PB XIV Purboyo mengikuti peringatan Malam Selikuran. (IDN Times/Larasati Rey)
Namun di malam selikuran kali ini ada yang berbeda, Tradisi khas masyarakat Jawa yang berlangsung pada malam ke-21 Ramadan ini dilaksanakan oleh dua kubu Keraton Solo dengan rute kirab yang berbeda.
Dua kubu Keraton yakni kubu PB XIV Hangabehi dan kubu PB XIV Purboyo sama-sama mengelar Kirab malam Selikuran yang menjadi salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Kubu Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo atau kubu Pakubuwono XIV Hangabehi menggelar kirab dengan rute dari Kori Kamandungan Keraton Solo, mengelilingi kawasan Baluwarti, dan berakhir di Masjid Agung Solo.
Ketua Eksekutif LDA Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, menjelaskan malam Selikuran sering dimaknai sebagai malam seribu bintang. Oleh karena itu, dalam kirab tersebut dibawa tumpeng sewu yang ditempatkan dalam delapan ancak atau jodang.
“Tumpeng sewu dibagikan kepada yang hadir mengikuti acara malam Selikuran. Selebihnya kepada masyarakat,” kata Eddy, Senin (9/3/2026) malam.
Meski berjalan dua kubu, menurutnya hal tersebut tidak mengurangi makna peringatan Malam Selikuran. Kejadian yang juga pernah terjadi pada saat PB XIII masih memimpin dulu.
Sementara itu, dalam waktu bersamaan, kubu Pakubuwono XIV Purboyo juga menggelar kirab malam Selikuran dengan rute berbeda. Kirab dimulai dari Keraton Solo menuju Alun-alun Utara, Jalan Slamet Riyadi, hingga berakhir di Taman Sriwedari.
Pengangeng Parentah, KGPH Dipokusumo mengatakan kirab malam Selikuran menjadi simbol rasa syukur karena telah memasuki sepertiga terakhir bulan Ramadan.
“Jadi ini sebagai tanda syukur bahwa kita memasuki sepertiga terakhir dari bulan Ramadan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut PB XIV Purboyo terlihat mengikut pelaksanaan Malam Selikuran, ia mengendarai mobil Pajero saat melaksanakan kirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju ke Sriwedari.