Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pengusaha Logistik dan Forwarder di Jateng Garap Potensi Kargo Lokal

Pengusaha Logistik dan Forwarder di Jateng Garap Potensi Kargo Lokal
Ilustrasi aktivitas peti kemas di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Share Article

Semarang, IDN Times - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Tengah melirik potensi layanan kargo lokal. Upaya itu seiring dengan pertumbuhan kawasan industri baru di sejumlah daerah di Jawa Tengah.

1. Kawasan industri berkembang pesat

Sekjen DPP ALFI/ILFA, M Akbar Djohan mengukuhkan Ketua DPW ALFI/ILFA Jawa Tengah dan DIY, Teguh Arif Handoko di Hotel Gumaya Semarang, Kamis (11/5/2023). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Sekjen DPP ALFI/ILFA, M Akbar Djohan mengukuhkan Ketua DPW ALFI/ILFA Jawa Tengah dan DIY, Teguh Arif Handoko di Hotel Gumaya Semarang, Kamis (11/5/2023). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Ketua DPW ALFI/ILFA Jateng dan DI Yogyakarta, Teguh Arif Handoko mengatakan, kawasan industri baru di Jateng berkembang pesat seperti di Kendal dan Batang. Namun, layanan kargo di sana belum digarap secara optimal.

“Ke depan kalau lokasi (kawasan industri, red) itu sudah ditempati oleh investor-investor, kami yang ada di ALFI ini berharap bisa dapat banyak kerjaan di sana,” ungkapnya pada acara Pengukuhan dan Halal Bihalal Pengurus DPW ALFI/ILFA Jateng dan DIY di Hotel Gumaya Semarang, Kamis (11/5/2023).

Untuk diketahui, kargo lokal berkembang pesat dan sudah meningkat di angka 50 persen daripada tahun lalu. Sehingga, pengusaha logistik dan forwarder di Jateng ingin mendorong agar capaian layanan kargo lokal terus tumbuh ke depannya.

2. Pengiriman ekspor impor terdampak ekonomi global

Ilustrasi aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK). (ANTARA FOTO/Aji Styawan)
Ilustrasi aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK). (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

“Meskipun, tidak sebesar Jatim dan Jabar kapasitas pengirimannya, tetapi untuk layanan kargo melalui Pelabuhan Tanjung Emas sudah cukup mumpuni baik untuk ekspor impor maupun kargo lokal,” kata Teguh. 

Apalagi, saat ini potensi menggarap pengiriman logistik antar wilayah dan pulau di Indonesia juga terbuka lebar. Hal ini karena pengiriman ekspor impor terdampak kondisi ekonomi global.

“Jadi, ALFI tidak hanya berpikir dalam urusan kargo internasional. Kami pun sekarang banyak menggarap kargo lokal. Sebab, kalau kita sekarang berpikir ekspor impor terus bisa tidak berkembang. Saat ini ekonomi global sedang kacau. Tujuan Cina turun 1-2 persen, oke. Namun, tujuan ke Eropa setelah invasi Rusia kita banyak turun,” jelasnya.

Maka itu, pada kepengurusan baru DPW ALFI/ILFA Jateng dan DIY, membawa sejumlah visi misi antara lain, mendorong pencapaian target pengiriman logistik. Kemudian, juga menekan biaya pengiriman logistik yang hingga sekarang masih tinggi, khususnya kargo lokal.

3. Tekan biaya logistik kargo lokal

Ilustrasi nelayan melaut dengan latar belakang aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aji Styawan)
Ilustrasi nelayan melaut dengan latar belakang aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Aji Styawan)

Teguh menyampaikan, bahwa itu tugas bersama. Sebab, dilihat dari lokasi Jateng ini posisinya strategis dibandingkan provinsi lain.

“Ini tugas kita bersama. Bagaimana Pelabuhan Tanjung Emas yang tahun kemarin pengirimannya 790 ribu TEUs, tahun ini bisa tembus 1 juta TEUs. Sebab, Surabaya 3,5 juta TEUs, Jakarta 7 juta TEUs, Semarang harusnya bisa nyusul dong, karena Jawa Tengah adalah sentral posisinya,” ujarnya.

Sehingga, imbuh Teguh, pihaknya fokus untuk menggarap pasar kargo lokal disamping pasar ekspor impor. Disamping itu, ALFI juga akan mendesak agar biaya logistik bisa ditekan.

“Biaya logistik di Indonesia sampai saat ini masih tinggi dibandingkan PDB, yakni bisa sampai 25-27 persen, sedangkan negara lain 10-15 persen. Kita kirim barang ke Medan sampai Rp17-18 juta, tapi kirim barang ke Singapura 200-300 dolar. Kita berupaya agar biaya logistik lokal lebih murah supaya harga barang juga bisa lebih murah,” tandasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
ANGGUN PUSPITONINGRUM
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More

Liburan Sekolah, Waktunya Pelni Semarang Tebar Diskon Tiket Kapal

27 Jun 2026, 13:33 WIBNews