Kader Posyandu Dongkrak Indeks Pemberdayaan Gender di Kota Semarang
- Indeks Pemberdayaan Gender Kota Semarang mencapai 78,71 persen pada 2025 berkat kontribusi besar sekitar 16 ribu kader posyandu yang aktif menjaga kesehatan masyarakat secara sukarela.
- Pemerintah memperkuat komitmen kesetaraan melalui pembentukan 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak serta gerakan lingkungan Semarang Wegah Nyampah yang menggerakkan ekonomi hingga Rp2,2 miliar.
- Wali Kota Agustina Wilujeng menegaskan perempuan kini menjadi subjek utama perubahan, dengan dorongan peningkatan kapasitas dan peran aktif di berbagai bidang untuk menjaga tren positif pemberdayaan gender.
1. Kuatnya peran perempuan dalam pembangunan

Hal itu mencerminkan semakin kuatnya peran perempuan dalam berbagai sektor pembangunan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, tingginya capaian tersebut tidak lepas dari kontribusi nyata perempuan di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi berbasis masyarakat.
Salah satu pilar utama adalah peran sekitar 16 ribu kader posyandu yang secara sukarela berkontribusi dalam menjaga kesehatan masyarakat. Praktik ini bahkan mendapat apresiasi dari California State University sebagai contoh penguatan peran masyarakat berbasis komunitas.
2. Diperkuat 177 kelurahan ramah perempuan dan peduli anak
“Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya. Ini menjadi contoh bagaimana rasa tanggung jawab sosial bisa tumbuh dari masyarakat,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Selain sektor kesehatan, kontribusi perempuan juga terlihat dalam gerakan pengelolaan lingkungan Semarang Wegah Nyampah melalui bank sampah. Dengan keterlibatan aktif kader PKK dan komunitas, aktivitas ini turut mendorong perputaran ekonomi masyarakat hingga mencapai Rp2,2 miliar.
Komitmen tersebut juga diperkuat melalui pembentukan 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak yang tersebar di seluruh wilayah Kota Semarang. Kelurahan menjadi garda terdepan dalam memastikan perempuan dan anak mendapatkan perlindungan sekaligus ruang untuk berkembang.
3. Perempuan sebagai subjek utama perubahan
Capaian Indeks Pemberdayaan Gender ini menjadi indikator bahwa perempuan di Kota Semarang tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga telah berperan sebagai subjek utama perubahan.
“Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh, dan Kota Semarang akan semakin hebat,” tegas Agustina.
Melalui momentum ini, Pemerintah Kota Semarang terus mendorong perempuan untuk meningkatkan kapasitas, berani mengambil peran, serta memperluas kontribusi di berbagai bidang guna menjaga tren positif pemberdayaan gender di masa mendatang.

















