Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gagal Panen Akibat Kemarau, Petani di Banyumas Mengaku Rugi Jutaan

Kab. Banyumas
Gagal Panen Akibat Kemarau, Petani di Banyumas Mengaku Rugi Jutaan
Petani di desa Pengadegan, Wangon ,Banyumas mengaku rugi jutaan rupiah akibat gagal panen, Kamis (23/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Intinya Sih
  • Kekeringan panjang di Banyumas menyebabkan hasil panen padi turun hingga 65 persen, membuat banyak petani mengalami kerugian besar dan menyebut kondisi ini sebagai gagal panen.
  • Petani terpaksa membeli air sungai dengan biaya tinggi mencapai jutaan rupiah per musim tanam, namun hasil panen tetap tidak sebanding dengan pengeluaran yang dikeluarkan.
  • Harga gabah turun drastis hingga Rp28 ribu per kandi, pendapatan petani merosot tajam, sementara kewajiban membayar sewa lahan tetap harus dipenuhi meski mengalami gagal panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyumas, IDN TimesMusim kemarau 2026 membawa dampak berat bagi petani padi di Desa Pengadegan, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas.

Kekeringan yang berkepanjangan membuat hasil panen merosot hingga sekitar 65 persen, sehingga banyak petani harus menanggung kerugian puluhan juta rupiah.

1. Hasil panen turun drastis akibat kekeringan

Seorang petani mengenakan topi dan baju lengan panjang sedang berada di tengah sawah kering di bawah langit cerah.
Pumedi, salah satu petani di desa Pengadegan sebut kerugian akibat kekeringan, Kamis (23/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Salah seorang petani, Pumedi kepada IDN Times, Kamis (23/7/2026), mengaku panen tahun ini jauh dari harapan. Jika biasanya satu lahan mampu menghasilkan sekitar 45 karung gabah, kini hanya memperoleh sekitar 10 kandi dengan bobot yang juga lebih ringan. "Ya termasuk boleh dikatakan gagal lah,"kata Pumedi.

Menurutnya, sawah di wilayah tersebut masih mengandalkan air hujan. Saat awal musim hujan petani sudah mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan dan menanam padi. Namun ketika tanaman memasuki masa pertumbuhan, hujan justru berhenti sehingga tanaman kekurangan air.

"Biaya sudah keluar banyak untuk ongkos traktor dan tanam, tetapi saat masa pertumbuhan justru tidak ada hujan,"ujarnya.

2. Biaya irigasi membengkak, hasil panen tak sebanding

Hamparan sawah padi mengering di bawah langit cerah dengan latar perbukitan hijau, menunjukkan gagal panen akibat kekurangan air.
Salah satu sawah padi seluas 1 bauw yang gagal panen akibat mahalnya biaya mengairi sawah bila tidak terjadi hujan, Kamis (23/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Untuk menyelamatkan tanaman, sebagian petani memilih membeli air dari sungai menggunakan pompa. Namun biaya yang harus dikeluarkan cukup besar.

Pumedi menjelaskan biaya penyedotan air mencapai Rp30 ribu per jam. Dalam sekali penyiraman dibutuhkan sekitar 15 jam, sementara penyiraman harus dilakukan hingga tiga kali dalam satu musim tanam.

Total biaya pengairan bisa mencapai sekitar Rp1,35 juta, belum termasuk ongkos traktor sekitar Rp360 ribu dan kebutuhan pupuk yang mencapai ratusan ribu rupiah.

"Biayanya besar, tetapi hasil panennya tetap tidak sesuai harapan," katanya.

3. Pendapatan anjlok, petani tetap harus membayar sewa lahan

Tiga petani duduk di sawah Banyumas dengan mesin perontok padi di belakang mereka dan tumpukan jerami di atas terpal oranye.
Sedihnya para petani di Banyumas walau gagal panen tetap harus berkewajiban bayar sewa lahan milik desa, Kami (23/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Tidak hanya produksi yang turun, harga gabah juga ikut melemah. Jika pada kondisi normal nilai jual gabah mencapai sekitar Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kandi, kini turun menjadi sekitar Rp28 ribu hingga Rp30 ribu dengan kualitas yang lebih rendah.

Akibatnya, pendapatan petani merosot tajam. Dari yang biasanya bisa memperoleh sekitar Rp15 juta setiap panen, kini hanya sekitar Rp2 juta.

Kondisi semakin berat karena sebagian besar lahan yang digarap merupakan lahan sewa. Meski mengalami gagal panen, petani tetap memiliki kewajiban membayar biaya sewa kepada pemilik lahan. "Kalau dihitung seperti orang bisnis, ya rugi sekali,"ungkap Pumedi.

Ia bahkan menyebut hasil panen dari satu bau sawah tahun ini nyaris tidak mampu menutup biaya panen.

4. Petani berharap pompa tenaga surya diperluas

Bangunan kecil dengan panel surya rusak di tengah area persawahan kering dengan latar rumah dan pepohonan di bawah langit cerah.
Pengairan dengan sistem tenaga surya yang kini tidak bisa diandalkan karena rusak sejak 10 tahun lalu, Kamis (23/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Di tengah kondisi tersebut, warga berharap keberadaan Pengadaan Air Rasito Pengadegan melalui Pompa Air Tenaga Surya (PATS) dapat diperluas.

Teknologi tersebut memanfaatkan energi matahari untuk memompa air dari sungai menuju lahan pertanian sehingga petani tidak lagi bergantung pada bahan bakar maupun listrik.

Namun menurut warga, cakupan layanan PATS saat ini baru sekitar 60 persen sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh lahan pertanian, terutama saat musim kemarau panjang.

Petani berharap pembangunan jaringan irigasi berbasis pompa tenaga surya dapat diperluas agar risiko gagal panen akibat kekeringan dapat ditekan pada musim tanam berikutnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More