Gerakan Ekonomi Sirkular, Ganjar Libatkan Para Pelajar Kelola Sampah Anorganik

Semarang, IDN Times - Pengelolaan sampah dengan menggerakkan pola ekonomi sirkular mulai digalakan di Jawa Tengah. Para pelajar dari tingkat SD sampai sekolah adiwiyata mulai dilibatkan untuk mengelola sampah anorganik dari daerah hulu sampai ke hilir.
1. Anak berkebutuhan khusus diajari menanam dan olahraga sampah

Saat menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Kabupaten Tegal, Selasa (4/7/2023), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan akan menitikberatkan perhatian kepada pelajar mengingat edukasi tentang persoalan dan pengelolaan sampah bisa dimulai dari mereka.
Dimulai dari bagaimana mencintai lingkungan, bagaimana melakukan aksi nyata seperti menanam pohon, hingga membuang sampah dari rumah.
"Aktivitas dari teman-teman aktivis sampah tadi mereka bersih-bersih, mereka mengedukasi. Mereka yang berkebutuhan khusus diajari menanam dan mengolah sampah. Diajari mengelola sampah agar memiliki nilai tambah dengan ekonomi sirkular," tutur Ganjar.
2. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos

Menurutnya, ada beberapa contoh pengelolaan sampah yang dapat direplikasi sehingga gerakan besar untuk menyelesaikan persoalan sampah bisa dilakukan. Termasuk pengembangan ekonomi sirkular.
Salah satu gerakan ekonomi sirkular yang bisa dicontoh yaitu di Kabupaten Kudus. Pengelolaan sampah organik di Kudus dengan mengolah menjadi kompos. Sedangkan untuk sampah anorganik bisa dipilah untuk dijual.
"Pengelolaannya mulai bagus. Seperti yang ada di Kudus tadi dicontohkan (sampah) yang organik diselesaikan di rumah dan tidak boleh keluar dari pekarangan. Mereka diajari dengan komposter. (Sampah) yang bisa keluar itu yang anorganik, itu pun dipilah dan bisa dijual, maka ini punya nilai tambah," bebernya.
3. Ada 6,3 juta ton sampah di Jateng

Adapun potensi ekonomi sirkular di Jawa Tengah dapat dikatakan tinggi melihat banyaknya sampah yang mencapai sekitar 6,3 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 17,8 persennya adalah sampah plastik.
"Kalau bisa dikelola dengan baik dengan ekonomi sirkular, bisa menjadi nilai tambah yang besar. Ini menurut saya menjadi satu tren dan biasanya anak muda senang. Maka mulailah mereka tadi ada yang buat aplikasi dan sebagainya," lanjut Ganjar.
4. Dorong millennial bikin aplikasi sampah

Lebih jauh lagi, Ganjar mengajak masyarakat untuk semakin peduli dengan lingkungan. Ia juga mengingatkan tentang perubahan iklim global dan potensi kemarau panjang.
Selain tentang bagaimana menjaga ketahanan pangan, maka perlu juga diperhatikan bagaimana sampah tidak menimbulkan penyakit. Untuk itu, pengelolaan sampah ini menjadi penting.
Bila perlu, katanya dibuatkan aplikasi untuk mempermudah pengelolaan sampah. Penggunaan aplikasi sudah dilakukan di Banyumas dengan aplikasi Jeknyong. Dengan aplikasi Jeknyong maka bisa memudahkan penjemputan sampah yang sudah dipilah dari masyarakat, kemudian dibawa ke pengolahan.
“Ini anak-anak muda sekarang yang keren menurut saya untuk bisa kami dorong. Tapi ini harus menjadi gerakan besar sehingga menjadi kekuatan yang sangat efektif untuk menyelesaikan persoalan sampah. Banyumas sudah punya Jeknyong, itu aplikasi bagus.” kata Ganjar.



















