"Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru." — Ki Hajar Dewantara.
Menjadi bagian dari program Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) pada tahun 2012 merupakan pengalaman penting yang mengubah cara pandang dalam perjalanan karir saya sebagai seorang pendidik. Satu tahun mengabdi di wilayah 3T membuka mata tentang wajah nyata pendidikan di daerah terpencil.
Bersama 23 sarjana pendidikan lainnya, kami berangkat ke Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Perbedaan lingkungan, suku, bahasa, hingga agama justru menjadi sarana belajar bahwa pendidikan sejati berakar pada kehidupan, masyarakat, dan pengalaman nyata.
Usai program SM-3T, perjuangan pemerataan pendidikan berlanjut melalui program Guru Garis Depan (GGD). Melihat langsung kondisi di tapal batas perbatasan Indonesia memberikan ruang refleksi yang mendalam mengenai hak pendidikan bagi seluruh anak tanpa terkecuali.
Realitas di lapangan menyadarkan kita bahwa banyak anak menghadapi tantangan berat, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga akses sekolah.
![[OPINI] Pendidikan Inklusif: Mewujudkan Hak Belajar Setara bagi Semua Anak](https://image.idntimes.com/post/20260728/upload_f8446a2fb900759f49553ab314b94b8d_3ee31df2-2e52-4b89-869c-4a83c70df434.jpg)