Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gudang Beras BULOG jadi Kelas Merawat Akal Sehat Pangan Generasi Alpha

Gudang Beras BULOG jadi Kelas Merawat Akal Sehat Pangan Generasi Alpha
Proses pengemasan beras premium di Sentra Penggilingan Padi Bulog di Kendal, Jawa Tengah. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • Program Eduwisata Pangan BULOG mengajak pelajar melihat langsung proses pengolahan beras, memperkenalkan rantai produksi pangan dari sawah hingga gudang untuk menumbuhkan apresiasi terhadap kerja petani dan ketahanan pangan nasional.
  • Inisiatif ini juga menjadi strategi menghadapi krisis regenerasi petani dan melawan disinformasi soal stok beras, dengan transparansi data yang menunjukkan ketersediaan cadangan mencapai jutaan ton di seluruh Indonesia.
  • Kegiatan eduwisata turut menanamkan kesadaran lingkungan pada generasi muda tentang bahaya food loss dan food waste, mendorong perubahan perilaku agar lebih menghargai setiap butir nasi yang dikonsumsi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bagi kebanyakan anak muda yang tumbuh di perkotaan, nasi adalah santapan serba praktis. Untuk memasaknya, mereka hanya perlu menekan tombol pada penanak elektrik dan menunggu matang. Jarang terlintas di benak mereka mengenai proses panjang di balik butiran putih tersebut—mulai dari peluh petani yang merawat padi berbulan-bulan, bisingnya mesin di pabrik penggilingan, hingga upaya negara memastikan beras selalu tersedia dengan harga terjangkau.

Namun, pemahaman sederhana itu perlahan berubah pada Selasa (21/4/2026).

Tepat pada peringatan Hari Kartini, puluhan pelajar berseragam putih abu-abu dari SMA Negeri 1 Semarang mengunjungi Sentra Penggilingan Padi (SPP) dan gudang milik Perum BULOG di Kabupaten Kendal dan Kota Semarang. Begitu melangkah masuk ke area pabrik yang berlokasi di Bugel Wetan, Desa Pucangrejo, Kecamatan Gemuh, mereka langsung disambut deru mesin husker (pemecah kulit gabah) berkapasitas 6 ton per jam dan aroma khas sekam yang tercium jelas.

Hari itu, mereka tidak sedang menjalani kegiatan wisata sekolah biasa. Para siswa diajak mengamati dari dekat tahapan pengolahan gabah yang baru dipanen dari hamparan sawah, hingga wujudnya berubah menjadi beras bersih yang siap dimasak.

“Selama ini kami hanya belajar dari buku pelajaran di sekolah. Kami tidak pernah menyangka kalau proses mengolah beras itu ternyata sangat panjang dan melibatkan mesin sebesar ini,” kata salah satu siswi Kelas X SMAN 1 Semarang, Jessica, yang matanya tak lepas memperhatikan aliran beras di atas konveyor.

Pengalaman nyata yang disaksikan Jessica dan kawan-kawannya itu merupakan bagian dari program Eduwisata Pangan yang dijalankan oleh BULOG mulai April 2026. Program tersebut dirancang strategis untuk menyentuh berbagai tingkatan pendidikan.

Benar saja, tiga hari berselang, tepatnya pada Jumat (24/4/2026), rombongan berbeda mendatangi Gudang BULOG Sokokulon di Kabupaten Pati. Waktu itu, pesertanya adalah 23 siswa dari SMK Negeri Jawa Tengah jurusan Agribisnis dan Pengolahan Hasil Pertanian (APHP).

Jika bagi pelajar SMAN 1 Semarang kunjungan tersebut membuka wawasan soal proses ketersediaan pangan, bagi siswa-siswi SMK, lorong fasilitas logistik itu menjadi cerminan langsung dari dunia kerja yang akan mereka jalani kelak.

Keseriusan itu langsung terasa begitu mereka melangkah masuk ke dalam bangunan di Jalan Raya Pati-Kudus Kilometer 5, Desa Sokokulon, Kecamatan Margorejo, yang udaranya dijaga tetap sejuk. Di hadapan karung-karung beras yang ditumpuk presisi, Maulida Nia Sinta, salah satu siswi SMK, tampak sibuk mencatat. Matanya teliti mengamati fungsi deretan palet kayu yang dijadikan alas penyangga agar beras tidak bersentuhan langsung dengan lantai.

“Di sekolah, kami belajar teori tentang tata cara menyusun barang dan mengatur sirkulasi udara. Di sini, kami mempraktikkannya. Kami juga diajari menggunakan alat pengukur kelembapan agar kualitas beras tidak turun atau diserang kutu,” cerita Maulida antusias.

Bagi Maulida dan rekan satu jurusannya, memegang alat grain moisture tester (pengukur kadar air) dan membedakan butiran beras utuh dengan yang patah memberikan pemahaman konkret. Yakni, mereka melihat langsung standar kualitas ketat yang diterapkan oleh Perum BULOG.

Menjawab Krisis Regenerasi dan Disinformasi

Sutinah (65), petani perempuan memanen padi di Desa Candiretno, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Senin (22/12/2025). (IDN Times/Dhana Kencana)
Sutinah (65), petani perempuan memanen padi di Desa Candiretno, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Memasuki usianya yang ke-59 tahun, Perum BULOG menyadari, upaya menjaga ketersediaan pangan tidak bisa lagi hanya diselesaikan dengan menambah kapasitas gudang atau membeli mesin baru. Ada tantangan demografis yang jauh lebih serius terkait siapa yang akan menanam padi di masa depan.

Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 (ST2023) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani di Indonesia anjlok 7,42 persen. Mirisnya, mayoritas pekerja yang tersisa di sektor vital tersebut sudah berusia di atas 55 tahun.

Fakta statistik itulah yang mendasari pentingnya program edukasi ke pabrik dan sentra pengolahan. Generasi muda perlu didekatkan kembali dengan sektor hulu pertanian agar mata rantai produksi tidak terputus akibat krisis regenerasi.

Di sisi lain, pelajar yang sebagian besar adalah generasi alpha (lahir 2010–2025) tumbuh di era perputaran informasi digital yang masif. Alhasil, isu simpang siur atau hoaks mengenai lonjakan harga atau kelangkaan bahan pokok yang mudah menyebar di media sosial, kerap mereka percayai sehingga memicu kepanikan belanja (panic buying) di tengah masyarakat.

Merespons situasi tersebut, BULOG mengambil langkah proaktif melalui transparansi secara terbuka.

Berdiri di hadapan para siswa yang terpukau melihat dinding karung yang menggunung hingga ketinggian enam meter, Pemimpin Wilayah (Pimwil) BULOG Kanwil Jawa Tengah, Sri Muniati, memberikan penjelasan berbasiskan data.

"Kalian tidak perlu khawatir dengan berita simpang siur di luar sana. Saat ini, pemerintah mengamankan stok beras hampir 5 juta ton di seluruh Indonesia. Khusus di Jawa Tengah sendiri, ketersediaan kita mencapai 355 ribu ton," urai Sri Muniati saat mendampingi kunjungan siswa SMAN 1 Semarang di kompleks pergudangan

Pesan pengamanan stok juga tersampaikan di Pati. Pemimpin Cabang BULOG Pati, Ashville Nusa Panata menyebutkan, pihaknya menyiagakan cadangan 56 ribu ton beras khusus untuk wilayah Karesidenan Pati—meliputi Pati, Kudus, Jepara, Rembang, dan Blora.

Bagi para pelajar, deretan angka statistik itu sudah tidak terasa abstrak atau menjemukan. Hamparan karung yang menjulang di Kendal dan Pati menjadi jawaban sekaligus menyadarkan mereka bahwa rencana besar negara—seperti target mengamankan 4 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada tahun 2026—bukan lagi janji di atas kertas. Sebab, mereka melihat sendiri bagaimana puluhan hingga ratusan ribu ton beras cadangan tersebut terus dirawat, diawasi mutunya, serta disiagakan penuh untuk disalurkan kapan pun saat masyarakat membutuhkan.

Menjaga Keseimbangan Neraca Pasar

IMG_20251219_172055.jpg
Ilustrasi Bulog. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Lebih jauh lagi, wisata edukasi itu memahamkan siswa pada lapisan pekerjaan BULOG yang sering luput dari perhatian publik. Yakni, menjaga ketahanan nasional yang tidak lagi hanya soal memastikan gudang terisi penuh.

Kini, BULOG memikul beban ganda merawat neraca keadilan: mencegah kerugian di tingkat petani sekaligus memastikan daya beli konsumen tetap terjangkau.

Saat panen raya tiba dan pasokan melimpah, harga gabah rentan anjlok. Pada kondisi tersebut, lembaga dengan 26 Kantor Wilayah (Kanwil) di seluruh Indonesia itu menyerap hasil panen sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Intervensi tersebut berfungsi sebagai pelindung ekonomi agar petani tetap meraup keuntungan wajar sebagai modal bercocok tanam di musim berikutnya. Penyerapan itu makin optimal di tengah cuaca kemarau, karena kadar air gabah yang lebih rendah membuat proses pengolahan jauh lebih cepat dengan mutu prima.

Sebaliknya, ketika musim paceklik memicu lonjakan harga di pasar, BULOG bertindak membongkar stok cadangan resmi dan menyalurkannya dengan harga terjangkau. Hal itu menjamin keluarga di wilayah perkotaan tetap mampu menghidangkan makanan pokok.

Tugas ganda berporos keseimbangan itu menarik perhatian pengamat kebijakan ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Haryono Rinardi. Ia menilai, inisiatif membawa pelajar untuk observasi lapangan adalah langkah literasi yang tajam, mengingat perdebatan masalah pangan di era digital sering terjebak pada narasi instan, yang sering melupakan akar sejarahnya.

"Sejarah itu bukan untuk romantisme masa lalu. Sejarah memberi kita cara berpikir kritis agar lebih bijak dalam memahami kebijakan ekonomi hari ini dan dampaknya bagi masa depan,” ungkapnya, dilansir dari laman resmi undip.ac.id, Minggu (17/5/2026).

Melalui edukasi lapangan, generasi muda diajak untuk memahami bahwa menjaga stabilitas harga di hilir dan keuntungan petani di hulu adalah tanggung jawab ganda BULOG.

Melawan Kemubaziran Pangan

Pengetahuan yang dibawa pulang para siswa SMAN 1 Semarang dan SMKN Jateng diharapkan berdampak lebih dari sekadar urusan stok beras. Kunjungan lapangan itu sekaligus menjadi titik tolak menekan perilaku kemubaziran pangan.

Isu itu penting. Mengingat kajian Kementerian PPN/Bappenas (2021) mencatat, Food Loss and Waste (FLW) atau susut dan sisa pangan di Indonesia mencapai 23–48 juta ton per tahun.

Pemborosan yang setara 115–184 kilogram per kapita itu merugikan ekonomi negara hingga Rp551 triliun setiap tahunnya.

Melihat tingginya angka tersebut, Direktur Eksekutif Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI), Amalia Wulansari, menilai program Eduwisata Pangan BULOG relevan sebagai pintu masuk literasi lingkungan.

"Selama ini, remaja cenderung membuang makanan begitu saja karena hanya melihatnya sebagai produk akhir di piring. Saat melihat langsung betapa mahalnya proses penyediaan pangan di gudang atau pengolahan BULOG—mulai dari menyerap gabah hingga merawat suhu ruang—cara pandang mereka bisa berubah," ujar perempuan yang akrab disapa Lia itu ketika dihubungi IDN Times, Senin (18/5/2026).

Selain itu, eduwisata tersebut ikut membuka mata siswa mengenai food loss (susut pangan). Ia memberi logika sederhana tapi menohok: untuk apa negara bersusah payah mengamankan cadangan pangan jika di tingkat konsumen, makanan tersebut justru disia-siakan (food waste)?

"Berbeda dengan food waste yang terjadi di meja makan, food loss adalah susut selama rantai produksi dan distribusi sebelum beras sampai ke pembeli. Susut di tengah jalan ini sering luput dari perhatian karena rantai pasok komoditas beras memang cukup panjang," jelas Lia.

Berbekal observasi langsung dari ketelitian petugas menata sirkulasi udara dan mengukur kadar air di gudang, para siswa menyadari, BULOG terus bekerja keras menekan angka food loss di tingkat penyimpanan.

Lia optimistis, pengalaman visual dari hulu ke hilir tersebut akan membekas kuat di benak para siswa. Ketika anak-anak itu kembali ke rumah dan berkumpul di meja makan bersama keluarga, sepiring nasi putih tidak lagi sekadar pengisi perut, melainkan wujud nyata dari kerja keras banyak pihak.

Pada akhirnya, Perum BULOG sudah membuktikan bahwa eksistensi mereka bukan hanya menumpuk logistik di dalam gudang. Melalui literasi yang membumi, institusi yang dinakhodai Ahmad Rizal Ramdhani itu ikut menjalankan misi luhur: mengantarkan kebaikan dari hulu ke hilir.

Maka, kemandirian pangan sebuah negara sejatinya tidak selalu diukur dari luasnya hamparan sawah. Kedaulatan itu akan jauh lebih kokoh ketika generasi penerusnya mengerti, menghargai, dan siap mengawal pangan demi masa depan—sebuah langkah konkret yang bisa mereka mulai dari atas piring mereka sendiri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More