Semangkuk bubur ayam perlahan dingin di meja makan Fiya, Sabtu (30/5/2026) malam. Jangankan mengunyah, mengatupkan rahang saja memicu nyeri berdenyut hingga ke kepala. Setelah hampir tiga tahun menahan sakit yang datang dan pergi, perempuan bernama lengkap Ashfiyatul Mardiyatillah itu akhirnya tidak sanggup lagi.
Nomor Antrean 2 yang Mengakhiri Tiga Tahun Ketakutan

- Fiya menahan nyeri gigi hampir tiga tahun karena takut operasi, lalu memperoleh antrean poli gigi melalui Mobile JKN yang didaftarkan suaminya dari Jakarta.
- Pemeriksaan di Puskesmas Mranggen III menemukan periodontitis akut, bukan kebutuhan operasi segera; Fiya mendapat obat, edukasi, dan layanan yang ditanggung sesuai ketentuan JKN.
- Dana Rp3–5 juta yang semula disiapkan untuk operasi digunakan sebagai modal usaha Cumi Item, sementara layanan digital JKN tetap dinilai perlu didampingi akses tatap muka.
Sambil menangis, Fiya menelepon suaminya yang sedang berdinas di Jakarta. Dari jarak ratusan kilometer, suaminya membuka Mobile JKN dan mendaftarkannya ke poli gigi Puskesmas Mranggen III, Kabupaten Demak.
Berkat data kepesertaan keluarga yang terintegrasi, beberapa menit kemudian tangkapan layar nomor antrean 2 tiba di ponsel Fiya.
“Saya menelepon sambil menangis menahan sakit. Suami kemudian mendaftarkan saya lewat Mobile JKN dari Jakarta dan mengirimkan tangkapan layar nomor antreannya malam itu juga,” kenang Fiya kepada IDN Times, Rabu (22/7/2026).
Nomor antrean itu belum menghilangkan nyeri, tetapi meredakan kepanikannya. Kepastian itu membuat Fiya dapat datang sesuai jadwal pelayanan pada Selasa (2/6/2026), tanpa harus mengantre sejak subuh.
Ketakutan yang Tumbuh dari Potongan Informasi

Meski aktif sebagai peserta JKN, hampir tiga tahun Fiya tidak memeriksakan kembali keluhan giginya karena takut menjalani operasi.
Ketakutan itu bermula setelah menjalani pembersihan karang gigi sekitar tiga tahun silam. Berdasarkan ingatan Fiya, saat itu dirinya mendapat penjelasan bahwa gigi bungsunya bermasalah dan mungkin memerlukan operasi. Sejak saat itu, bayangan meja operasi, wajah bengkak, dan biaya jutaan rupiah terus menghantuinya.
Media sosial memperbesar kecemasan tersebut. Video mengenai operasi gigi bungsu dan informasi bahwa gigi tidak lagi tumbuh setelah usia 30 tahun membuat Fiya makin yakin setiap nyeri pada rahangnya pasti berujung operasi.
“Pikiran saya ke mana-mana. Saya membayangkan operasi yang menakutkan dan biayanya pasti mahal. Kalau sakit kambuh, saya hanya makan bubur dan minum obat yang dibeli sendiri,” tutur ibu satu anak itu.
Pengalaman Fiya mencerminkan persoalan yang lebih luas. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 56,9 persen penduduk berusia tiga tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut. Namun, hanya 11,2 persen yang mencari pengobatan ke tenaga medis.
Puskesmas Meluruskan Diagnosis Mandiri

Selasa (2/6/2026) pagi, Fiya menempuh perjalanan sekitar empat kilometer menuju Puskesmas Mranggen III dari rumahnya. Setelah petugas loket memverifikasi pendaftaran daringnya, Fiya diarahkan ke poli gigi di lantai dua. Pukul 08.00 WIB, perempuan berusia 35 tahun itu sudah berada di ruang tunggu.
Di atas kursi perawatan, jantungnya masih berdebar. Fiya datang dengan keyakinan bahwa dokter akan langsung merujuknya untuk operasi gigi bungsu.
Namun, pemeriksaan drg. Eky Dyan Larasakti menunjukkan Fiya mengalami periodontitis akut. Pada pemeriksaan awal itu, pencabutan maupun rujukan bedah belum dinilai perlu dilakukan segera.
“Keluhan utamanya adalah nyeri akibat peradangan. Peradangan harus ditangani terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan berikutnya,” jelas drg. Eky.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter meresepkan amoksisilin, parasetamol, dan natrium diklofenak, sekaligus mengedukasi Fiya mengenai pola makan, penggunaan obat, dan kontrol jika keluhan berulang.
Penjelasan itu sekaligus meluruskan keyakinan Fiya bahwa usia semata dapat menentukan apakah gigi bungsu harus dioperasi atau tidak. Menurut drg. Eky, kondisi gigi tidak dapat disimpulkan hanya dari informasi di media sosial.
“Saya datang sudah pasrah akan disuruh operasi. Ternyata, dokter menjelaskan satu per satu dan tidak langsung menyuruh cabut. Pikiran saya jauh lebih tenang,” kata Fiya.
Tabungan Operasi Menjadi Modal Usaha

Konsultasi dan obat yang diterima Fiya ditanggung sesuai ketentuan Program JKN. Tidak ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan di fasilitas kesehatan tersebut.
Saat diwawancarai Rabu (22/7/2026), Fiya mengaku nyerinya yang selama bertahun-tahun datang dan pergi tidak lagi kambuh. Mobile JKN juga menampilkan riwayat pelayanan Fiya, mulai dari tanggal kunjungan, diagnosis, hingga jenis obat yang diterima.
Pemeriksaan itu membantu keluarga Fiya mengambil keputusan medis dan finansial berdasarkan penjelasan dokter, bukan ketakutan. Pasalnya, selama bertahun-tahun, Fiya dan suaminya menyimpan sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta untuk berjaga-jaga apabila operasi benar-benar diperlukan. Setelah pemeriksaan menunjukkan belum ada indikasi operasi pada kunjungan tersebut, dan sebagian uang itu dapat digunakan untuk kebutuhan produktif.
Fiya saat ini mengelola usaha makanan rumahan bernama Cumi Item. Uang yang semula ia simpan untuk kemungkinan biaya pengobatan kemudian digunakan untuk membeli cumi segar, bumbu, dan memperbaiki kemasan.
Dana tersebut ikut menopang produksi 60 paket Cumi Item dalam sebulan terakhir.
“Uang yang sebelumnya saya simpan untuk jaga-jaga biaya operasi akhirnya bisa diputar menjadi modal. Usaha jualan kembali berjalan, dan saya juga sudah tidak kesakitan,” ujarnya sambil tertawa.
Pengalaman Fiya memberi gambaran konkret tentang dampak perlindungan kesehatan terhadap ekonomi rumah tangga.
Dalam Public Expose Laporan Pengelolaan Program dan Laporan Keuangan BPJS Kesehatan Tahun 2025, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito menyebutkan, Program JKN berkontribusi terhadap peningkatan PDB hingga Rp129 triliun. Efek penggandanya dirasakan antara lain oleh sektor jasa kesehatan, industri makanan dan minuman, serta pelayanan sosial.
Kajian itu juga mencatat JKN membantu 8,1 juta penduduk terhindar dari kemiskinan pada 2018–2019 dan melindungi sekitar 16 juta orang dari risiko jatuh miskin akibat biaya kesehatan.
Pada keluarga Fiya, dampaknya terlihat ketika dana yang sebelumnya disiapkan untuk kemungkinan biaya pengobatan tetap dapat menggerakkan usaha makanan miliknya.
Digitalisasi yang Tidak Boleh Meninggalkan Warga

Pengalaman Fiya menunjukkan bagaimana Mobile JKN memangkas hambatan administrasi melalui antrean FKTP sebelum kedatangan dan akses riwayat pelayanan.
Hingga 1 Juli 2026, sebanyak 1.259.386 penduduk Kabupaten Demak atau 99,42 persen telah terdaftar sebagai peserta JKN. Di seluruh wilayah kerjanya yang mencakup Kota Semarang dan Kabupaten Demak, BPJS Kesehatan Cabang Semarang bekerja sama dengan 356 FKTP dan 40 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan.
“Kami juga terus berupaya memberikan berbagai kemudahan layanan dengan mengembangkan kanal layanan nontatap muka, seperti Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp (PANDAWA), Mobile JKN, dan Care Center 165,” kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Debbie Nianta Musigiasari, Kamis, 30 Juli 2026.
Namun, transformasi digital tersebut tidak boleh hanya mudah bagi warga yang memiliki ponsel pintar dan jaringan internet memadai. Lansia, warga dengan literasi digital rendah, dan masyarakat di wilayah minim koneksi tetap membutuhkan pelayanan tatap muka.
Fiya terbantu karena suaminya dapat mengambil alih pendaftaran dari Jakarta. Namun, tidak semua peserta memiliki keluarga yang mampu memberikan bantuan serupa.
“Digitalisasi harus memperluas pilihan, bukan menjadikan aplikasi satu-satunya pintu layanan. Kanal digital perlu berjalan bersama pelayanan tatap muka dan bantuan petugas agar kelompok rentan tidak tertinggal,” kata pengamat kesetaraan gender dan inklusi sosial sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI), Amalia Wulansari.
Berdasarkan pengamatan di Puskesmas Mranggen III, petugas loket tetap membantu peserta yang datang tanpa pendaftaran daring.
Sebulan sebelumnya, Fiya hanya mampu menatap semangkuk bubur yang mendingin karena terlalu sakit untuk mengunyah. Kini, aroma bumbu dan cumi kembali mengepul dari dapurnya di Demak.
Nomor antrean 2 yang dikirim suaminya dari Jakarta tidak hanya mengantarkan Fiya ke kursi dokter, tetapi juga membawanya keluar dari ketakutan, menjaga modal keluarga, dan menghidupkan kembali UMKM mereka.





















