Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kronologi Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, Dapur Disetop

Kota Semarang
Kronologi Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, Dapur Disetop
Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan penyelidikan dan memeriksa sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan siswa dan guru di SMK 6 Semarang, Sabtu (1/8/2026). (dok. Dinkes Semarang)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • BGN mengungkap penyiapan menu MBG di SPPG Karangturi dimulai 29 Juli 2026, dari penerimaan bahan, marinasi dan penggorengan ayam, hingga memasak lauk serta sayuran dini hari.
  • Makanan menjalani uji warna, aroma, rasa, tekstur, dan gramasi sebelum dikirim ke sekolah pada 30 Juli dalam dua tahap. Laporan mual, muntah, dan diare diterima sehari kemudian.
  • Operasional dapur SPPG Karangturi dihentikan sementara saat investigasi. Dinkes Semarang masih memeriksa sampel; 707 orang bergejala, dengan sembilan dirujuk untuk observasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap kronologi penyiapan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berkaitan dengan insiden ratusan siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang mengalami gejala keracunan. Adapun, atas kejadian tersebut operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi dihentikan sementara.

1. Penyiapan makanan mulai Rabu (29/7/2026)

mbg, dinkes, keracunan
Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan penyelidikan dan memeriksa sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan siswa dan guru di SMK 6 Semarang, Jumat (31/7/2026). (dok. Dinkes Semarang)

Berdasarkan keterangan tim investigasi BGN melalui KPPG Semarang, kronologi pengolahan makanan di SPPG Karangturi, seluruh bahan baku mulai diterima di dapur SPPG Karangturi pada Rabu (29/7) sekitar pukul 13.00–17.30 WIB.

Bahan seperti ayam, tahu, sayuran, buah, dan bumbu langsung disimpan di gudang maupun freezer.

Malam harinya, sekitar pukul 18.55 WIB, petugas mulai melakukan persiapan bahan makanan. Ayam kemudian dimarinasi selama satu jam mulai pukul 19.30 WIB sebelum digoreng.

Proses penggorengan ayam selesai sekitar pukul 23.50 WIB.

2. Makanan diuji sebelum dikirim ke sekolah

mbg, dinkes, keracunan
Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan penyelidikan dan memeriksa sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan siswa dan guru di SMK 6 Semarang, Jumat (31/7/2026). (dok. Dinkes Semarang)

Memasuki Kamis (30/7) dini hari, tim dapur mulai memasak lauk dan sayuran.

Sekitar pukul 04.00 WIB, ahli gizi melakukan uji organoleptik atau pemeriksaan kualitas makanan melalui warna, aroma, rasa, dan tekstur, sekaligus pengecekan gramasi sebelum makanan dikemas.

Distribusi makanan kemudian dilakukan dalam dua tahap, yakni pukul 06.00 WIB dan 08.10 WIB menuju sekolah penerima manfaat.

Namun, keesokan harinya, Jumat (31/7) pukul 09.40 WIB, pihak SPPG menerima laporan dari sekolah mengenai siswa yang mengalami gangguan pencernaan berupa mual, muntah, dan diare.

3. BGN hentikan sementara operasional dapur MBG

Mbg, keracunan
Siswa SMK Semarang yang diduga keracunan MBG dirawat di UKS. (Dok. Dinkes)

Koordinator KPPG Semarang, Hadi Riajaya mengatakan, BGN memutuskan menghentikan sementara operasional dapur SPPG Karangturi yang menyuplai Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, keselamatan para penerima manfaat menjadi prioritas utama selama proses investigasi berlangsung.

“Makanya dapur kami suspend sementara. Keselamatan penerima manfaat jadi yang utama dan prioritas,” kata Hadi dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/8/2026).

Sementara, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menegaskan penyebab kejadian hingga saat ini belum dapat dipastikan. Sampel makanan dan spesimen korban masih diperiksa di laboratorium. Penyelidikan epidemiologi juga dilakukan bersama pihak sekolah, pengelola SPPG Karangturi, rumah sakit, puskesmas, serta instansi terkait.

“Fokus kami saat ini memastikan seluruh siswa maupun guru yang mengalami gejala memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya,” kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam.

Hasil pendataan sementara menunjukkan 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru. Sebanyak 698 orang mendapat penanganan di sekolah, sedangkan sembilan lainnya dirujuk ke Puskesmas Halmahera, Puskesmas Bangetayu, RSUD KRMT Wongsonegoro, dan RST Bhakti Wira Tamtama untuk menjalani observasi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More