Harga Beras Naik 2,5 Persen, Bulog Jateng Siapkan 90 Ribu Bantuan

- Harga beras di sejumlah pasar Jawa Tengah naik rata-rata 2,5 persen; beras medium dan premium melampaui HET, sementara SPHP relatif stabil di Rp60.000-Rp62.000 per 5 kilogram.
- Bulog Jateng menyiapkan sekitar 90 ribu bantuan pangan untuk Juli-September 2026 menghadapi El Nino, dengan stok beras medium sekitar 300 ribu ton dan proyeksi sisa 200 ribu ton akhir tahun.
- Gubernur Ahmad Luthfi meminta satgas pangan, gerakan pangan murah, dan intervensi pasar diperbanyak; Dishanpan mencatat 1.083 kegiatan GPM dengan omzet Rp24,9 miliar.
Perum Bulog Jawa Tengah mengklaim saat ini menambah jumlah bantuan pangan selama tiga bulan sebagai antisipasi dampak dari kemarau panjang akibat siklus El Nino.
Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Jawa Tengah, Gandi Prarista mengatakan, penyaluran beras SPHP di wilayahnya sudah 100 persen.
Penyerapan beras juga sudah 100 persen dari target.
Untuk antisipasi El Nino, ada tambahan target dari Bulog pusat untuk penyaluran 90 ribuan bantuan pangan selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September 2026.
"Secara umum ketersediaan beras masih cukup. Stok Bulog Jateng ada sekitar 300 ribu ton, dikurangi bantuan pangan itu maka akhir tahun masih ada 200 ribu ton, ini untuk beras medium. Masih ada untuk beras premium," ujarnya saat audiensi dengan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Kepala Dishanpan Jawa Tengah di Gubernuran Semarang, Selasa (8/9/2026).
Table of Content
1. Ahmad Luthfi siapkan satgas pangan

Agus, Pemilik Toko Beras 20 Dargo menunggu para pelanggannya. (IDN Times/Fariz Fardianto) Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi meminta kepada dinas terkait agar persediaan beras bisa terdistribusi lancar le konsumen. Sebab, berdasarkan hasil pemantauan harga pada 2–6 September 2026 menunjukkan terjadi kenaikan harga beras di tingkat pengecer.
Karenanya, Luthfi menginstruksikan kepada Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) dan Bulog setempat untuk memperbanyak gerakan pangan murah dan intervensi pasar.
"Stok kita masih ada. Untuk antisipasi kenaikan harga beras, siapkan Satgas dan lakukan dengan cara yang sebelumnya seperti gerakan pangan murah, penyaluran bantuan pangan, penyaluran beras SPHP, dan memperbanyak kios pangan murah," kata Luthfi.
2. Harga besar di pasar tradisional naik 2,5 persen

Ilustrasi proses serap gabah petani oleh Bulog Yogyakarta. (Dok. Humas Bulog Yogya) Pantauan di sejumlah pasar sudah dilakukan di Pasar Johar Semarang, Pasar Raya Kota Salatiga, Pasar Bandarjo Ungaran, Pasar Projo Ambarawa, Pasar Kendal, dan Pasar Jungke Karanganyar.
Hasil pantauan menunjukkan terjadi kenaikan harga beras rata-rata sebesar 2,5 persen.
Di antaranya beras medium non-SPHP, harga naik 0,74 persen sampai 11,11 persen di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), dengan harga sekitar Rp14.000 sampai Rp15.000 per kilogram. Beras premium naik 0,67 persen sampai 14,09 persen di atas HET, dengan harga sekitar Rp15.000 sampai Rp17.000 per kilogram. Beras SPHP, harganya relatif stabil, yaitu sekitar Rp60.000 sampai Rp62.000 per kemasan 5 kilogram.
Penyebab kenaikan harga beras diduga karena harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani rata-rata Rp7.300 per kilogram, sedangkan Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat penggilingan rata-rata Rp8.666 per kilogram. Ditengarai distributor, sub-distributor, grosir, agen, hingga pengecer menahan penjualan karena tidak mau mengalami kerugian, akibat kenaikan harga GKP dan terhimpit dengan ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditentukan pemerintah.
"Jangan sampai kenaikan harga beras menyulitkan masyarakat dan memicu inflasi. Segera lakukan intervensi, koordinasi dengan Bulog," tegas Luthfi.
3. Sudah ada seribu lebih gerakan pangan murah di Jateng

Dalam rangka mewujudkan misi swasembada pangan Perum Bulog Kanwil Jawa Barat terus melakukan penyerahan Gabah Beras petani. (Dok. Bulog) Kepala Dishanpan Jawa Tengah, Widi Hartanto menambahkan, pemantauan harga pasar terus dilakukan dengan dinas terkait. Operasi pasar juga teruss dilakukan untuk menjaga distribusi dan pergerakan beras. Salah satunya dengan memberikan bantuan pangan dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
"GPM saat ini sudah 1.083 kali dengan omzet Rp24,9 miliar," ujar Widi.
























