Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemarau Memuncak, 5 Kecamatan di Semarang Terpantau Alami Krisis Air
Ilustrasi krisis air bersih. IDN Times/Asrhawi Muin
  • BPBD Kota Semarang memantau lima kecamatan—Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, dan Banyumanik—karena berpotensi mengalami krisis air bersih yang meningkat pada Agustus-September.
  • BPBD menyiapkan 900 ribu liter air bersih dan telah menyalurkan sekitar 48 ribu liter; terbaru, 5.000 liter dikirim ke Meteseh untuk 36 kepala keluarga.
  • Warga yang kesulitan air bersih dapat mengajukan dropping melalui RT dan kelurahan kepada BPBD, atau langsung menghubungi layanan darurat 112.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lima kecamatan di Kota Semarang dipantau BPBD karena berpotensi mengalami krisis air bersih selama puncak musim kemarau. BPBD telah menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak dan menyiapkan cadangan 900 ribu liter.
  • Who?
    BPBD Kota Semarang, Pemerintah Kota Semarang, serta warga di Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, dan Banyumanik terdampak atau berpotensi terdampak kekurangan air bersih.
  • Where?
    Pemantauan dilakukan di Kecamatan Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, dan Banyumanik, Kota Semarang. Bantuan terbaru dikirim ke RT 7 RW 10, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang.
  • When?
    Tekanan ketersediaan air diperkirakan meningkat pada Agustus hingga September 2026. Hingga 18 Agustus 2026, BPBD telah menyalurkan sekitar 48 ribu liter air bersih.
  • Why?
    Kelima kecamatan menjadi prioritas karena rutin berpotensi kekurangan air bersih setiap musim kemarau. Puncak kemarau diperkirakan meningkatkan kebutuhan air bersih warga hingga September.
  • How?
    BPBD menyalurkan air menggunakan tangki dan menerima pengajuan melalui RT, lalu kelurahan meneruskannya kepada BPBD. Warga juga dapat menghubungi layanan darurat 112 untuk meminta bantuan air bersih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Musim kemarau membuat lima kecamatan di Semarang bisa kekurangan air bersih. Tempatnya Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, dan Banyumanik. BPBD sudah menyiapkan 900 ribu liter air. Mereka juga sudah mengirim air ke warga di Meteseh. Warga yang butuh air bisa minta lewat RT atau menelepon 112.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah meningkatnya risiko kekeringan, kesiapan BPBD Kota Semarang menunjukkan adanya langkah antisipatif yang terukur. Cadangan 900 ribu liter air, distribusi yang telah berjalan, serta jalur pengajuan melalui RT, kelurahan, dan layanan 112 memberi warga di wilayah rawan akses yang jelas untuk memperoleh bantuan air bersih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times – Ancaman kekeringan mulai menjadi perhatian serius di Kota Semarang. Lima kecamatan masuk prioritas pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) karena berpotensi mengalami krisis air bersih saat puncak musim kemarau.

1. Krisis air diprediksi meningkat Agustus-September

Ilustrasi krisis air. (Pexels.com/Francesco Ungaro)

Kelima wilayah tersebut yakni Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, dan Banyumanik.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Patrick Bagus Yudhistira mengatakan, wilayah-wilayah tersebut secara rutin menjadi perhatian setiap musim kemarau karena memiliki potensi kekurangan air bersih.

“Lima kecamatan. Wilayah tersebut tersebar di Kecamatan Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, Banyumanik yang selama ini menjadi daerah prioritas pemantauan setiap musim kemarau,” ungkapnya, Kamis (20/8/2026).

BPBD memperkirakan tekanan terhadap ketersediaan air bersih akan semakin besar memasuki Agustus hingga September, yang menjadi periode rawan puncak musim kemarau.

Untuk di Tembalang, pemantauan mencakup Kelurahan Rowosari, Meteseh, Bulusan, dan Mangunharjo.

Kemudian, di Kecamatan Ngaliyan terdapat Kelurahan Wonosari. Sementara wilayah Gunungpati mencakup Kelurahan Cepoko dan sebagian Sukorejo.

Adapun, di Banyumanik, salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kelurahan Jabungan.

“Diperkirakan akan meningkat memasuki Agustus hingga September,” ujar Patrick.

2. BPBD siapkan 900 ribu liter air

Ilustrasi dropping air bersih. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi salah satu langkah antisipasi yang disiapkan Pemkot Semarang. Untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya permintaan air bersih, BPBD Kota Semarang telah menyiapkan 900 ribu liter air.

Namun, distribusi bantuan sudah berjalan. Hingga Selasa (18/8/2026), sekitar 48 ribu liter air bersih telah disalurkan ke sejumlah wilayah yang terdampak kemarau.

Terbaru, BPBD mengirimkan satu tangki berkapasitas 5.000 liter ke RT 7 RW 10 Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang.

Air tersebut diperuntukkan bagi 36 kepala keluarga yang terdampak kekeringan. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih mulai muncul di tingkat permukiman, sementara musim kemarau masih berlangsung.

3. Warga bisa ajukan dropping air

Ilustrasi dropping air. (IDN Times/Nofika Dian Nugroho)

BPBD memastikan distribusi air akan terus dilakukan selama warga masih menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.

Masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat mengajukan permintaan melalui RT setempat. Permintaan tersebut kemudian diteruskan melalui kelurahan kepada BPBD untuk ditindaklanjuti.

Warga juga dapat langsung menghubungi layanan darurat 112 untuk menyampaikan kebutuhan bantuan.

“Selain itu juga bisa langsung kontak BPBD ke 112,” tandas Patrick.

Dengan potensi kekeringan yang diperkirakan meningkat hingga September, BPBD meminta mekanisme pengajuan bantuan dilakukan sedini mungkin agar kebutuhan air warga di wilayah rawan dapat segera dipetakan dan ditangani.

Curated For You

Editorial Team

Related Article