Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menag Dorong Kualitas Penilaian Jadi Penentu Ajang MTQ Semarang
Pengukuhan Dewan Pengawas dan Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI di Grand Candi Hotel, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026). (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penguatan standar penilaian MTQ agar menjadi rujukan internasional, karena kualitas perhakiman dinilai menentukan keberhasilan penyelenggaraan.
  • Sebanyak 162 anggota Dewan Pengawas dan Dewan Hakim dikukuhkan untuk MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang, dengan pelatihan berkelanjutan dan kaderisasi hakim ditekankan.
  • Nasaruddin menuntut integritas serta disiplin hakim, meminta pengawasan aktif terhadap penilaian, dan mendorong penghargaan bagi dewan hakim atas pengabdian mereka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sabtu (12/9/2026)

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengukuhkan Dewan Pengawas dan Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI di Semarang. Ia mendorong penguatan standar penilaian, pelatihan berkelanjutan, integritas hakim, serta apresiasi bagi Dewan Hakim.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Menteri Agama mendorong penguatan standar penilaian, pelatihan berkelanjutan, kaderisasi hakim, serta integritas dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional XXXI Tahun 2026.
  • Who?
    Menteri Agama Nasaruddin Umar mengukuhkan 162 orang, terdiri atas tujuh Dewan Pengawas, empat pimpinan Dewan Hakim, dan 151 anggota Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI.
  • Where?
    Pengukuhan Dewan Pengawas dan Dewan Hakim berlangsung di Grand Candi Hotel, Kota Semarang, Jawa Tengah.
  • When?
    Kegiatan pengukuhan dilakukan pada Sabtu, 12 September 2026, menjelang penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026.
  • Why?
    Penguatan diperlukan karena kualitas penilaian dinilai menentukan keberhasilan MTQ, sementara Indonesia rutin menggelar MTQ dan kerap diminta mengirim hakim ke luar negeri.
  • How?
    Standar penilaian akan diperkuat melalui pelatihan hakim berkelanjutan, pengembangan kaderisasi, pengawasan langsung di lokasi lomba, serta penegakan etika, integritas, dan kedisiplinan hakim.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta penilaian lomba baca Al-Qur’an MTQ dibuat makin baik dan jujur. Di Semarang, 162 orang dilantik untuk mengawasi dan menilai lomba MTQ tahun 2026. Para hakim akan terus dilatih. Mereka juga harus disiplin dan tidak berbuat curang. Indonesia ingin penilaian MTQ bisa jadi contoh untuk negara lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pengukuhan ratusan pengawas dan hakim, disertai penekanan pada pelatihan berkelanjutan, integritas, serta pengawasan langsung, menunjukkan upaya MTQ Nasional XXXI membangun penilaian yang lebih dipercaya. Konsistensi penyelenggaraan MTQ di Indonesia dan pengalaman hakim yang kerap dibutuhkan di luar negeri memberi landasan yang wajar bagi pengembangan standar penilaian yang lebih luas, sembari menghargai pengabdian para ahli yang bertugas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong agar standar penilaian Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Indonesia terus diperkuat hingga menjadi rujukan di tingkat internasional.

Menurut Nasaruddin, kualitas penilaian menjadi salah satu penentu utama keberhasilan MTQ.

Penyelenggaraan yang baik, kata dia, tetap dapat bermasalah apabila proses penilaiannya tidak berjalan dengan baik. Karena itu, ia ingin ada pembenahan dalam sistem penilaian MTQ.

“Kali ini kita masuki suatu lembaran baru dunia perhakiman di dalam MTQ ini,” ujarnya, di sela mengukuhkan Dewan Pengawas dan Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI di Grand Candi Hotel, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026).

Sebanyak 162 orang dikukuhkan untuk menjalankan tugas dalam penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026. Mereka terdiri atas tujuh Dewan Pengawas, empat pimpinan Dewan Hakim, dan 151 anggota Dewan Hakim.

Ia juga mendorong pelatihan hakim dilakukan secara berkelanjutan agar kualitas dan kapasitas mereka terus berkembang. Nasaruddin bahkan membayangkan terbentuknya asosiasi internasional Dewan Hakim MTQ.

Menurutnya, gagasan tersebut relevan karena MTQ kini tidak hanya berkembang di negara-negara mayoritas muslim, tetapi juga digelar di sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Rusia.

Indonesia, lanjutnya, memiliki posisi kuat untuk mengambil peran tersebut. MTQ telah diselenggarakan secara konsisten di Indonesia sejak 1969, mulai tingkat daerah hingga nasional.

“MTQ ya patronnya adalah Indonesia. Tidak ada satu negara yang secara konsisten mulai dari tahun 1969 non stop sampai hari ini, kita tetap melaksanakan MTQ," ujarnya.

Menurut dia, dalam setahun terdapat sekitar 25 penyelenggaraan MTQ tingkat nasional di Indonesia yang digelar berbagai lembaga dan organisasi, mulai Korpri, lembaga pemasyarakatan, kepolisian, TNI, perguruan tinggi, hingga BUMN.

Besarnya frekuensi penyelenggaraan tersebut, menurut Nasaruddin, perlu diimbangi dengan standar penilaian yang semakin kuat. Apalagi, Indonesia juga kerap diminta mengirimkan hakim untuk penyelenggaraan MTQ di luar negeri.

Karena itu, ia mendorong pengembangan dan kaderisasi hakim sekaligus penyusunan standar penilaian yang dapat diterapkan secara lebih luas. Gagasan tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi Indonesia untuk ikut membangun standar penilaian MTQ di tingkat internasional.

Selain kemampuan teknis, Nasaruddin menekankan pentingnya integritas dan kedisiplinan para hakim. Mereka diminta menghindari segala tindakan yang dapat menimbulkan kecurigaan selama proses penilaian berlangsung.

"Teman-teman kita yang terbukti melakukan keluar daripada etika perhakiman, maka mungkin dipertimbangkan untuk kita tidak pakai lagi," tegasnya.

Dewan Pengawas juga diminta aktif memastikan proses penilaian berjalan sesuai ketentuan. Pengawasan dilakukan dengan melihat langsung kondisi di setiap lokasi lomba dan mengidentifikasi berbagai hal yang berpotensi mengganggu kualitas penilaian.

Di sisi lain, Nasaruddin menyoroti besarnya pengorbanan para Dewan Hakim yang bertugas dalam MTQ Nasional. Mereka berasal dari kalangan ahli, rektor dan wakil rektor, pendakwah, pelatih, hingga dosen senior yang harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga selama menjalankan tugas.

Karena itu, ia meminta penghargaan terhadap para Dewan Hakim tidak dikurangi. Bahkan, Nasaruddin secara khusus meminta Gubernur Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada mereka sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian selama MTQ Nasional.

"Saya menghimbau kepada Pak Gubernur, mari kita berikan semacam penghargaan khusus para dewan hakim," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article