Semarang, IDN Times - Keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikan acuan suku bunga menjadi 5,75 persen membuat sejumlah kalangan masyarakat di Kota Semarang dirundung rasa pesimistis. Pasalnya, naiknya suku bunga juga mempengaruhi lonjakan tarif kredit pinjaman terutama untuk kepemilikan rumah.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan mengatakan, dengan adanya kenaikan suku bunga BI secara otomatis berdampak terhadap antusias masyarakat dalam memperoleh rumah subsidi di tiap daerah.
Walau begitu, pihaknya mencermati dengan kenaikan suku bunga BI, masyarakat kemungkinan tetap berusaha mencari cara memperoleh kredit rumah karena kepemilikan rumah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar orang.
Rumah sebagai kebutuhan primer, menurutnya kondisinya hampir mirip dengan bahan bakar minyak (BBM). Yang mana meski harga Pertama melonjak akibat perang Iran, masyarakat tetap membelinya karena sebagai pendukung mobilitas setiap hari.
"Karena punya rumah ini kan sudah kebutuhan primer, jadinya masyarakat di Jawa Tengah saya rasa tetap berupaya mencari celah mendapat kredit dari bank. Maka dengan prediksi acuan kredit perumahan yang terkerek naik, tentu masyarakat akan tetap mencari solusinya," ungkap Boedyo kepada IDN Times, Selasa (23/7/2026).
Selain itu, pihaknya juga belum mendapat surat keputusan secara resmi dari BI terkait naiknya suku bunga kredit. Oleh karenanya, Pemprov Jateng yang memiliki program pembangunan 3 juta rumah, katanya belum akan terpengaruh dengan kebijakan tersebut.
Soal dampak kenaikan suku bunga kredit perumahan terhadap angka backlog perumahan di Jawa Tengah, diakuinya pasti terkena imbasnya. Sebab, ketika tarif kredit perumahan bertambah mahal, calon pemilik rumah akan berpikir dua kali untuk mengakses kredit di perbankan.
"Kalau korelasinya antara backlog, pasti akan kena dampaknya. Orang tentu akan berpikir keras, utamanya mencari angsuran kredit bank yang lebih terjangkau. Jalan satu-satunya selain menahan keinginan ya mau tidak mau menyimpan uang tabungannya dulu," urainya.
Terpisah, Abdul Iman, seorang warga Kampung Pekunden Kecamatan Semarang Tengah kepada IDN Times, mengaku ketar-ketir dengan perubahan acuan suku bunga kredit perumahan.
Lebih lanjut, Iman yang merantau ke Semarang lima tahun terakhir bilang tahun ini sedang mengakses pinjaman kredit ke BRI untuk keperluan membeli rumah subsidi. Namun ia khawatir nantinya justru memperoleh besaran kredit cicilan yang memberatkan bebannya.
"Tadi sih baca-baca info kalau ada kenaikan suku bunga BI rate. Ya palingan kredit rumah juga naik. Ya semoga dapat bantuan akses dari pemerintah," jelasnya.
Riski, seorang perantau lainnya juga pesimistis bisa membeli rumah idaman di Semarang. Sebab ia sekarang berstatus single fighter alias pencari nafkah tunggal bagi keluarganya.
"Kecuali kalau istri saya juga ikut kerja lain ceritanya. Kepengin saya sih punya rumah yang deket-deket sama pusat Kota Semarang. Biar kemana-mana gak kejauhan," kata pria asli Kudus itu.
