Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menghalau Banjir di Kampung Melayu Melalui Teknik Bangunan Panggung
Hiruk pikuk jalur utama Kampung Melayu Semarang yang terlihat saat sore hari. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Penelitian Ida Rahayu Widowati menyoroti kerentanan Kampung Melayu Semarang akibat amblesan tanah, rob, dan sanitasi buruk yang belum tertangani secara menyeluruh.
  • Ida mengembangkan Model Maladaptif Spasial Kuantitatif (MMSK) untuk memprediksi penurunan kualitas permukiman pesisir bersejarah dengan memasukkan variabel patologis historis sebagai faktor dominan.
  • Ia merekomendasikan konsep rumah panggung berbahan ringan dan vertikal house agar mengurangi kepadatan serta risiko banjir, sekaligus mendukung perbaikan tata ruang kawasan pesisir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Kampung Melayu Semarang yang letaknya berada di tepian Kali Semarang terus mendapat perhatian dari kalangan akademisi. 

Kondisi pemukiman yang rata-rata berada di bawah permukaan tanah memang menjadi faktor yang mempersulit kehidupan masyarakat setempat. 

Bahkan dalam ujian doktoralnya di Unika Soegijapranata, pengamat wilayah dan tata kota, Ida Rahayu Widowati mengungkapkan bahwa keberadaan Kampung Melayu yang berada di pesisir Semarang memiliki sejumlah kerentanan karena areal tanahnya yang ambles. 

"Kawasan pesisir itu kan kecenderungan rob, banjir, amblesan, sanitasi buruk dan kumuh. Nah problem yang seperti itu, untuk tingkat kerentanan bisa mengukur yaitu dari kepadatan," kata Ida usai memaparkan desertasinya, Selasa (21/7/2026). 

Akan tetapi selama ini Kampung Melayu Semarang yang punya jejak historis panjang justru terus-menerus menghadapi solusi yang parsial. Solusi parsial yang selama ini ditempuh seperti tanggul, pompa dan relokasi. 

Ia menyoroti belum adanya alat ukur yang bisa memprediksi secara spasial seberapa besar penurunan kualitas permukiman akibat rob. 

"Dari kegelisahan, saya mengembangkan Model Maladaptif Spasial Kuantitatif (MMSK). Ini bisa jadi sarana mitigasi spasial untuk lokasi pesisir yang bersejarah," urainya.

Dalam metodologi risetnya, ia menyertakan variabel patologis historis ke dalam model kuantitatif. Ini jadi bagian penting untuk mengukur kerentanan kawasan pesisir bersejarah. "Karena dianggap kualitatif dan berbasis sejarah, PH sering terabaikan dalam perencanaan," jelasnya. 

"Padahal hasil penelitian saya menunjukkan PH justru faktor paling dominan dengan bobot 40 persen," sambungnya. Akan tetapi selama ini Kampung Melayu Semarang yang punya jejak historis panjang justru terus-menerus menghadapi solusi yang parsial. Solusi parsial yang selama ini ditempuh seperti tanggul, pompa dan relokasi. 

Ia menyoroti belum adanya alat ukur yang bisa memprediksi secara spasial seberapa besar penurunan kualitas permukiman akibat rob. 

"Dari kegelisahan, saya mengembangkan Model Maladaptif Spasial Kuantitatif (MMSK). Ini bisa jadi sarana mitigasi spasial untuk lokasi pesisir yang bersejarah," urainya.

Variabel patologis historis jadi titik kekuatan penelitian Kampung Melayu Semarang

Dalam metodologi risetnya, ia menyertakan variabel patologis historis ke dalam model kuantitatif. Ini jadi bagian penting untuk mengukur kerentanan kawasan pesisir bersejarah. "Karena dianggap kualitatif dan berbasis sejarah, PH sering terabaikan dalam perencanaan," jelasnya. 

"Padahal hasil penelitian saya menunjukkan PH justru faktor paling dominan dengan bobot 40 persen," sambungnya. 

Ia juga berkata Kampung Melayu dengan semakin padat ditambah adanya tanah uruk membuat sanitasi air tidak bisa berfungsi. 

"Maka ketika tanah dibeton, air mengalir ke rumah tetangga. Sebab itulah, pemerintah sudah benar melakukan penanganan prioritas. Jalan Kakap, Layur, Petek sudah ditangani melalui drainade dengan program Kota Tanpa Kumuh. Harapan saya tidak hanya membuat tinggi jalan tetapi harus ada perencanaan bangunan yang baru. Dengan membuat rumah vertikal house. Kalau menggunakan rumah panggung bisa mengurangi kepadatan. Salah satunya berbahan ringan, ada kaki kakinya nantinya di bawah diberi tanaman hidroponik agar tidak banjir," tuturnya. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article