Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri di acara Rakernas PDIP pada Selasa (21/6/2022). (dok. PDIP)
Lebih lanjut, Rudy mengatakan jika pernyataan putri Presiden Soekarno itu tak lepas dari sejarah panjang dirinya dengan partai berlambang banteng. Ia mengaku, jika sebagai kader dari awal hingga saat ini selalu mendampingi Megawati.
"Jadi itu berangkat dari saya yang mendampingi (Megawati) mulai dari 86 (tahun 1986) sampai titik darah penghabisan. Selama Ibu menjadi ketua umum, saya tetap konsisten. Jadi saya kader yang mempunyai prinsip, sikap dan komitmen," tuturnya.
Rudy bahkan selalu menjadi orang pertama yang membela Megawati jika ada lawan politik. Ia ikut mengisahkan saat digelar Kongres I PDIP pada tanggal 8--10 Oktober 1998. Kala itu, Rudy hadir di barisan terdepan untuk Megawati dalam acara itu.
"Beliau (Megawati) itu tahu persis, setiap kali pergerakan, kalau orang berani dan sebagainya, itu kan dianggap preman, kalau ibu itu. Pokoknya suka berantem itu preman. Di sana kalau ada yang ngerecokin (bikin masalah) Ibu, saya yang ngadepin dan sebagainya. Diajak berantem gitu aja tinggal berani atau tidak gitu," katanya.
"Yang jelas ikut PDI segi lima sampai PDIP itu ketertindasan ini kan belum berakhir, masih terus. Untuk itu, kalau Ibu Mega selalu menyampaikan saya, artinya selalu mengingat peristiwa perjalanan sampai dengan hari ini, itu saya dianggap orang yang suka berantem. Memang iya, tapi saya ndak pernah melakukan hal yang merugikan orang lain," pungkasnya.