Antisipasi Kekeringan di Semarang, BPBD Siapkan 100 Tangki Air Bersih

- BPBD Kota Semarang menyiapkan 100 tangki atau sekitar 900 ribu liter air bersih untuk wilayah yang belum terjangkau jaringan PDAM guna antisipasi kekeringan.
- Puncak musim kemarau diprediksi terjadi Agustus–September, dan BPBD menyiapkan skenario tambahan seperti kerja sama CSR atau penggunaan BTT jika stok air menipis.
- Wilayah rawan kekeringan berkurang berkat program Pamsimas, sementara BPBD memperkuat mitigasi sejak awal dengan pemetaan wilayah dan kolaborasi lintas sektor.
Semarang, IDN Times – Cuaca terik yang mulai memanggang Kota Semarang sejak awal Juli menjadi sinyal awal ancaman kekeringan tahun ini. Mengantisipasi dampak musim kemarau itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mulai menyiapkan cadangan 100 tangki air bersih untuk mengantisipasi krisis air di wilayah yang rawan kekeringan.
1. Sasar wilayah yang belum terjangkau jaringan air perpipaan

Langkah antisipasi dengan menyediakan air bersih yang setara 900 ribu liter tersebut dilakukan karena sesuai prediksi musim kemarau berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026. Adapun, droping air bersih itu akan menyasar sebagian wilayah pinggiran Kota Semarang yang masih belum terjangkau jaringan air perpipaan.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto mengatakan, stok air bersih yang disiapkan setara dengan sekitar 100 tangki dan sewaktu-waktu dapat didistribusikan ke daerah terdampak.
“Kami menyiapkan 900 ribu liter air bersih yang sewaktu-waktu bisa didistribusikan di wilayah yang membutuhkan. Kurang lebih ada 100 tangki dan baru terserap delapan tangki, artinya masih ada 92 tangki,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Menurut Endro, distribusi air diprioritaskan bagi wilayah yang mengalami kesulitan air bersih namun belum terlayani jaringan PDAM.
2. Puncak kekeringan diprediksi Agustus-September

Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada akhir Agustus hingga September, BPBD menilai gejalanya sudah mulai dirasakan masyarakat.
Curah hujan yang semakin jarang disertai suhu udara yang lebih panas pada siang hari menjadi indikator awal memasuki musim kering.
“Contohnya curah hujan sudah jarang turun, kemudian siang hari cuaca sangat panas. Ini sudah mulai menjadi tanda-tanda kekeringan,” kata Endro.
BPBD memperkirakan stok air bersih yang telah disiapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga sekitar tiga bulan ke depan atau sampai akhir Oktober.
Namun apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang atau jumlah wilayah terdampak meningkat, pemerintah telah menyiapkan skenario tambahan.
“Kami juga menyiapkan langkah-langkah lanjutan, apakah menggandeng CSR perusahaan atau menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) apabila stok mulai menipis,” ujarnya.
3. Wilayah rawan kekeringan mulai berkurang

Di sisi lain, BPBD mencatat jumlah kawasan yang mengalami kekeringan mulai berkurang dibanding beberapa tahun lalu.
Salah satu penyebabnya adalah hadirnya program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang memperluas akses air bersih di sejumlah wilayah pinggiran Kota Semarang.
Endro mencontohkan Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, yang sebelumnya rutin mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau.
“Terima kasih adanya program Pamsimas. Beberapa kelurahan yang dulu rawan kekeringan sekarang sudah jauh berkurang, salah satunya Jabungan,” katanya.
4. Perkuat mitigasi sejak awal musim kemarau

Berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika distribusi air bersih lebih banyak dilakukan setelah warga mengalami krisis air, tahun ini BPBD memilih memperkuat langkah mitigasi sejak awal musim kemarau.
Strategi tersebut dilakukan dengan menyiapkan cadangan air, memetakan wilayah rawan, serta membuka peluang kolaborasi dengan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR).
Langkah itu diharapkan mampu menekan dampak kekeringan terhadap masyarakat, terutama di kawasan yang masih bergantung pada sumber air tanah dan belum terhubung dengan jaringan distribusi air perpipaan.




















