Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mayoritas Korban Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang Mulai Pulih

Kota Semarang
Mayoritas Korban Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang Mulai Pulih
Siswa SMK Semarang yang diduga keracunan MBG dirawat di UKS. (Dok. Dinkes)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Mayoritas siswa dan guru SMKN 6 Semarang yang mengalami dugaan keracunan pangan mulai pulih; seluruh pasien di Puskesmas Halmahera telah dipulangkan.
  • Dinkes Semarang tidak menemukan tambahan kasus baru hingga Sabtu, sementara pasien di sejumlah rumah sakit dan Puskesmas Bangetayu menunjukkan perbaikan serta ditanggung JKN.
  • Tim Gerak Cepat tetap memantau hingga seluruh pasien sembuh, sedangkan Dinkes menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan pangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times – Kondisi siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang yang mengalami gejala dugaan keracunan pangan terus membaik. Hingga Sabtu (1/8/2026), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menyatakan mayoritas pasien telah pulih dan tidak ada penambahan kasus baru.

Meski situasi mulai terkendali, Dinkes tetap menyiagakan Tim Gerak Cepat (TGC) untuk memantau kondisi para korban hingga seluruh pasien yang masih menjalani perawatan dinyatakan sembuh.

1. Seluruh pasien di Puskesmas Halmahera sudah pulang

Mbg, dinkes, keracunan
Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan penyelidikan dan memeriksa sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan siswa dan guru di SMK 6 Semarang, Sabtu (1/8/2026). (dok. Dinkes Semarang)

Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, seluruh siswa yang sempat dirawat di Puskesmas Halmahera telah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatannya membaik.

Sementara itu, pasien yang masih menjalani perawatan di RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu juga menunjukkan perkembangan positif.

“Siswa yang sempat dirawat di Puskesmas Halmahera seluruhnya sudah membaik dan dipulangkan. Pasien yang masih berada di RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Bhakti Wira Tamtama, serta Puskesmas Bangetayu juga terus mengalami perbaikan kondisi secara signifikan,” ungkapnya.

2. Tidak ada tambahan kasus baru

mbg, dinkes, keracunan
Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan penyelidikan dan memeriksa sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan siswa dan guru di SMK 6 Semarang, Jumat (31/7/2026). (dok. Dinkes Semarang)

Berdasarkan hasil surveilans aktif maupun pasif, Dinkes menyebut situasi di lapangan sudah mulai terkendali.

Hingga Sabtu, tidak ditemukan laporan baru terkait siswa maupun guru yang mengalami gejala serupa dari pihak sekolah.

Perkembangan tersebut menjadi indikator bahwa penanganan medis dan pemantauan kesehatan yang dilakukan sejak Jumat (31/7/2026) berjalan efektif.

Dinkes memastikan seluruh korban yang menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit memperoleh layanan kesehatan melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Dengan demikian, proses pengobatan tetap berjalan tanpa kendala dari sisi pembiayaan.

“Seluruh proses perawatan medis para siswa dan guru berjalan optimal dengan skema penjaminan JKN. Kami memastikan hak pelayanan kesehatan masyarakat terpenuhi sesuai prosedur yang berlaku,” ujar Hakam.

3. Tim Gerak Cepat tetap siaga hingga seluruh pasien sembuh

mbg, dinkes, keracunan
Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan penyelidikan dan memeriksa sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan siswa dan guru di SMK 6 Semarang, Jumat (31/7/2026). (dok. Dinkes Semarang)

Meski mayoritas korban telah pulih, Dinkes belum menghentikan pemantauan.

Tim Gerak Cepat (TGC) tetap disiagakan untuk memonitor kondisi kesehatan seluruh pasien, termasuk mereka yang masih menjalani rawat inap.

Menurut Hakam, pemantauan baru akan dihentikan setelah seluruh pasien dinyatakan sembuh dan laporan akhir dikirimkan kepada Kementerian Kesehatan melalui sistem SKDR MBG.

“Tim TGC tetap siaga di lapangan sampai seluruh kasus terkonfirmasi sehat. Setelah seluruh rangkaian pemantauan selesai dan dinyatakan tuntas, kami segera mengirimkan laporan pembaruan akhir kepada Kementerian Kesehatan melalui sistem SKDR MBG,” tandasnya.

Sementara, Dinkes juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan pangan yang dialami ratusan siswa dan guru tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More