Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fenomena Tanah Bergerak di Tegal Rusak 596 Rumah, Ratusan KK Direlokas

Warga membersihkan puing-puing rumah yang rusak akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Warga membersihkan puing-puing rumah yang rusak akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Intinya sih...
  • Fenomena tanah bergerak disebabkan oleh creeping atau rayapan tanah, terjadi akibat curah hujan tinggi dan kondisi tanah labil.
  • Rencana relokasi warga yang rumahnya rusak berat menjadi solusi mutlak, dengan kajian mendalam untuk memastikan lahan baru benar-benar aman.
  • Jumlah pengungsi terus bertambah, meliputi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Bencana juga merusak 36 fasilitas umum dan infrastruktur vital.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tegal, IDN Times – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Tegal mempercepat rencana relokasi bagi ratusan warga yang terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara. Hingga Senin (9/2/2026), tercatat sebanyak 596 rumah warga rusak, dengan 464 unit di antaranya dinyatakan tidak layak huni.

Fenomena pergerakan tanah yang dipicu oleh curah hujan tinggi dan kondisi tanah labil itu juga memaksa lebih dari 2.000 jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

1. Penyebab utama adalah fenomena Creeping

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Agus Sugiharto (kanan) menunjukkan peta wilayah kawasan Gunung Slamet. (Dok. Pemprov Jateng)
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Agus Sugiharto (kanan) menunjukkan peta wilayah kawasan Gunung Slamet. (Dok. Pemprov Jateng)

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto mengatakan, hasil investigasi geologi di lokasi bencana. Menurutnya, kerusakan masif tersebut disebabkan oleh fenomena creeping atau rayapan tanah.

"Jadi kalau yang Tegal itu kalau dari sisi geologi hasil investigasi dan kajian teman-teman itu memang creeping ya. Jadi, lapisan tanahnya itu jenisnya clay atau lempung, kemudian kena air merayap. Pelan-pelan geraknya," kata Agus di Semarang, Senin (9/2/2026).

Agus menambahkan, creeping berbeda dengan likuifaksi. Fenomena ini khas terjadi pada wilayah luas dengan kontur tanah miring, serupa dengan kejadian di Watukumpul (Pemalang) dan Simo (Boyolali).

2. Rencana relokasi warga

Warga berada samping bangunan Pondok Pesantren Al-Adalah yang hancur akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Warga berada samping bangunan Pondok Pesantren Al-Adalah yang hancur akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan menyatakan, potensi pergerakan tanah masih terus terjadi karena adanya keretakan di sejumlah titik. Oleh karena itu, relokasi menjadi solusi mutlak bagi warga yang rumahnya rusak berat.

"Tercatat 596 rumah warga rusak akibat tanah bergerak. Lebih dari 400 rumah di antaranya dinyatakan tidak layak huni dan akan direlokasi," ujar Bergas.

Pihaknya saat ini tengah mengkaji dua lokasi tanah milik Perhutani di Tegal sebagai tempat relokasi hunian tetap (huntap). Kajian mendalam dilakukan untuk memastikan lahan baru tersebut benar-benar aman dari risiko bencana serupa.

3. Data pengungsi dan kerusakan infrastruktur

Warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan bahwa jumlah pengungsi terus bertambah. Hingga data terakhir, terdapat 2.453 jiwa yang mengungsi, terdiri dari 945 laki-laki dan 982 perempuan. Kelompok rentan yang ikut terdampak meliputi:

  • 220 Lansia
  • 3 Ibu Hamil & 3 Ibu Menyusui
  • 179 Anak-anak
  • 40 Balita & 65 Batita

Para pengungsi tersebar di delapan titik, antara lain Majelis Az Zikir wa Rotibain, SD Negeri 2 Padasari, hingga Gedung Serbaguna Desa Penujah.

Selain rumah warga, bencana yang bermula sejak Selasa dini hari (3/2/2026) ini juga merusak 36 fasilitas umum, termasuk sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, serta infrastruktur vital seperti tiga akses jalan, satu jembatan, dan satu bendungan irigasi.

4. Pendataan huntara terus berjalan

Sejumlah warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika terjadi bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Sejumlah warga membawa barang-barang miliknya saat akan mengungsi ketika terjadi bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Dinas Sosial Kabupaten Tegal saat ini memfokuskan pendataan di dua dusun terparah, yakni Dukuh Padareka dan Tigasari di Desa Padasari. Verifikasi data By Name By Address (BNBA) dilakukan untuk penerbitan surat keputusan kebutuhan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap.

"Pendataan ini akan dilaporkan ke Kemensos dan juga BNPB untuk memudahkan pembangunan rumah hunian sementara maupun hunian tetap," tambah Abdul Muhari.

BNPB menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas BPBD setempat mengingat kondisi tanah yang masih labil dan berpotensi membahayakan keselamatan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Fenomena Tanah Bergerak di Tegal Rusak 596 Rumah, Ratusan KK Direlokas

09 Feb 2026, 23:15 WIBNews