Semarang, IDN Times - Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia dimaknai berbagai cara oleh masyarakat seluruh penjuru negeri. Tak terkecuali bagi kampus UIN Walisongo Semarang yang turut mengingatkan civitas akademika terkait pentingnya mengutamakan ketulusan akhlaq.
Rektor UIN Walisongo, Prof Musahadi mengatakan, kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan dan pengorbanan para pendahulu bangsa.
“Kemerdekaan bukan hadiah. Ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pendahulu kita,” demikian salah satu pesan Menteri Agama dalam sambutan yang dibacakan.
Dirinya juga mengajak seluruh masyarakat untuk mengisi kemerdekaan melalui ilmu, kerja keras, integritas, inovasi, dan pengabdian.
Kerukunan disebut sebagai modal penting dalam menjaga persatuan dan mendorong kemajuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.
Pesan lainnya berkaitan dengan tantangan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, melayani dengan tulus, merawat kerukunan, serta menguasai teknologi tanpa kehilangan etika.
“Bangsa besar tidak hanya dibangun oleh ekonomi dan teknologi. Bangsa besar juga dibangun oleh kekuatan doa, keluhuran akhlak, dan kokohnya persatuan," paparnya.
Dalam amanatnya, Menteri Agama Nazarudin Umar mengingatkan agar kemajuan teknologi tetap diiringi dengan kebijaksanaan, akhlak, dan kemanusiaan.
“AI boleh semakin cerdas, tapi manusia harus tetap bijaksana. Teknologi boleh semakin maju, tapi akhlak tidak boleh tertinggal,” kata Nazarudin.
Usai upacara pengibaran bendera, rangkaian peringatan dilanjutkan dengan tasyakuran dan doa kebangsaan. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar UIN Walisongo untuk mensyukuri 81 tahun kemerdekaan sekaligus mendoakan bangsa Indonesia agar senantiasa diberikan kedamaian, persatuan, dan kemajuan.
