Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kemarau Panjang di Cilacap, 17 Ribu KK Kesulitan Air Bersih

Kab. Cilacap
Kemarau Panjang di Cilacap, 17 Ribu KK Kesulitan Air Bersih
Sebagian warga dari yang antri air bersih di Cilacap, catatan BPBD Cilacap sebanyak 54 desa mulai merasakan krisis air bersih, Senin (31/8/2026).((IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Kemarau panjang di Cilacap menyebabkan krisis air bersih bagi 41.558 jiwa atau 17.224 KK di 54 desa, tersebar di 18 kecamatan hingga 29 Agustus 2026.
  • BPBD Cilacap telah mendistribusikan 596 tangki atau 3.090.000 liter air bersih, termasuk 16 tangki ke 12 desa di lima kecamatan pada 29 Agustus.
  • Debit sumur warga menurun dan sebagian air mengalami intrusi laut hingga tak layak konsumsi; penanganan melibatkan pemerintah, PMI, Pertamina, BBWS Citanduy, LazisMu, serta pihak lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Cilacap, IDN Times - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih.

Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, sebanyak 41.558 jiwa atau 17.224 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak krisis air bersih.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, kekeringan telah melanda 54 desa yang tersebar di 18 kecamatan. Wilayah terdampak paling banyak berada di Cilacap bagian barat.

  1. 1. BPBD salurkan 3 juta lier air nersih

    Taryo, Kepala BPBD Cilacap, menyampaikan penyaluran lebih dari 3 juta liter bantuan air bersih ke berbagai desa.
    Taryo, kepala BPBD Cilacap dampak kekeringan sebut pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 3 juta liter lebih di berbagai desa, Senin (31/8/2026).(IDN Times/Foto : BPBD Cilacap)

    Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengatakan pemerintah terus melakukan distribusi air bersih untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air.

    "Hingga saat ini, total distribusi air bersih telah mencapai 596 tangki dengan volume 3.090.000 liter," ujar Taryo, Senin (31/8/2026).

    Distribusi tersebut dilakukan secara bertahap dengan menyasar desa-desa yang mengalami krisis air bersih. Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, BPBD Cilacap kembali menyalurkan 16 tangki air bersih ke 12 desa di lima kecamatan.

  2. 2. Kapasitas sumur warga menurun

    Petugas BPBD mengisi sumur kering di SD Kubangkangkung dengan air dalam plastik agar tidak meresap ke tanah.
    Sumur kering di SD Kubangkangkung yang kering diisi air dengn plastik oleh petugas BPBD agar tidak meresap ke tanah, Senin (31/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Taryo menjelaskan, kemarau panjang membuat debit dan kapasitas sumur milik warga mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

    Selain persoalan ketersediaan, kualitas air di sejumlah wilayah juga menjadi perhatian. BPBD menemukan adanya intrusi air laut yang menyebabkan air tidak layak untuk dikonsumsi.

    "Airnya mengalami intrusi air laut, sehingga tidak layak dikonsumsi. Kemungkinan ini karena dampak kemarau ini cukup kering,"jelasnya.

    Kondisi tersebut membuat bantuan air bersih menjadi semakin dibutuhkan, terutama bagi masyarakat yang sumber airnya sudah tidak mencukupi atau kualitasnya menurun.

  3. 3. Kolaborasi distribusi air bersih

    Warga Cilacap menerima bantuan air bersih dari kolaborasi berbagai pihak untuk meringankan krisis air pada 31 Agustus 2026.
    Kolaborasi berbagai pihak di Cilacap memberikan bantuan air bersih mampu kurangi beban krisis air warga, Senin (31/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Penanganan krisis air bersih di Cilacap tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah daerah. BPBD juga menggandeng berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.

    Bantuan antara lain berasal dari APBD, PMI Cilacap, Pertamina, BBWS Citanduy, LazisMu, serta sejumlah stakeholder lainnya.

    Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat distribusi air bersih sekaligus mengurangi dampak kekeringan yang semakin meluas.

    BPBD Cilacap juga mendorong keterlibatan dunia usaha, organisasi kemanusiaan, TNI-Polri, serta berbagai elemen masyarakat dalam penanganan krisis air bersih.

    Dengan kondisi kekeringan yang masih berlangsung, distribusi air bersih dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kemarau panjang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More