Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Inverci, Bihun dari Bekatul dan Ampas Tahu yang Tembus Final Kompetisi Dunia
Ilustrasi bihun (freepik.com/freepik)
  • Lima mahasiswa FTP Soegijapranata Catholic University menciptakan bihun bernama INVERCI dari bekatul dan ampas tahu, berhasil lolos ke final kompetisi DSDC 2026 di Chicago, Amerika Serikat.
  • Produk inovatif ini memanfaatkan fermentasi ragi tempe untuk meningkatkan kandungan protein dan serat pangan, menjadikannya lebih bergizi dibandingkan bihun biasa tanpa mengubah cita rasa khas Indonesia.
  • INVERCI mampu memenuhi hingga 90% kebutuhan serat harian dan lebih dari separuh kebutuhan protein orang dewasa, sekaligus mendukung ekonomi sirkular dengan mengurangi limbah industri pangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Tak banyak yang tahu bila bekatul yang umumnya dipakai pakan ternak, justru punya kandungan nutrisi yang tinggi. Bahkan, lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Soegijapranata Catholic University (SCU) sukses mengolah bihun berbahan dasar bekatul dan campuran ampas tahu.

Produk bihun ini nantinya dipamerkan di ajang Developing Solutions for Developing Countries (DSDC) Product Development Competition 2026.

Ajang tersebut dihelat di IFT Food Improved by Research, Science, and Technology (FIRST) di McCormick Place Convention Center, Chicago, Amerika Serikat pada 12-15 Juli 2026.

Tim FTP SCU masuk final ajang DSDC di Amerika Serikat

Tim mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Soegijapranata Catholic University (SCU) menjadi 1 dari 6 finalis dalam Developing Solutions for Developing Countries (DSDC) Product Development Competition 2026. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Tim FTP SCU yang beranggotakan lima mahasiswa prodi Teknologi Pangan, Caroline Amaris, Karyn Garcia Hartono, Michael Natanael Setiawan, Jonathan Halim Sugianto, dan Karla Katina berkesempatan mewakili timnya memaparkan risetnya pada babak final pada ajang tersebut.

Sebelumnya, kelima mahasiswa telah berhasil bersaing dengan lebih dari 30 tim mahasiswa dari berbagai negara sejak dimulainya kompetisi pada 1 Februari 2026.

“Hanya 6 tim terbaik yang diundang ke Chicago untuk mempresentasikan hasil risetnya secara langsung. Mereka mendapatkan kesempatan untuk memperluas jejaring dengan ribuan praktisi dan peneliti dari perusahaan pangan dunia yang hadir dalam ajang tersebut, termasuk Cargill, PepsiCo, dan berbagai perusahaan global lainnya,” kata Dekan FTP SCU, Dr. Inneke Hantoro, S.T.P., M.Sc kepada IDN Times, Jumat (17/7/2026).

Bihun bahan bekatul dan ampas tahu punya kandungan serat pangan tinggi

ilustrasi bihun (pexels.com/Katerina Holmes)

Jonathan menjelaskan timnya telah mengembangkan bihun beras bernutrisi dengan memanfaatkan bekatul dan ampas tahu, dua produk sampingan industri pangan yang selama ini menurutnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Lebih lanjut, Jonathan menambahkan bahwa kedua bahan tersebut sebenarnya memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Namun demikian, pemanfaatannya masih terhambat oleh faktor anti nutrisi, rendahnya ketercernaan, serta tingginya kandungan serat tidak larut. Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi persoalan kekurangan gizi dan stunting yang sepenuhnya belum teratasi.

“Berangkat dari sana, kami membuat bihun beras yang diperkaya nutrisi melalui fermentasi bekatul dan ampas tahu menggunakan ragi tempe. Proses ini memungkinkan kedua by-product tersebut diubah menjadi sumber protein dan serat pangan yang jauh lebih tinggi dibandingkan bihun pada umumnya,” jelas Jonathan.

Makan bihun bisa penuhi serat harian

ilustrasi merebus bihun (pexels.com/Katerina Holmes)

Selain pada peningkatan nilai gizinya, produk garapan Jonathan dan timnya ini juga mempunyai cita rasa dan tekstur yang tetap familiar bagi lidah masyarakat Indonesia.

“Jadi tidak perlu mengubah kebiasaan makan untuk mendapatkan manfaat gizinya. Satu porsi saja sudah mampu memenuhi hampir 90 persen kebutuhan serat harian dan lebih dari separuh kebutuhan protein orang dewasa,” sambungnya.

Kelebihan lain yang ditawarkan produk bernama “INVERCI” ini adalah harganya yang lebih terjangkau dibandingkan bihun pada umumnya yang tersebar di pasaran.

Pemanfaatan bahan baku pun turut mendukung penerapan ekonomi sirkular dengan mengurangi limbah industri pangan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Curated For You

Editorial Team

Related Article