Komnas HAM dan DPR RI Diminta Turun Tangan Usut Penembakan Siswa Semarang

Semarang, IDN Times - Sejumlah elemen masyarakat Kota Semarang mendesak pemerintah pusat turut serta menangani kasus penembakan yang menewaskan seorang siswa SMKN 4 Semarang berinisial GRO.
Komnas HAM, Komnas Anak, Kompolnas hingga Komisi III DPR RI juga diminta segera turun tangan menginvestigasi agar pengusutan kasus itu dapat dituntaskan.
"Saya tidak meyakini bila siswa SMK itu ikut dalam tawuran. Makanya saya berharap, Mabes Polri, Komnas HAM, Komnas anak, Kompolnas dan Komisi III DPR untuk segera turun tangan untuk melihat secara langsung melakukan investigasi, dan membentuk tim pencari fakta," kata Direktur LBH Pengemban Titipan Rakyat (Petir), Zaenal Abidin, Jumat (29/11/2024).
1. Korban penembakan terbukti sebagai siswa berprestasi

Ia menyesalkan pernyataan Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Irwan Anwar karena bertentangan dengan kesaksian pihak sekolah dan teman-teman sepermainan yang menggambarkan korban sebagai siswa berprestasi.
"Korban adalah anggota paskibraka dan telah memenangkan lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB) di Akpol. Ini membuktikan bahwa dia adalah siswa yang baik dan berprestasi," tuturnya.
2. LBH Petir: Ada hal yang ditutupi

Zaenal juga menegaskan LBH Petir akan memberikan pendampingan hukum kepada keluarga korban agar kasus ini terang benderang.
Lebih lanjut aparat kepolisian juga telah melakukan kekeliruan. Bahkan katanya cenderung ditutup-tutupi dengan membuat pernyataan yang tidak fair.
"Karena ada hal-hal yang ditutup-tutupi, ada yang saya menduga itu tidak fair, atas pernyataan dari Kapolrestabes yang menyebutkan korban melakukan perlawanan" paparnya.
3. Wakasis tegaskan korban penembakan tidak berperilaku buruk

Wakasis Bidang Kesiswaan SMK 4 Semarang, Agus Riswanti, juga menyatakan bahwa korban tidak pernah menunjukkan perilaku buruk selama di sekolah.
Pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat berharap adanya keadilan dan transparansi dalam pengungkapan kasus ini, agar tidak ada stigma negatif terhadap korban yang telah berpulang.
4. Forum Ormas Bersatu desak polisi ungkap bukti visum

Terpisah, dengan melihat fakta-fakta di lapangan, Forum Ormas dan LSM Bersatu Jawa Tengah juga menuntut kepolisian memperlihatkan bukti visum siswa SMKN 4 Semarang yang ditembak anggota Satnarkoba Polrestabes Semarang.
Koordinator Forum Ormas dan LSM Bersatu Jawa Tengah Adhi Siswanto Wisnu Nugroho juga mendesak Kapolrestabes merekontruksi secara terbuka yang melibatkan semua unsur masyarakat. Termasuk mengungkap apakah polisi pelaku penembakan sedang bertugas atau tidak sadar karena mabuk.
"Kami akan terus mengawal kasus ini dan meminta supaya proses penanganan masalah ini bisa terbuka dan transparan. Kami menyuarakan bersama-sama 25 Ormas dan LSM minta bukti visum korban. Kemudian meminta rekontruksi ulang secara terbuka, yang melibatkan semua unsur termasuk media dan lembaga kami dilibatkan sebagai independen," katanya.
Joko Budi Santoso, dari lembaga Pekat, menginginkan sikap Polrestabes dalam menangani kasus penembakan lebih transparan tanpa tebang pilih, sesuai slogan Presisi Polri.
"Kami menginginkan tindakan polisi terbuka sesuai slogan polisi yang transparansi, jangan membeda-bedakan, artinya kami selaku lembaga di Kota Semarang ini menginginkan keterbukaan yang sejelas-jelasnya, jadi jangan ada yang ditutupi. Jadi jangan sampai ada tebang pilih, kalau ada yang salah, kalau memang salah dan harus dipecat ya langsung saja dilakukan pemecatan," tegasnya.



















