Ilustrasi Peternakan Sapi Perah (IDN Times/Shemi)
Pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas di bagi warga Desa Sruni bukanlah hal baru. Warga desa sudah mengenal pengolahan limbah kotoran sapi sejak tahun 1980, limbah tersebut dikenalkan oleh dari Dinas Pertanian setempat dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP). Namun pada tahun, 2010 warga desa baru menyadari pentingnya mengolah limbah kotoran sapi, dan menjadi awal Setiyo(51) menjadi pioner pengolahan kotoran sapi di Desa Sruni.
"Kalau di biogas di sini itu sudah diawali Sebenarnya tahun 1980 kalau gak salah tapi hanya sebatas dari dinas atau LPTP untuk masyarakat, dulu itu gratis. Tapi karena belum paham biogas maka hanya tertentu hanya tokoh-tokoh yang paham, sebenarnya itu kegiatannya banyak mau se-Desa disini tapi hanya beberapa yang minta hanya 15 atau berapa," ujarnya Senin (30/10/2023).
"Baru sekitar tahun 2010 pasca eupsi, itu teman-teman ini yang kebetulan ini waktu itu masih cukup muda dan karena di sini Sentra ternak, per KK itu punya sapi terus akhirnya banyak kotoran yang menumpuk dan berinisiasi membuat biogas," jelasnya.
Setiyo mengaku jika limbah kotoran sapi di desanya cukup menganggu, terutama pada saat musim hujan, dimana banyak kotoran sapi atau disebut lethong yang terbawa air ke selokan dan menimbulkan bau tak sedap. Bahkan beberapa warga sampai ribut hanya gara-gara kotoron sapi.
Atas kesepemahan itulah, akhirnya warga Desa berinsiatif untuk melakukan pengolahan kotoran sapi, salah satunya dengan cara menerapkan sistem biogas secara gotong-royong.