Kemenbud: Edukasi dan Riset Bisa Luruskan Perdebatan Budaya Keris

- Edukasi dan riset bisa meluruskan perdebatan budaya kerisInformasi yang bias bisa diluruskan dengan edukasi dan riset untuk mengurangi perdebatan, sehingga ruang tumbuh perkerisan bisa muncul dengan baik.
- Butuh pembinaan bagi organisasi tosan ajiRuang ekosistem sebagai wadah komunitas pemerhati keris perlu diperbanyak, butuh tahap pembinaan dan pendampingan bagi organisasi tosan aji termasuk melakukan sertifikasi.
- Disparekraf Jateng akui sudah banyak bermunculan empu mudaBudaya keris sudah diterima dengan positif oleh generasi muda, banyak empu-empu muda yang saat ini bermunculan di Jawa Tengah. Keris memiliki nilai
Semarang, IDN Times - Setiap pemerintah daerah (pemda) saat ini didorong untuk menguatkan proses edukasi bagi para Millennial sebagai langkah mewariskan budaya keris.
Staf Khusus Kemenbud, Basuki Teguh Yuwono mengatakan banyaknya sekolah yang menerapkan muatan lokal tentang budaya perkerisan justru menjadi sarana yang bagus untuk menambah pengetahuan bagi generasi muda.
"Kita menjumpai sekolah-sekolah yang menyelenggarakan mulok tentang budaya perkerisan. Tentu ini menjadi berperan membangun edukasi bagi generasi muda yang lebih mudah," ujar Basuki saat datang ke lokasi pameran keris Nusantara di Hotel Front One HK Siranda, Semarang, Jumat (13/2/2026).
Table of Content
1. Informasi yang bias bisa diluruskan dari edukasi dan riset

Lebih lanjut, pihaknya mengatakan Pemda memperbanyak pemberian edukasi dan riset -riset untuk mengurangi perdebatan yang kerap muncul ketika masyarakat membahas keris.
Setiap riset mengenai keris perlu disampaikan kepada publik agar perdebatan bisa lebih cair.
"Kalau ada informasi yang bias, memang harus diluruskan dengan menyediakan perangkat edukasi dan riset agar perdebatan yang muncul menjadi cair dan tidak terjadi debat kusir. Sehingga ruang tumbuh perkerisan bisa muncul dengan baik," tutur Basuki.
2. Butuh pembinaan bagi organisasi tosan aji

Di samping itu, ruang ekosistem sebagai wadah komunitas pemerhati keris juga perlu diperbanyak supaya ilmu pengetahuan tentang budaya keris bisa diterima dengan baik oleh generasi Millennial.
Namun, ia mengingatkan saat ini butuh tahap pembinaan dan pendampingan bagi organisasi tosan aji termasuk melakukan sertifikasi.
"Jadi (orang-orang) tidak hanya melulu tahun tentang (cara) membuat keris, tetapi juga ikut mengkurasi dan membangun ekosistem yang baik," kata Basuki.
3. Disparekraf Jateng akui sudah banyak bermunculan empu muda

Kabid Perlindungan Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Jawa Tengah, Eris Yunianto mengemukakan budaya keris belakangan sudah diterima dengan positif oleh generasi muda. Apalagi Banyak empu-empu muda yang saat ini bermunculan di Jawa Tengah.
"Anak muda sekarang ada yang menempa ilmu metalurgi di ISI Solo. Maka kegiatan (pameran) ini menjembatani saudara kita yang tumbuh dan hidup dari tosan aji. Di pameran ini ada empu empu muda dari Lombok, Yogyakarta dan kota-kota lainnya," kata Eris.
Ia mengakui keris memiliki nilai-nilai budaya sehingga jangan hanya mempelajari kleniknya. Pamornya juga ada filosofinya. "Maka kalau ini dipadupadankan, bisa membangun harmoni," ujar Eris.

















