Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mitos Pernikahan Jilu: Alasan di Balik Larangan Anak Pertama Nikah dengan Anak Ketiga

Mitos Pernikahan Jilu: Alasan di Balik Larangan Anak Pertama Nikah dengan Anak Ketiga
pernikahan adat Jawa (pexels.com/ONEPROPHOTO PHOTO & CINEMA)
Intinya Sih
  • Larangan pernikahan antara anak pertama dan anak ketiga (Jilu atau Lusan) merupakan gugon tuhon dalam budaya Jawa yang diramalkan bisa membawa kesialan.

  • Secara psikologis dan sosiologis tradisional, mitos ini muncul karena kekhawatiran orang tua terhadap benturan karakter yang ekstrem antara si sulung dan si bungsu/anak ketiga.

  • Adat Jawa menyediakan jalan tengah berupa ruwatan atau tradisi tolak bala bagi pasangan yang tetap ingin melangsungkan pernikahan dengan aman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagi kamu yang sedang merencanakan pernikahan dalam lingkup kultur budaya Jawa, urutan kelahiran ternyata bisa menjadi topik yang sensitif. Salah satu mitos yang paling sering membuat pasangan kekasih ketar-ketir adalah larangan pernikahan Jilu (singkatan dari siji karo telu) atau sering juga disebut mitos Lusan (telu lan pisan).

Gugon tuhon atau kepercayaan turun-temurun ini melarang keras anak pertama menikah dengan anak ketiga. Konon, jika nekat dilanggar, rumah tangga mereka diramalkan akan ditimpa berbagai malapetaka hebat. Mengapa aturan adat ini bisa terbentuk dan bagaimana cara menyikapinya? Yuk, bedah mitos ini dari sudut pandang yang lebih rasional!

1. Benturan Karakter Ekstrem Antara Si Sulung dan Anak Ketiga

Ilustrasi penamaan nama adat Jawa (pexels.com/sigit foto)
Ilustrasi penamaan nama adat Jawa (pexels.com/sigit foto)

Jika dibedah dari sisi psikologi tradisional, alasan utama orang tua zaman dahulu mengkhawatirkan hubungan ini sebenarnya terletak pada perbedaan watak yang terlalu kontras. Anak pertama (mbarep) umumnya dibentuk sejak kecil untuk menjadi sosok yang mandiri, dominan, kaku, dan terbiasa memikul tanggung jawab besar.

Sebaliknya, anak ketiga (pengeret) sering kali tumbuh dengan watak yang lebih santai, manja, atau cenderung menyukai kebebasan. Perbedaan kepribadian yang sangat bertolak belakang inilah yang ditakutkan bisa memicu konflik horizontal dan pertengkaran hebat dalam urusan domestik rumah tangga.

2. Filosofi Posisi yang Dianggap Pincang

ilustrasi upacara pernikahan adat Jawa (Pexels.com/afiful huda)
ilustrasi upacara pernikahan adat Jawa (Pexels.com/afiful huda)

Selain faktor karakter, masyarakat tradisional Jawa juga sangat memperhatikan filosofi angka dan posisi dalam silsilah keluarga. Dalam hitungan keharmonisan, kombinasi angka 1 dan 3 dinilai tidak memiliki "penengah" atau jembatan yang pas.

Hubungan antara anak pertama dan ketiga ini dianggap tidak seimbang (ora matuk) secara kosmologis. Dari pemahaman filosofis yang kaku inilah berkembang berbagai ramalan kesialan yang ekstrem, mulai dari isu serat rezeki (kesulitan finansial), risiko anggota keluarga yang sering sakit-sakitan, hingga mitos kematian salah satu pasangan atau orang tua.

3. Berbagai Ritual "Penangkal" Adat atau Tolak Bala

ilustrasi pernikahan adat Jawa (pexels.com/ONEPROPHOTO PHOTO & CINEMA)
ilustrasi pernikahan adat Jawa (pexels.com/ONEPROPHOTO PHOTO & CINEMA)

Meski larangannya terdengar menyeramkan, kebudayaan Jawa sebenarnya selalu memiliki ruang kompromi. Bagi pasangan Jilu yang tetap ingin melanjutkan pernikahan tanpa membuat orang tua cemas, adat biasanya menyediakan jalan keluar lewat ritual ruwatan atau tolak bala:

  • Sarat Potong Hewan: Mengadakan acara sedekah atau menyembelih ayam/kambing sebagai simbolis untuk membuang nasib buruk sebelum prosesi akad nikah dimulai.

  • Adopsi Spiritual (Angkat Anak): Secara simbolis, salah satu pengantin akan "diangkat anak" terlebih dahulu oleh kerabat dekat yang memiliki urutan kelahiran berbeda. Dengan begitu, status urutan kelahiran aslinya dianggap gugur demi hukum adat.

  • Perhitungan Weton yang Kuat: Jika hasil penjumlahan neptu weton lahir kedua pasangan menghasilkan kategori yang sangat bagus (seperti Ratu atau Sarasah), maka energi positif dari weton tersebut dipercaya mampu meredam mitos Jilu.

Pada akhirnya, dari kacamata medis, psikologi modern, maupun hukum agama, larangan Jilu ini murni merupakan bagian dari folklore atau warisan budaya lisan yang tidak memiliki dasar hukum mutlak. Keberhasilan dan keharmonisan sebuah rumah tangga sepenuhnya kembali pada tingkat kedewasaan, komitmen, serta pola komunikasimu dengan pasangan.

Apakah kamu atau orang terdekat ada yang berhasil mendobrak mitos Jilu ini dan hidup bahagia hingga sekarang? Yuk, ceritakan pengalaman inspiratif kamu di kolom komentar!

Share Article
Editorial Team

Latest News Jawa Tengah

See More