Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Krisis SDGs 2030, Akademisi Global Desak Riset Tak Berhenti di Jurnal
Universitas Diponegoro (Undip) menggelar International Conference on Sustainability, Equity, and Growth (ICOSEG) 2026, Kamis (4/6/2026). (dok. Undip)
  • Para akademisi global menegaskan riset kampus harus diterjemahkan menjadi inovasi nyata agar mampu menjawab krisis SDGs 2030, bukan sekadar berhenti pada publikasi ilmiah.
  • Mayoritas target SDGs dunia dinilai belum berada di jalur tepat akibat polikrisis dan lemahnya tata kelola, sehingga dibutuhkan kesinambungan kebijakan lintas periode politik.
  • Konferensi ICOSEG 2026 menyoroti adaptasi pembangunan dari Jepang hingga pemanfaatan AI untuk mitigasi bencana, serta menekankan pentingnya kolaborasi global lintas disiplin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times — Target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 disebut berada dalam ancaman serius. Saat krisis iklim, ketimpangan sosial, hingga disrupsi teknologi global, para akademisi internasional menilai riset kampus tak boleh lagi berhenti sebagai publikasi ilmiah semata.

1. Universitas harus mampu terjemahkan riset jadi inovasi

ilustrasi riset perusahaan (freepik.com/DC Studio)

Isu tersebut mengemuka dalam International Conference on Sustainability, Equity, and Growth (ICOSEG) 2026 yang digelar Universitas Diponegoro (Undip) di Hotel Aruss Semarang, 3–4 Juni 2026. Forum internasional itu mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, praktisi industri, hingga akademisi dari berbagai negara untuk membahas masa depan pembangunan berkelanjutan.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undip, Prof. Suherman mengatakan, perguruan tinggi kini dituntut menjadi penggerak solusi nyata, bukan sekadar produsen pengetahuan.

“Universitas tidak boleh berhenti pada produksi ilmu pengetahuan, tetapi harus mampu menerjemahkan riset menjadi inovasi dan kontribusi nyata bagi penyelesaian persoalan masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan berkelanjutan kini tak lagi hanya bicara soal lingkungan. Tantangan global telah meluas ke isu keadilan sosial, tata kelola, transformasi teknologi, hingga ketahanan ekonomi masyarakat.

2. Target SDGs belum berada di jalur yang tepat

ilustrasi riset (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Sorotan paling tajam datang dari Prof. Bulan Prabawani dari SDGs Center Undip. Ia mengungkapkan, mayoritas target SDGs dunia saat ini belum berada di jalur yang tepat menuju 2030 akibat polikrisis global dan lemahnya tata kelola pembangunan.

Bulan menilai, banyak negara masih terjebak pada kebijakan jangka pendek yang berubah mengikuti pergantian politik dan kepemimpinan.

“Keberlanjutan tidak bisa diperlakukan sebagai proyek lima tahunan. Harus ada kesinambungan tata kelola lintas periode politik,” ujarnya.

Untuk menjawab persoalan itu, ia memperkenalkan pendekatan Sustainability Governance Continuum (SGC), yakni model tata kelola berkelanjutan yang menitikberatkan pada kesinambungan kebijakan, akuntabilitas, dan pembelajaran jangka panjang.

3. Jepang hingga AI jadi contoh adaptasi baru

ilustrasi robot kecerdasan buatan (unsplash/alex knight)

Konferensi ini juga menyoroti bagaimana negara lain mulai mengubah pendekatan pembangunan mereka.

Prof. Minako Sakai dari UNSW Canberra mencontohkan, Jepang yang kini tak lagi berfokus pada mengejar pertumbuhan populasi absolut di daerah pedesaan. Sebaliknya, pemerintah mulai membangun “ekosistem partisipasi” agar masyarakat kota tetap bisa berkontribusi pada desa tanpa harus tinggal permanen.

Menurutnya, model itu menjadi jawaban atas ketimpangan regional dan ancaman krisis demografi yang kini dialami banyak negara maju.

Sementara itu, Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo dari Chiba University memaparkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) dan teknologi radar mutakhir mulai digunakan untuk mitigasi bencana.

Teknologi Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR) yang dikembangkan timnya memungkinkan pemantauan bumi dilakukan dalam segala cuaca, baik siang maupun malam. Teknologi tersebut bahkan diintegrasikan dengan AI dan sistem Digital Twin untuk mendeteksi risiko bencana lebih cepat dan akurat.

“Teknologi tidak lagi hanya menjadi alat pendukung, tetapi bagian utama dalam sistem ketahanan global,” jelasnya.

4. Kolaborasi global jadi kunci

Universitas Diponegoro (Undip) menggelar International Conference on Sustainability, Equity, and Growth (ICOSEG) 2026, Kamis (4/6/2026). (dok. Undip)

Ketua ICOSEG 2026, Dr. Anang Wahyu Sejati mengatakan, tantangan keberlanjutan saat ini terlalu kompleks jika diselesaikan satu sektor saja. Karena itu, kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara menjadi kebutuhan mendesak.

“Isu keberlanjutan, kesetaraan sosial, transformasi teknologi, dan ketahanan lingkungan kini saling terhubung. Tidak bisa lagi diselesaikan secara parsial,” ujarnya.

Konferensi ini turut melibatkan dua kampus internasional, yakni Chiba University Jepang dan The University of New South Wales (UNSW) Australia. Kegiatan juga mendapat dukungan Program EQUITY melalui pendanaan Dana Abadi Perguruan Tinggi LPDP.

Selain sesi keynote dan diskusi akademik, ICOSEG 2026 juga memberikan penghargaan Best Paper kepada tim peneliti dengan kajian tentang ruang hijau perkotaan dan biodiversitas, serta penghargaan Best Presenter kepada Satria Aji Imawan.

Lewat forum ini, Undip ingin menegaskan peran kampus sebagai aktor penting dalam menjawab krisis global melalui riset yang aplikatif dan kolaboratif.

Editorial Team

Related Article