedulian kepada lingkungan tidak berhenti hanya di unggahan konten, tagar, atau percakapan pada layar gawai di media sosial saja.
“Bumi tidak sedang baik-baik saja. Hilangnya resapan air langsung kami rasakan lewat longsor dan banjir. Makanya ini bagian kami untuk merawat lingkungan dan menjaga Bumi,” ungkap Imanimatul saat ditemui IDN Times.
Bagi Imanimatul, keterlibatannya di program Siap Darling tidak sekadar kegiatan sukarela tanpa arah. Dedikasinya tinggi mengingat ia berasal dari keluarga petani, yang menyaksikan bagaimana krisis iklim membuat cuaca makin sulit ditebak dan ikut mengacaukan kalender tanam ayahnya.
Dari pengalaman tersebut, mahasiswi semester enam jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) itu memahami jika persoalan lingkungan di tempat tinggalnya tidak pernah berdiri sendiri. Ia pun memahami, bahwa kerusakan alam selalu berkelindan dengan air, tanah, panen, dan keberlanjutan hidup keluarga petani.
“Kita butuh paksaan agar anak muda turun langsung memegang tanah. Petani muda sekarang sangat langka, siapa yang mau meneruskan jika bukan saya, dan juga kita sendiri?” ujarnya.