Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Melihat Tradisi Syawalan di Solo Safari yang Penuh Filosofi
Grebeg syawalan di Solo Safari. (Dok/Istimewa)
  • Solo Safari menjadi saksi Grebeg Syawal tahun 2025, acara budaya kolaborasi Karaton Kasunanan Surakarta dan Solo Safari.
  • Arak-arakan Joko Tingkir di Solo Safari melambangkan simbol pemimpin masa depan, dengan perahu tradisional dan tarian penyambutan.
  • Berbagi ketupat dalam Grebeg Syawal memiliki makna filosofi "Mengakui Kesalahan" dan meraih kebaikan serta mempererat tali silaturahmi di Hari Idulfitri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surakarta, IDN Times - Solo Safari destinasi wisata edukasi satwa favorit dan pusat hiburan keluarga tengah kota Solo di Jawa Tengah menjadi saksi meriahnya acara Grebeg Syawal tahun 2025. Acara budaya tersebut merupakan Grebeg Syawal ke-tiga sejak tahun 2023 yang terwujud atas adanya kolaborasi antara Karaton Kasunanan Surakarta dengan Solo Safari.

1. Merupakan tradisi tahunan

Grebeg syawalan di Solo Safari. (Dok/Istimewa)

Grebeg Syawal merupakan bagian dari tradisi yang telah dilestarikan selama bertahun- tahun dan merupakan wujud syukur atas Hari Kemenangan atau Hari Idulfitri yang dikemas dalam Atraksi Budaya, sehingga masyarakat luas dapat mengenal dan menikmati budaya Karaton Kasunanan Surakarta lebih dekat.

Acara Grebeg Syawal ini dimulai pukul 10.30 WIB dari lobi dengan arak-arakan atau iring-iringan sosok Joko Tingkir yang akan menyeberangi danau Solo Safari hingga Panggung Terbuka dan diakhiri dengan puncak acara dengan berbagi Gunungan Ketupat yang memiliki makna mendalam.

Sosok Joko Tingkir dalam Grebeg Syawal 2025 diperankan oleh BRM Yudhistira Rachmat Saputro, cucu dari Pakubuwono XIII.

Arak-arakan Joko Tingkir menjadi satu momen yang sangat dinantikan, yang merupakan sosok simbol pemimpin masa depan. Joko Tingkir mengendarai kuda, didampingi oleh enam pasukan Bregada atau Prajurit Karaton, yang terdiri dari Tamtama, Soro Geni, Prawiro Anom, Jayeng Astra, Doropati, dan Joyosuro.

Arak-arakan diawali dari lobi dan menyusuri jalur Solo Safari hingga tibalah sosok Joko Tingkir di pinggir danau Solo Safari.

2. Joko Tingkir menyusuri Danau Solo Safari dengan Gethek

Grebeg syawalan di Solo Safari. (Dok/Istimewa)

Legenda Joko Tingkir sering mengarungi Sungai Bengawan Solo bersama sahabat- sahabatnya dan menerjang rintangan saat menyusuri Sungai Bengawan Solo. Diceritakan kembali dengan sosok Joko Tingkir yang mengarungi danau di Solo Safari, di mana danau di Solo Safari itu merupakan tempat muara dari aliran Sungai Bengawan Solo.

Gethek atau bambu rakit yang menjadi alat transportasi Joko Tingkir, melambangkan kemampuan untuk mengatasi segala rintangan dan bahaya dalam mengarungi kehidupan. Hal ini tercermin dalam tembang Mijil "Sigra Milir Sang Gethek Sinangga Bajul," yang berarti Joko Tingkir yang naik Gethek mampu mengatasi segala rintangan.

Setelah naik perahu, Joko Tingkir disambut dengan tarian yang melambangkan penyambutan dan rasa syukur setelah perjuangan panjang Joko Tingkir mengarungi Sungai Bengawan Solo dengan menggunakan "Gethek" (perahu tradisional).

Usai tarian, puncak dari acara Syawalan yakni berbagi ketupat yang memiliki makna filosofi.

Filosofi Ketupat yang memiliki makna "Ngaku Lepat" atau "Mengakui Kesalahan". Filosofi ini mengingatkan bahwa dalam kehidupan manusia, tidak ada yang luput dari kesalahan dan kekurangan.

Ketupat yang dibagikan kepada pengunjung Solo Safari memiliki makna kesadaran diri atas kesalahan dan kekurangan selama kehidupan serta kemudian mengakui hingga memperbaiki kesalahan tersebut, mengingatkan untuk selalu intropeksi diri. Masyarakat Jawa percaya bahwa berbagi ketupat melambangkan keberhasilan dalam meraih kemenangan dan kebaikan setelah berpuasa, serta memperoleh kebaikan dan mempererat tali silaturahmi antar sesama di Hari Idulfitri.

"Kami merasa terhormat dapat kembali menggelar Grebeg Syawal bersama Karaton Kasunanan Surakarta. Acara ini bukan hanya sekadar tradisi yang turun-temurun, namun juga bentuk kolaborasi antara tradisi dan pariwisata, serta sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal kepada masyarakat khususnya pengunjung Solo Safari." ujar Bapak Yustinus Sutrisno selaku General Manager di Solo Safari.

3. Sebagai ungkapan rasa syukur

Grebeg syawalan di Solo Safari. (Dok/Istimewa)

KGPH Dipokusumo menambahkan, Grebeg Syawal adalah ungkapan syukur dan kegembiraan setelah menjalankan ibadah puasa dan merayakan Hari Kemenangan Idulfitri yang dikemas dalam unsur tradisi dan budaya.

"Kami berharap melalui acara ini, masyarakat dapat lebih memahami filosofi di balik tradisi ini dan menikmati serta semakin mencintai budaya Karaton Kasunanan Surakarta lebih dekat," ujarnya.

Grebeg Syawal ikut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, antara lain Wakil Wali Kota Kota Surakarta, Ibu Astrid Widayani, Pengageng Parentah Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH Dipokusumo beserta keluarga Karaton Kasunanan Surakarta, Direktur Taman Ssatwa Taru Jurug Bapak Achmad Syukri Prihanto, Dewan Pengawas Perumda TSTJ Bapak Tulus Widajat, Kapolsek Jebres dan Danramil Jebres, serta beberapa tokoh masyarakat.

Editorial Team