Kekeringan di Banyumas, 1.190 Warga Desa Randegan Krisis Air Bersih

- Sekitar 1.190 warga di empat RW Desa Randegan, Wangon, Banyumas, mengalami krisis air bersih selama kurang lebih dua bulan akibat kemarau.
- Pemerintah Desa Randegan membangun sumur bor dan menyiapkan enam tandon besar, tetapi debit air belum mencukupi; dampak berpotensi meluas hingga enam atau tujuh RW.
- Warga mengambil air dari sumber sawah dan hutan yang debitnya menurun, sementara distribusi bantuan BPBD bergiliran dan belum memenuhi seluruh kebutuhan.
Banyumas, IDN Times - Musim kemarau di Kabupaten Banyumas tak hanya mengancam gagal panen. Di Desa Randegan, Kecamatan Wangon, sekitar 1.190 warga di empat RW kini kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini sudah berlangsung kurang lebih dua bulan dan diperkirakan semakin meluas jika kemarau terus berlanjut.
Kepala Desa Randegan, Sarman, menjelaskan wilayahnya memang sejak lama rawan kekeringan setiap musim kemarau. Krisis air bersih hampir menjadi persoalan rutin yang dihadapi warga setiap tahun.
"Randegan ini memang dari dulu terkenal dengan kekurangan air. Sudah sekitar dua bulan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan untuk kebutuhan minum saja mereka harus mencari sumber air yang masih tersisa," ujar Sarman kepada IDN Times, Rabu (5/8/2026).
1. Upaya pemdes, bangun sumur bor, tapi belum optimal

Pemerintah desa sudah melakukan sejumlah upaya, di antaranya membangun sumur bor. Hasilnya belum optimal karena debit air yang keluar tetap tidak mencukupi kebutuhan warga.
Selain itu, desa menyiapkan enam unit tandon air berkapasitas besar. Tandon ini diharapkan mempermudah distribusi air ke permukiman warga sehingga warga tidak lagi harus mengangkut air menggunakan ember dari lokasi penyaluran.
"Kami sudah menyiapkan enam tandon besar. Tinggal nanti dipasang dan diisi agar distribusi air ke warga bisa lebih mudah,"jelas Sarman.
Ia memperkirakan, jika kemarau terus berlanjut, wilayah terdampak bisa bertambah menjadi enam hingga tujuh RW dari total 11 RW di Desa Randegan, seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
2. Warga Terpaksa Mengandalkan Mata Air yang Debitnya Terus Menurun

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengambil air dari sumber alami di kawasan sawah dan hutan. Namun debit air di lokasi tersebut terus menurun seiring kemarau yang semakin panjang.
Muhtadin, warga Desa Randegan, Kecamatan Wangon, mengaku kondisi kekeringan di wilayahnya sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Menurutnya, pada pukul 11.00 WIB sumber air yang masih tersisa hanya tinggal tiga lokasi. Ia dan warga lainnya terpaksa mencari air ke tempat yang jauh menggunakan sepeda motor.
"Cara warga mendapatkan air itu pakai motor, jauh mas, cukup juga rebutan di satu sumur. Ada juga sumber air kecil tapi jauh. Kalau ngambil biasanya dua galon saja karena kapasitas motor terbatas. Kalau butuh banyak ya bolak-balik,"keluh Muhtadin.
Untuk kebutuhan minum, warga biasanya membeli air. Sementara untuk keperluan memasak, mereka mengandalkan air yang dibawa dari rumah dengan kapasitas terbatas, rata-rata sekitar dua kilo.
3.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas sudah mulai mendistribusikan bantuan air bersih sekitar dua minggu terakhir. Namun bantuan tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga karena dilakukan secara bergiliran dan banyak daerah lain yang juga terdampak.
Salah satu pranata BPD Banyumas Sasongko Aji Wibowo mengatakan, menjelaskan bahwa kondisi yang semakin sulit, pihak menerima aduan Pemerintah Desa Randegan dan secara resmi mengajukan surat permohonan bantuan kepada BPBD Kabupaten Banyumas.
"Kami hari ini juga menindaklanjuti Surat nomor 360/111/VIII/2026 tertanggal 5 Agustus 2026 yang ditandatangani Kepala Desa Drs. H. Sarman yang meminta pendistribusian air bersih untuk memenuhi kebutuhan memasak, minum, mandi, mencuci, hingga sanitasi, dan lainnya,"terangya.




















