Survei WVS: Mayoritas Warga Indonesia Bahagia Meski Ekonomi Pas-pasan

Surakarta, IDN Times - Hasil survei World Values Survey (WVS) Indonesia mengungkap mayoritas masyarakat Indonesia tetap merasa bahagia meski berada dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah. Temuan itu menunjukkan kebahagiaan warga tidak hanya ditentukan faktor materi atau kondisi ekonomi semata.
Peneliti menjelaskan survei dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah sehingga mayoritas responden berasal dari masyarakat umum. Data tersebut dinilai mampu menggambarkan kondisi mayoritas masyarakat Indonesia saat ini.
“Nah, di sini Indonesia memang happy, gitu ya,” Ketua Tim Peneliti Fakultas Psikologi UNS, Dr. Phil. Ayu Okvitawanli, kepada awak media, Senin (18/5/2026).
1. Lebih dari 90 Persen Warga Mengaku Bahagia.

Dalam hasil survei, sebanyak 56,7 persen responden mengaku cukup bahagia dengan kehidupannya. Sementara 38,69 persen lainnya menyatakan sangat bahagia.
Temuan itu disebut sejalan dengan data Global Flourishing yang menunjukkan masyarakat tetap merasa baik meski hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Menurut peneliti, masyarakat Indonesia cenderung mencari sumber kebahagiaan lain di luar faktor ekonomi. Hubungan keluarga, pertemanan, hingga nilai keagamaan menjadi faktor penting yang membuat masyarakat tetap merasa bahagia.
“Jadi kalau data kami menunjukkan bahwa arahnya lebih ke sana,” katanya.
Ia mencontohkan pola pikir seperti “makan nggak makan yang penting ngumpul” masih kuat di tengah masyarakat Indonesia dan menjadi gambaran bahwa kedekatan sosial lebih diprioritaskan dibanding kepuasan material.
2. Warga Mulai Lelah dengan Situasi Politik

Selain mengukur tingkat kebahagiaan, survei tersebut juga menemukan tingginya sikap apatis masyarakat terhadap politik. Sebanyak 68,33 persen responden mengaku tidak tertarik atau hanya sedikit tertarik terhadap isu politik.
Peneliti menilai kondisi itu dipengaruhi situasi politik yang semakin rumit dan melelahkan secara mental. Banyaknya arus informasi, kontroversi, hingga perdebatan politik membuat masyarakat mengalami cognitive fatigue atau kelelahan kognitif.
“Orang mengalami keletihan secara mental. Dan itu membuat orang tidak lagi tertarik pada isu politik, 68,33 persen,” jelasnya.
Survei juga menemukan mayoritas responden tidak memiliki kedekatan dengan partai politik tertentu. Namun, kelompok kecil masyarakat yang memiliki ketertarikan politik justru cenderung sangat loyal terhadap pilihannya.
Menurut peneliti, situasi tersebut membuat ruang dialog politik menjadi kurang sehat karena perdebatan lebih banyak diwarnai sikap mempertahankan pilihan politik masing-masing.
“Artinya bahwa secara proyek perkembangan demokrasi, ini tentu kurang mendukung ya. Perkembangnya demokrasi yang deliberatif, demokrasi yang mengedepankan dialog dan permusyawarakatan,” pungkasnya.
3. Penelitian dilakukan di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta resmi mengumumkan keberhasilan penyelesaian pengambilan data World Values Survey (WVS) Gelombang ke-8 di Indonesia, yang dilaksanakan selama lima bulan penuh, dari Agustus hingga Desember 2025. Pencapaian ini menempatkan UNS sebagai institusi akademik pertama dan satu-satunya di Indonesia yang dipercaya mengemban amanah sebagai Principle Investigator resmi oleh WVS Association, lembaga internasional yang berkedudukan di Vienna, Austria.
Hal ini disampaikan WVS 8 Principal Investigator yang juga Ketua Tim Peneliti Fakultas Psikologi UNS, Dr. Phil. Ayu Okvitawanli yang turut didampingi Anggota Tim Peneliti, Dr. Moh. Abdul Hakim, S.Psi., M.A. saat memberikan Konferensi Pers kepada media di Ruang Sidang 4 Gedung Rektorat UNS, Senin (18/5/2026). Dr. Phil. Ayu menyampaikan bahwa Fakultas Psikologi UNS menyediakan data tersebut secara open access dengan berbagai infografis pada website https://wvsindonesia.uns.ac.id.
Pengambilan data WVS Gelombang ke-8 di Indonesia dilaksanakan dengan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari lebih dari 300 butir pertanyaan, mencakup 14 tema nilai utama. Survei ini menjangkau lebih dari 2.306 responden dari 247 kecamatan di 18 provinsi di Indonesia. Survei dilaksanakan dengan strategi multistage random sampling yang menjamin keterwakilan populasi secara nasional.



















