Semarang, IDN Times – Ancaman kekeringan mulai menjadi perhatian serius di Kota Semarang. Lima kecamatan masuk prioritas pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) karena berpotensi mengalami krisis air bersih saat puncak musim kemarau.
Kemarau Memuncak, 5 Kecamatan di Semarang Terpantau Alami Krisis Air

1. Krisis air diprediksi meningkat Agustus-September
Kelima wilayah tersebut yakni Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, dan Banyumanik.
Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Patrick Bagus Yudhistira mengatakan, wilayah-wilayah tersebut secara rutin menjadi perhatian setiap musim kemarau karena memiliki potensi kekurangan air bersih.
“Lima kecamatan. Wilayah tersebut tersebar di Kecamatan Tembalang, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, Banyumanik yang selama ini menjadi daerah prioritas pemantauan setiap musim kemarau,” ungkapnya, Kamis (20/8/2026).
BPBD memperkirakan tekanan terhadap ketersediaan air bersih akan semakin besar memasuki Agustus hingga September, yang menjadi periode rawan puncak musim kemarau.
Untuk di Tembalang, pemantauan mencakup Kelurahan Rowosari, Meteseh, Bulusan, dan Mangunharjo.
Kemudian, di Kecamatan Ngaliyan terdapat Kelurahan Wonosari. Sementara wilayah Gunungpati mencakup Kelurahan Cepoko dan sebagian Sukorejo.
Adapun, di Banyumanik, salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kelurahan Jabungan.
“Diperkirakan akan meningkat memasuki Agustus hingga September,” ujar Patrick.
2. BPBD siapkan 900 ribu liter air
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi salah satu langkah antisipasi yang disiapkan Pemkot Semarang. Untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya permintaan air bersih, BPBD Kota Semarang telah menyiapkan 900 ribu liter air.
Namun, distribusi bantuan sudah berjalan. Hingga Selasa (18/8/2026), sekitar 48 ribu liter air bersih telah disalurkan ke sejumlah wilayah yang terdampak kemarau.
Terbaru, BPBD mengirimkan satu tangki berkapasitas 5.000 liter ke RT 7 RW 10 Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang.
Air tersebut diperuntukkan bagi 36 kepala keluarga yang terdampak kekeringan. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih mulai muncul di tingkat permukiman, sementara musim kemarau masih berlangsung.
3. Warga bisa ajukan dropping air
BPBD memastikan distribusi air akan terus dilakukan selama warga masih menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.
Masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat mengajukan permintaan melalui RT setempat. Permintaan tersebut kemudian diteruskan melalui kelurahan kepada BPBD untuk ditindaklanjuti.
Warga juga dapat langsung menghubungi layanan darurat 112 untuk menyampaikan kebutuhan bantuan.
“Selain itu juga bisa langsung kontak BPBD ke 112,” tandas Patrick.
Dengan potensi kekeringan yang diperkirakan meningkat hingga September, BPBD meminta mekanisme pengajuan bantuan dilakukan sedini mungkin agar kebutuhan air warga di wilayah rawan dapat segera dipetakan dan ditangani.
Curated For You
- Kekeringan di Banyumas, 1.190 Warga Desa Randegan Krisis Air Bersih05 Agu 2026, 18:50 WIB
- Antisipasi Kekeringan di Semarang, BPBD Siapkan 100 Tangki Air Bersih08 Jul 2026, 21:12 WIB