Menyusul SPAM, Pembangunan Sampah Energi Listrik di Semarang Dipercepat

Semarang, IDN Times - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mempercepat realisasi pembangunan sampah energi listrik (PSEL) di Jatibarang, Semarang Barat, Kota Semarang. Proyek ini akan dipercepat usai peresmian Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Semarang Barat.
1. Proyek PSEL dikerjakan dengan sistem KPBU

PSEL akan dibangun melalui sistem kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Adapun, ini merupakan proyek kedua pemkot melalui sistem KPBU setelah terealisasinya SPAM Semarang Barat.
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat melakukan peresmian SPAM Semarang Barat, beberapa waktu lalu.
‘’Presiden Jokowi meminta Pemkot Semarang agar proyek PSEL dengan sistem KPBU ini bisa segera terealisasi. Saat ini proyek PSEL sudah masuk dalam proyek strategis nasional (PSN). Ada 12 kota di Indonesia yang akan membangun PSEL dengan sistem KPBU, satu di antaranya Kota Semarang,’’ jelasnya, Selasa (30/1/2024).
Menurut dia, tahapan rencana pembangunan PSEL saat ini sudah mulai. Rencana ini sudah sampai di tangan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Pihaknya berharap, Presiden RI bisa mendorong Kemenkeu agar proyek strategis nasional tersebut bisa segera terealisasi. S
2. PSEL akan atasi persoalan sampah numpuk

‘’PSEL ini cukup penting dalam mengatasi persoalan sampah di Ibu Kota Jawa Tengah. Agar sampahnya tidak menumpuk, bisa menjadi listrik, akan disalurkan kepada masyarakat," tuturnya.
Sebelumnya, di Kota Semarang sudah ada pengolahan sampah di TPA Jatibarang melalui penimbunan sampah menjadi gas metan untuk menjadi listrik. Namun, kini gas metan tersebut berkurang dan tidak bisa lagi menghasilkan listrik.
"Dulu itu penimbunan gas metan. Kalau PSEL sampah diolah dari sampah jadi energi listrik. Sistemnya diolah seperti batubara," jelasnya.
Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Bambang Suranggono mengatakan, persiapan program PSEL cukup panjang, mengingat banyak dokumen yang harus dipersiapkan.
3. PSEL berbeda dengan PLTSa

‘’Progam PSEL ini berbeda dengan inovasi yang sebelumnya telah dilakukan oleh Pemkot Semarang untuk penanganan sampah, yakni pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa),’’ katanya.
Untuk diketahui, PLTSa merupakan inovasi dengan sistem sanitary landfill dan control landfill. Sampah di TPA Jatibarang diubah menjadi tenaga listrik dengan cara menutup membran. Ada 15 sumur bor untuk memutar turbin.
Inovasi PLTSa ini hanya berguna mengurangi gas emisi yang ditimbulkan dari tumpukan sampah. Gas yang mencemari lingkungan diambil. Hanya saja, sampah padat masih ada namun sudah ditutup membran sehingga tidak akan longsor atau tumpah.
Adapun untuk mengurangi tumpukan sampah, Pemkot Semarang kemudian menyiapkan inovasi PSEL menggunakan insenerator. Sampah dimasukan ke insenetator dan dibakar di dalamnya.
"Hasil pembakaran panas itu untuk menggerakan turbin. Jadi, ini metode yang beda. Kami masih mempersiapkan dokumen untuk PSEL," tandas Bambang.



















