- Kredit korporasi dan komersial tumbuh 4,1 persen (y-o-y).
- Kredit dari Jenius (di luar segmen Digital Micro) naik 12 persen (y-o-y).
- Pembiayaan Grup OTO meningkat 5 persen (y-o-y).
- Pembiayaan oleh BTPN Syariah ikut tumbuh sebesar 3,7 persen (y-o-y).
Kinerja Triwulan I-2026: Laba SMBC Indonesia Capai Rp456 Miliar

- SMBC Indonesia mencatat laba bersih konsolidasi Rp456 miliar pada Triwulan I-2026, didorong pertumbuhan kredit 2 persen dan kontribusi positif dari BTPN Syariah serta Grup OTO.
- Dana murah (CASA) naik 40,6 persen menjadi Rp59 triliun dengan rasio CASA mencapai 44,1 persen, memperkuat struktur pendanaan dan efisiensi biaya dana perusahaan.
- Melalui Program Daya, SMBC Indonesia menggelar seminar literasi keuangan untuk nasabah Sinaya Prioritas agar lebih siap menghadapi aturan pajak baru tahun 2026.
Semarang, IDN Times - PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) menorehkan kinerja positif secara konsolidasi maupun individu (bank saja) pada Triwulan I-2026. Keberhasilan tersebut ditopang oleh langkah kolaborasi perusahaan induk bersama anak usaha—seperti PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPN Syariah) dan Grup OTO—untuk melayani berbagai segmen ritel dan bisnis demi pertumbuhan berkelanjutan.
Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar mengatakan, kinerja positif periode tersebut merupakan hasil dari pertumbuhan penyaluran kredit dan penguatan struktur pendanaan.
"Pertumbuhan kredit yang tetap terjaga ini mencerminkan pendekatan kami yang selektif dan berimbang di tengah dinamika pasar, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," katanya dilansir keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
1. Pertumbuhan kredit dan laba konsolidasi

Berdasarkan laporan kinerja, SMBC Indonesia mencatatkan total penyaluran kredit sebesar Rp191,8 triliun pada Triwulan I-2026, meningkat 2 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y). Angka itu didorong oleh pertumbuhan dari sejumlah segmen:
Secara konsolidasi, perusahaan mampu menurunkan biaya kredit sebesar 7,9 persen menjadi Rp1,2 triliun lewat penerapan manajemen risiko kredit yang cermat dan proaktif. Sejalan dengan itu, total aset perusahaan meningkat 4,1 persen (y-o-y) menjadi Rp250 triliun per akhir Maret 2026.
Laba bersih setelah pajak (konsolidasi) yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp456 miliar. Sementara itu, laba bersih dari bank saja tumbuh 6,5 persen (y-o-y) menyentuh angka Rp221 miliar. Anak usaha turut memberikan kontribusi besar, di mana BTPN Syariah mencatat laba bersih Rp319 miliar (naik 2,8 persen) dan Grup OTO membukukan laba bersih Rp113 miliar (melonjak 45,5 persen).
2. Penguatan dana murah (CASA) dan likuiditas

Pendorong utama kualitas pendanaan SMBC Indonesia pada kuartal pertama tahun ini adalah penguatan dana murah (Current Account Saving Account/CASA). Saldo CASA mengalami lonjakan tajam sebesar 40,6 persen menjadi Rp59 triliun pada akhir Maret 2026, dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (Rp41,9 triliun).
Rasio CASA ikut merangkak naik dari 35,7 persen menjadi 44,1 persen. Henoch menyebut peningkatan ini berhasil memperkuat struktur pendanaan dan mendukung efisiensi biaya dana perusahaan. SMBC Indonesia juga menjaga stabilitas operasional lewat rasio likuiditas yang sehat, dengan angka Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 260,24 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) pada level 29,63 persen.
3. Program literasi keuangan berkelanjutan

Selain menggenjot sektor bisnis, perusahaan secara konsisten mendorong peningkatan literasi nasabah melalui Program Daya. Salah satu inisiatif terbarunya adalah menggelar seminar "Cerdas Hadapi Aturan Pajak 2026" bagi nasabah Sinaya Prioritas untuk membantu mereka memahami sistem pelaporan Coretax.
"Melalui program Daya, SMBC Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan literasi keuangan nasabah dalam memahami perubahan regulasi, sehingga mereka dapat mengelola keuangan secara lebih baik," tutup Henoch.


















