Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ruang Hidup, Art Therapy Atasi Luka Batin Via Lukisan dan Surat

Ruang Hidup, Art Therapy Atasi Luka Batin Via Lukisan dan Surat
Eka Risma bersama lukisannya, pencetus Raung Hidup Art Therapy Pertama di Purwokerto sarana menyembuhkan luka natin lewat lukisan dan surat, Senin (18/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Intinya Sih
  • Komunitas Ruang Hidup didirikan oleh Eka Risma pada Maret 2025 di Purwokerto sebagai ruang aman untuk penyembuhan batin melalui seni lukis dan penulisan surat.
  • Setiap sesi art therapy menekankan keberanian mengekspresikan diri tanpa penilaian, bahkan melibatkan kolaborasi dengan warga binaan rutan yang menulis surat berisi emosi terdalam mereka.
  • Seni dipandang sebagai jembatan penyembuhan; warna dan goresan mencerminkan kondisi emosional peserta, membantu mereka melepaskan beban batin secara sehat dan penuh harapan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Purwokerto, IDN Times - Di tengah hiruk pikuk kesadaran kesehatan mental yang semakin tinggi, sebuah komunitas sederhana hadir dengan pendekatan yang berbeda, namanya Komunitas Ruang Hidup. Bukan hanya sebatas komunitas seni, namun menjadi ruang aman bagi siapa saja yang merasa gelap, buntu, dan kehilangan tempat untuk bercerita.

Didirikan pada Maret 2025 oleh Eka Risma yang juga salah satu Host TV lokal di Banyumas, komunitas ini menjadi pionir art therapy di Purwokerto.

Melalui seni lukis dan penulisan surat, Ruang Hidup mengajak peserta dari anak muda hingga warga binaan di rutan rutan untuk melepaskan emosi secara sehat tanpa tuntutan menghasilkan karya “bagus”.

1. Lahir dari pengalaman pribadi pendirinya

Seorang perempuan mempresentasikan topik berjudul 'What is Ruang Hidup?' di depan layar, didampingi seorang pria di ruangan dengan meja dan bunga hias.
Sebagai pelukis, Eka Risma mengaku ia pernah mengalami fase berat stress dan depresi, Senin (18/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Dalam perbincangan dengan IDN Times, Senin (18/5/2026), Eka Risma sebut bukan datang dari ruang kosong. Sebagai pelukis, ia pernah mengalami fase berat stress dan depresi. Saat itu ia bingung harus meluapkan emosi ke mana. Ia tidak merokok, tidak minum, hingga akhirnya mencoba melukis dengan cara ekstrem: menyobek robek kanvas menggunakan pisau.

"Ternyata itu sangat efektif, lega sekali, tanpa perlu bercerita, emosi bisa keluar lewat kanvas,"kenang Eka.

Pengalaman itu menjadi fondasi utama Komunitas Ruang Hidup. Ia ingin membantu orang-orang yang merasa sendiri, gelap, dan kehilangan harapan. "Setiap masalah pasti ada solusinya. Kami hanya memberikan media dan ruang cahaya,"ujarnya.

Nama “Ruang Hidup” sendiri memiliki makna filosofis yang dalam. Komunitas ini ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah kegelapan hidup, selalu ada ruang untuk cahaya, kesempatan untuk pulih, dan menjadi manusia yang utuh kembali.

2. Bukan soal karya bagus, tapi keberanian mengekspresikan diri

Peserta art therapy duduk di sekitar meja panjang dengan kanvas dan cat, melukis simbol serta warna yang mewakili perasaan mereka.
Dalam setiap sesi art therapy, peserta diajak melukis apa saja warna, simbol, bentuk yang merepresentasikan isi hati mereka, Senin (18/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Dalam setiap sesi art therapy, peserta diajak melukis apa saja warna, simbol, bentuk yang merepresentasikan isi hati mereka. Tidak ada penilaian benar salah atau bagus tidaknya. Yang terpenting adalah proses pelepasan emosi (emotional release).

Tim inti komunitas ini terdiri dari berbagai latar belakang, Eka Risma (Founder & Art Specialist), Andika Kurniawan Pradana, S.Psi. (Praktisi SDM), Ismiyati Hanum (Designer Grafis), serta Nining (Art Specialist), Yunan, Farraz, Faiz, dan Rafin. Mereka menciptakan suasana hangat, suportif, dan bebas stigma agar peserta merasa aman.

Komunitas Ruang Hidup tidak hanya berhenti di Purwokerto. Mereka aktif berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya UIN Saizu Purwokerto dan Komunitas Growe Wonosobo.

Kolaborasi paling menggugah hati terjadi bersama warga binaan Rutan Kelas IIA Yogyakarta. Karena keterbatasan komunikasi, mereka menggunakan media surat sebagai bentuk terapi. Para warga binaan menulis segala yang terpendam rindu kepada ibu, anak, pasangan, penyesalan, harapan, hingga permintaan maaf.

Risma menyebut banyak di antara mereka yang menangis saat menulis, karena untuk pertama kalinya, mereka memiliki ruang privat untuk mengeluarkan beban batin tanpa takut dihakimi.

3. Seni sebagai jembatan penyembuhan

Sekelompok orang berpose bersama hasil lukisan mereka di sebuah kafe dengan dinding penuh bingkai seni dan pencahayaan hangat.
Bagi Eka Risma, lukisan bukan hanya sebuah gambar. Warna, garis, dan intensitas sapuan kuas mencerminkan kondisi emosional seseorang, Senin (18/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Bagi Eka Risma, lukisan bukan hanya sebuah gambar. Warna, garis, dan intensitas sapuan kuas mencerminkan kondisi emosional seseorang. Lukisan yang “serem” dengan dominasi merah bisa mencerminkan luka dan kemarahan. Sementara warna cerah menandakan harapan.

"Daripada meluapkan emosi ke hal negatif, lebih baik kita melukis. Hasilnya bisa menjadi karya yang indah,"katanya.

Iq berharap Komunitas Ruang Hidup terus berkembang dengan semangat bertumbuh bersama. Mereka ingin menjadi rumah bagi siapa saja yang sedang berproses, sekaligus memperluas edukasi kesehatan mental tanpa stigma.

"Di Ruang Hidup, seni bukan tentang keindahan, ia adalah tentang keberanian untuk merasakan, mengakui, dan melepaskan, iq adalah tentang harapan bahwa di balik kegelapan, selalu ada ruang untuk hidup yang lebih terang,"jelas Risma.

4. Kepala Rutan Kelas IIA Yogyakarta, mengapresiasi program ini

Seorang perempuan berbicara di depan narapidana yang mengenakan seragam biru dalam sesi art therapy di Yogyakarta.
Eka Risma, saat membantu warga binaan mengatasi tingkat stress. (IDN Times/Dok. Eka Risma)

Kepala Rutan Kelas IIA Yogyakarta, Tri Agung Arianto mengapresiasi program yang dikembangkan Eka Risma. Disebutkan Ruang Hidup dapat menjadi terobosan diversifikasi kegiatan ke depannya.

"Saya mengucapkan apresiasi untuk Ruang Hidup, kegiatan ini telah membantu warga binaan mengatasi tingkat stress akibat proses persidangan dan penahanan, ini bisa menjadi terobosan diversifikasi kegiatan ke depannya,"katanya seperti disampaikan Risma.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More