Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dinkes Jateng: Makan Bergizi Jangan Sembarang Asal Kenyang
Inin Nastain IDN Times/ Menata ompreng di atas meja
  • Dinkes Jateng tidak ada keluhan pada MBG, tetapi perlu pengawas pangan setelah kasus keracunan di Sukoharjo.
  • Makanan dalam MBG harus memiliki kadar gizi yang cukup dan dapur umum harus bersertifikasi.
  • Pelaksanaan MBG di Jawa Tengah belum merata, pentingnya kampanye edukasi untuk meningkatkan gizi anak dan prestasi siswa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times -Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah menyampaikan tidak ada keluhan pada anak-anak sekolah yang mengikuti gerakan makan bergizi gratis (MBG). Namun saat ini diperlukan pengawas pada pengolahan pangan setelah adanya kasus keracunan di Sukoharjo beberapa waktu lalu.


"Yang mengolah harus tahu kapan dimarinasi, digoreng sehingga membutuhkan kesamaan pemahaman bagaimana mengolah makanan yang bersih maka syaratnya harus like hygiene sanitasi," ujar dr Yunita Dyah Suminar, Kepala Dinkes Jateng, Rabu (12/2/2025). 

 

1. Dapur MBG harus ada sertifikatnya

Pangdam Diponegoro Mayjen TNI Deddy Suryadi mengecek kondisi dapur MBG di SMK Bagimu Negeri Semarang. (IDN Times/Dok Pendam IV Diponegoro Semarang)

Menurutnya dalam mengolah makanan yang dihidangkan dalam pelaksanaan MBG harus dipastikan memiliki kadar gizi yang cukup. Selain itu juga dibutuhkan sertifikasi pada dapur umum yang baik dan benar. 

"Kita enggak sembarangan dapur yang digunakan untuk masak harus ada sertifikatnya yang diawasi," tuturnya. 

2. MBG memang belum merata

Pangdam Diponegoro Semarang Mayjen Deddy Suryadi melihat cara makan siswi SD yang ikut MBG. (IDN Times/Dok Pendam IV Diponegoro Semarang)

Namun diakuinya bahwa pelaksanaan MBG wilayah Jawa Tengah belum dilakukan secara merata. Pihaknya mengemukakan pentingnya gerakan kampanyenya untuk menedukasi pelajar, ibu hamil, dalan makan bergizi.

"Contoh di SMA 4 Semarang, karena sasarannya baru 792 dari seribu sekian, siswa jadi bergantian itu yang kita utamakan gerakannya. Gerakan makan bergizi ini yang utama itu mereka paham bahwa yang terpenting itu makan ya harus bergizi jangan sembarang asal kenyang," ungkapnya. 

Yunita berharap dengan gerakan ini, gizi anak terpenuhi dan prestasi meningkat. Harapannya, bisa membawa siswa dan siswi makin berprestasi.

"Prestasinya semakin baik. Karena dengan dia tidak jajan mereka fokus pada prestasi," akunya. 

3. Disdik tidak dilibatkan BGN

Kepala Disdikbud Jateng, Uswatun Hasanah memastikan pihaknya hanya menjadi wilayah yang ditempati untuk pelaksanaan MBG. Sebab, BGN tidak melibatkan dinas sebagai pelaksana di lapangan. 

"Kewenangan langsung dari BGN. Kami hanya ketempatan lokasi saja. Tetapi memang siswa yang ikut program ini tetap happy happy aja toh," kata Uswatun. 

4. Kodim Semarang buka SPPG Tembalang

Pangdam Diponegoro Semarang Mayjen TNI Deddy Suryadi berbincang dengan SPPI MBG SMK Bagimu Negeri. (IDN Times/Dok Pendam IV Diponegoro Semarang)

Sedangkan, Dandim 0733 Semarang, Kolonel Indarto mengatakan sebagai permulaan, pihaknya akan meresmikan pembukaan satu SPPG di Kecamatan Tembalang. 

Nantinya SPPG di Tembalang dimanfaatkan untuk mengakomodir kegiatan MBG bagi 3.000 orang. 

"Untuk MBG kita pas tanggal 13 Februari nanti akan buka SPPG di Tembalang bersama BGN. Kalau selama ini kan baru ada dua SPPG tapi dari swasta. Nah yang (SPPG) nanti kita buka fokusnya untuk 3.000 siswa," ujarnya kepada IDN Times, Rabu (5/2/2025). 

Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan semua pelaksanaan kegiatan MBG tetap menjadi kewenangan BGN. Setiap yayasan, koperasi  juga tetap diperbolehkan mengajukan izin menjadi SPPG. 

Pihaknya mematok target pembukaan SPPG se-Kota Semarang sebanyak 16 unit supaya di setiap kecamatan memiliki SPPG untuk menangani kegiatan MBG. 

Editorial Team

Related Article