Semarang, IDN Times - Kampung Melayu Semarang yang letaknya berada di tepian Kali Semarang terus mendapat perhatian dari kalangan akademisi.
Kondisi pemukiman yang rata-rata berada di bawah permukaan tanah memang menjadi faktor yang mempersulit kehidupan masyarakat setempat.
Bahkan dalam ujian doktoralnya di Unika Soegijapranata, pengamat wilayah dan tata kota, Ida Rahayu Widowati mengungkapkan bahwa keberadaan Kampung Melayu yang berada di pesisir Semarang memiliki sejumlah kerentanan karena areal tanahnya yang ambles.
"Kawasan pesisir itu kan kecenderungan rob, banjir, amblesan, sanitasi buruk dan kumuh. Nah problem yang seperti itu, untuk tingkat kerentanan bisa mengukur yaitu dari kepadatan," kata Ida usai memaparkan desertasinya, Selasa (21/7/2026).
Akan tetapi selama ini Kampung Melayu Semarang yang punya jejak historis panjang justru terus-menerus menghadapi solusi yang parsial. Solusi parsial yang selama ini ditempuh seperti tanggul, pompa dan relokasi.
Ia menyoroti belum adanya alat ukur yang bisa memprediksi secara spasial seberapa besar penurunan kualitas permukiman akibat rob.
"Dari kegelisahan, saya mengembangkan Model Maladaptif Spasial Kuantitatif (MMSK). Ini bisa jadi sarana mitigasi spasial untuk lokasi pesisir yang bersejarah," urainya.
Dalam metodologi risetnya, ia menyertakan variabel patologis historis ke dalam model kuantitatif. Ini jadi bagian penting untuk mengukur kerentanan kawasan pesisir bersejarah. "Karena dianggap kualitatif dan berbasis sejarah, PH sering terabaikan dalam perencanaan," jelasnya.
"Padahal hasil penelitian saya menunjukkan PH justru faktor paling dominan dengan bobot 40 persen," sambungnya. Akan tetapi selama ini Kampung Melayu Semarang yang punya jejak historis panjang justru terus-menerus menghadapi solusi yang parsial. Solusi parsial yang selama ini ditempuh seperti tanggul, pompa dan relokasi.
Ia menyoroti belum adanya alat ukur yang bisa memprediksi secara spasial seberapa besar penurunan kualitas permukiman akibat rob.
"Dari kegelisahan, saya mengembangkan Model Maladaptif Spasial Kuantitatif (MMSK). Ini bisa jadi sarana mitigasi spasial untuk lokasi pesisir yang bersejarah," urainya.
