Merawat Watt di Ruang Rawat RS Roemani Semarang Agar Tetap Sehat

- RS Roemani Semarang menghadapi tekanan biaya akibat turunnya kunjungan pasien hingga 20 persen, mendorong manajemen menerapkan kebijakan efisiensi energi tanpa mengorbankan mutu layanan medis.
- Langkah penghematan dilakukan melalui patroli rutin, peremajaan AC dan lampu LED, serta perubahan perilaku karyawan agar hemat listrik namun tetap menjaga kenyamanan dan keselamatan pasien.
- Untuk jangka panjang, rumah sakit menyiapkan sistem pendingin cerdas berbasis Building Management System di gedung baru guna mengoptimalkan konsumsi energi sesuai kebutuhan tiap ruangan.
Semarang, IDN Times - Rumah sakit tidak bisa menggunakan logika efisiensi yang sama dengan gedung perkantoran. Di fasilitas kesehatan, pendingin udara, sirkulasi, pencahayaan, dan berbagai perangkat penunjang tidak hanya diciptakan untuk kenyamanan, tetapi juga untuk menjaga mutu layanan dan mengendalikan infeksi. Oleh karena itu, ketika biaya energi membesar, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana menekan tagihan, melainkan bagaimana menekan pemborosan tanpa sedikit pun mengorbankan layanan klinis.
Dilema itulah yang sedang dipecahkan oleh RS Roemani Muhammadiyah Semarang. Rumah sakit yang berdiri sejak 27 Agustus 1975 itu setiap hari melayani sekitar 60–65 pasien rawat inap serta 600–700 kunjungan rawat jalan. Layanan mereka beragam, mulai dari perawatan rutin hingga tindakan presisi tinggi seperti bedah bariatrik dan pemecahan batu ginjal tanpa sayatan (Retrograde Intrarenal Surgery/RIRS).
Di atas lahan seluas 13.000 meter persegi tersebut, beban energi terbesar disedot oleh sistem pendingin udara atau Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC). Konsumsinya memakan 40 hingga 60 persen dari total daya gedung. Angka itulah yang membuat efisiensi energi di rumah sakit bak buah simalakama.
Di satu sisi, menekan biaya listrik akan menyelamatkan napas operasional. Di sisi lain, penghematan yang keliru bisa merusak suhu ruang, memicu infeksi, dan mengancam keselamatan pasien.
Table of Content
Tekanan Biaya Memaksa Bergerak

Di RS Roemani Semarang, inisiatif efisiensi energi tidak lahir dari slogan pemanis manajemen, melainkan dari tekanan operasional yang nyata mereka alami.
Pada Mei 2024, Direktur Umum dan AIK RS Roemani, Syaifulloh, dihadapkan pada tren penurunan angka kunjungan pasien yang menyentuh titik terbawah, turun hingga 20 persen. Situasi tersebut menekan arus kas operasional rumah sakit. Sebagai respons cepat, manajemen menerbitkan surat edaran efisiensi yang menyasar penggunaan listrik, logistik, dan tenaga kerja.
“Saya menginstruksikan semua harus efisien, termasuk pengadaan logistik dan tenaga,” papar Syaifulloh saat ditemui IDN Times di kantornya, Jalan Wonodri Nomor 22, Semarang, Rabu (8/4/2026).
Dampak dari kebijakan "ikat pinggang" itu langsung terlihat. Simak data visualisasi berikut ini.
Pada awal 2024, sebelum pengetatan berjalan, rata-rata beban listrik bulanan rumah sakit mencapai Rp275.400.000. Setelah edaran diterbitkan, tagihan turun menjadi Rp238.150.000 pada bulan pertama. Memasuki awal 2025, nilainya terus ditekan hingga stabil di kisaran Rp218.450.000 per bulan.
Dari langkah tersebut, rumah sakit berhasil menyelamatkan dana rata-rata Rp55.000.000 setiap bulannya—sebuah margin yang krusial untuk menopang biaya operasional di saat volume pasien belum pulih sepenuhnya.
“Penurunan tagihan ini tidak datang dari satu keputusan besar, tapi terbentuk dari banyak perubahan kecil yang diawasi setiap hari,” tambah Syaifulloh.

Salah satu "perubahan kecil" yang dimaksud Syaifulloh justru digerakkan oleh unit yang biasanya tidak diasosiasikan dengan urusan energi: Pelayanan dan Pengamanan (Yanpam).
Mualiman, Koordinator Yanpam RS Roemani, mengerahkan 17 personelnya dalam dua putaran sif. Setiap pukul lima pagi dan menjelang sore, mereka menyusuri 28 titik patroli yang tersebar di lima gedung utama. Tugas mereka spesifik: memastikan tidak ada lampu lorong atau unit AC yang menyala sia-sia di ruangan tidak berpenghuni.
“Contohnya di poliklinik. Kalau ada AC yang masih menyala di jam yang sudah tidak digunakan, pasti langsung kami matikan. Itu sudah jadi SOP kami,” ungkap Mualiman sembari memantau layar CCTV di ruang kerjanya.
Namun, kedisiplinan itu tidak dijalankan seperti robot. Petugas tetap dituntut membaca situasi. Jika cuaca sore mendadak mendung dan lorong menjadi gelap, lampu harus dinyalakan lebih awal agar pengunjung tidak tersandung. Petugas juga “memburu” keran air yang bocor, karena bagi Mualiman, air yang menetes sia-sia sama dengan pompa yang terus bekerja dan menyedot listrik secara muspra (sia-sia).
Tentu saja, praktik di lapangan tidak lepas dari friksi. Mualiman bercerita, kadang muncul perdebatan kecil dengan petugas kebersihan yang menyalakan kembali lampu lorong saat mengepel lantai, tetapi lupa mematikannya setelah selesai.
“Ujung-ujungnya, sering kali kami yang kena tegur,” kenangnya. Hal tersebut membuktikan bahwa efisiensi menuntut komunikasi dan koordinasi yang konsisten antar-unit.
Dari Manual ke Peremajaan Teknis
Pengawasan manual oleh tim keamanan tidak akan maksimal jika perangkatnya sendiri sudah aus. Menyadari hal itu, Unit Pemeliharaan Sarana yang dipimpin Haryanto bergerak mengaudit sekitar 500 unit AC di lingkungan rumah sakit. Keputusannya tegas: AC berusia di atas 10 tahun harus dipensiunkan karena konsumsi dayanya yang rakus.
Peremajaan juga menyasar sistem tata cahaya. Lebih dari 50 persen lampu neon 60 watt di bangunan lama diganti secara bertahap dengan lampu LED berdaya 13–15 watt yang jauh lebih efisien namun dengan terang yang setara.
Sementara untuk perangkat medis, polanya diubah. Alat-alat tidak lagi dibiarkan menyala seharian, melainkan baru dihidupkan dan dipanaskan lima hingga 10 menit sebelum tindakan dimulai. Dari situ terlihat filosofi manajemen, yakni pemborosan ditekan dengan memangkas energi yang terbuang sia-sia, tidak dengan menyunat fungsi layanan.

Upaya perbaikan yang diterapkan oleh manajemen RS Roemani Semarang memang terdengar logis. Akan tetapi, rumah sakit tersebut menghadapi kendala mendasar: tindakan yang sepintas terlihat "hemat" oleh orang awam belum tentu diperbolehkan dari sudut pandang medis.
Salah satu benturannya terjadi pada aturan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dari BPJS yang mewajibkan suhu kamar dijaga ketat pada rentang 20–26 derajat Celsius. Haryanto mencontohkan, ketika petugas kebersihan mencoba berhemat dengan membuka jendela agar cahaya matahari masuk dan lampu bisa dimatikan, tindakan itu justru menjadi bumerang.
“Kalau jendela dibuka, suhu panas dari luar masuk. AC malah kerjanya ngoyo (berat) untuk mengembalikan suhu ruangan sesuai standar,” jelas Haryanto.
Pembatasan yang lebih ketat dan mutlak berlaku di area kritis. Menurut Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) RS Roemani, Sri Saidah, kebijakan efisiensi energi mutlak tidak boleh diterapkan pada area seperti ruang operasi bedah, Intensive Care Unit (ICU), dan ruang isolasi bertekanan.
Di ruangan-ruangan tersebut, HVAC tidak semata sebagai alat pendingin, melainkan ujung tombak pengatur kelembapan dan arah sirkulasi udara untuk mencegah penularan penyakit.
Intervensi pada mesin pendingin hanya dapat ditoleransi di ruang isolasi yang sedang tidak berpenghuni. Namun, ketika penghematan mulai menyentuh keselamatan klinis, upaya tersebut harus dihentikan secara mutlak demi keselamatan nyawa manusia.
“Kalau dipaksakan berhemat di sana, imbasnya adalah potensi infeksi silang. Pada pasien operasi, infeksi ini bisa memicu fatalitas dan tuntutan hukum,” tegas Sri.
Membangun Budaya Baru

Karena area kritis tidak bisa diganggu gugat, rumah sakit mengalihkan fokus penghematan pada perubahan kebiasaan manusia di area non-kritis. Salah satunya melalui kampanye pembatasan penggunaan lift. Karyawan dan pengunjung didorong memakai tangga jika hanya berpindah satu atau dua lantai.
Staf Humas RS Roemani, Sigit Budhiarto, membingkai langkah itu dengan elegan. Ia tidak menjualnya sebagai "larangan", melainkan sebagai gerakan "budaya hidup sehat". Pesan tersebut disisipkan dalam forum doa pagi, rapat operan sif, hingga stiker dan poster di dinding lift.
Pemahaman risiko ikut ditanamkan. Melalui Diklat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), pekerja diingatkan bahwa membiarkan komputer menyala 24 jam bukan hanya soal tagihan listrik, melainkan risiko overheat (panas berlebih) yang bisa memicu korsleting dan kebakaran gedung.
Budaya baru itu mulai mendarah daging. Erla Ardien, seorang perawat poliklinik, kini terbiasa baru menyalakan lampu dan komputer sesaat sebelum jadwal pelayanan. Meski kadang merasa canggung jika ada dokter spesialis yang datang lebih awal saat ruangan masih temaram, Erla punya prinsip teguh.
“Yang paling penting, begitu pasien datang, langsung kita layani dengan baik,” tuturnya.
Terbukti, efisiensi yang presisi tidak mengorbankan kenyamanan. Amelia Mayawati, salah seorang pasien, mengaku tidak masalah dengan lorong yang sedikit lebih redup di jam tertentu. “Tetap aman dan nyaman. Tidak terasa panas sama sekali,” ucapnya. Layanan penunjang kerohanian bagi pasien pun tetap berjalan normal tanpa gangguan.
Menuju Sistem yang Cerdas
Bagi pakar efisiensi energi Mada Ayu Habsari, langkah RS Roemani mematikan saklar dan mengganti alat boros adalah fondasi yang baik. Namun, dia menekankan bahwa akar permasalahan tagihan listrik rumah sakit yang membengkak seringkali terletak pada praktik manajemen fasilitas yang kurang efisien.
Secara khusus, sering terjadi penerapan suhu pendingin udara yang seragam dan tidak terdiferensiasi di seluruh area gedung, terlepas dari fungsi ruangan, tingkat hunian, atau kebutuhan spesifik pasien. Pendekatan "satu suhu untuk semua" itu mengabaikan potensi penghematan energi yang signifikan.
Ia mencontohkan, area administrasi yang tidak beroperasi 24 jam seharusnya tidak memerlukan pendinginan seintensif ruang operasi atau unit perawatan intensif (ICU) yang membutuhkan kondisi steril dan suhu yang sangat terkontrol.
“Inefisiensi tersebut menunjukkan perlunya audit energi yang komprehensif dan implementasi sistem manajemen gedung (Building Management System/BMS) yang lebih cerdas dan adaptif, yang mampu mengoptimalkan suhu berdasarkan zona, waktu, dan kebutuhan aktual, alih-alih mengandalkan pengaturan statis,” aku Mada saat dihubungi IDN Times, Jumat (10/4/2026).
Oleh karena itu, untuk jangka panjang, Mada juga menyarankan untuk penggunaan Building Automation System (BAS) agar kendali energi tidak semata bergantung pada patroli manusia.
Direktur 1000 Cahaya, Hening Parlan, juga memiliki pandangan serupa. Ia berpendapat bahwa pengelolaan energi di rumah sakit sangatlah rumit, seperti berjalan di atas tali, karena gedung harus beroperasi 24 jam dengan standar keselamatan yang sangat ketat.
"Suhu dan ventilasi harus tepat. Penghematan tidak boleh dilakukan sembarangan," tegas Hening.
Menjawab tantangan tersebut, RS Roemani kini bersiap "naik kelas". Pada menara baru Gedung Ibrahim setinggi 13 lantai—yang rencananya diresmikan pertengahan 2026—manajemen akan menerapkan sistem pendingin sentral berjenis chiller. Kompresor cerdas tersebut diklaim mampu membaca kebutuhan ruangan dan otomatis menyesuaikan tarikan daya dengan jumlah orang di dalamnya.

Efisiensi energi di RS Roemani pada akhirnya tidak hanya berdampak pada aspek keuangan, tetapi juga berhasil mengubah pola pikir karyawannya. Sebagai contoh, Mualiman, komandan keamanan, yang terbiasa menertibkan penggunaan listrik di tempat kerjanya, secara bertahap menerapkan kebiasaan tersebut dalam kehidupan pribadinya di rumah.
Kini, ia mengaku menjadi lebih hemat dalam pengeluaran luar, seperti memangkas jajan, demi menabung untuk pendidikan anaknya.
“Kita bisa sinau urip (belajar hidup) di rumah sakit ini,” tutur Mualiman. “Seakeh-akehe duit diterima di tangan, kalau tidak bersyukur ya kurang. Berapa pun yang kita dapat, dengan syukur pasti cukup,” renungnya.
Inti dari pengalaman itu adalah: penghematan di rumah sakit menuntut kedisiplinan dan perhitungan yang saksama. Pihak rumah sakit berupaya keras melakukan penghematan di sektor-sektor yang memungkinkan, namun mereka juga berani mengesampingkan upaya efisiensi tersebut jika keselamatan dan nyawa pasien menjadi prioritas utama yang harus diselamatkan.
Keberhasilan upaya penghematan tidak terletak pada jumlah saklar yang dimatikan, melainkan pada kecerdasan dalam menjaga batasan, demi memastikan setiap pasien bisa kembali ke rumah dengan selamat.
















