Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siang Terik Malam Menggigil, Ini Penjelasan BMKG soal Cuaca Semarang
Cuaca panas di Kota Lama Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Perbedaan suhu ekstrem di Semarang disebabkan oleh hilangnya tutupan awan (clear sky) selama musim kemarau dan pengaruh Angin Monsun Australia.

  • Tanpa awan yang berfungsi sebagai "selimut", panas matahari langsung menyengat di siang hari, namun langsung terlepas bebas ke atmosfer pada malam hari.

  • Fenomena suhu dingin di malam hari menjelang puncak kemarau ini akrab dikenal masyarakat Jawa dengan istilah bediding.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Warga Semarang dan sekitarnya pasti lagi sering ngerasain fenomena unik ini: kalau siang panasnya bukan main sampai bikin gerah, tapi begitu masuk tengah malam sampai subuh, suhunya mendadak anjlok dan dinginnya menusuk tulang! Alhasil, AC atau kipas angin yang tadinya dinyalain pas siang, terpaksa harus dimatiin pas malam karena gak kuat menahan dingin.

Kira-kira kenapa ya dinamika cuaca ini bisa terjadi? Gak usah panik, Sobat! Berdasarkan penjelasan ilmiah dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini merupakan fenomena atmosfer normal yang umum terjadi ketika suatu wilayah memasuki masa kemarau. Yuk, bedah alasan ilmiahnya biar gak gagal paham!

1. Hilangnya "Selimut" Bumi (Minim Tutupan Awan)

Cuaca panas di Kawasan Tugu Muda Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Faktor utama yang bikin siang hari di Semarang terasa sangat menyengat adalah fenomena clear sky alias langit yang bersih dari uap air dan awan. Ketika memasuki musim kemarau, pembentukan awan di langit berkurang drastis.

Tanpa adanya penghalang, radiasi sinarmatahari pada siang hari langsung mencapai permukaan bumi secara optimal tanpa filter. Hal inilah yang memicu suhu udara melonjak tajam dan cuaca terasa luar biasa terik di siang hari.

2. Pelepasan Energi Panas Tanpa Hambatan

Cuaca panas di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kebalikan dari kondisi siang hari, absennya awan di malam hari justru menjadi penyebab mengapa suhu udara langsung turun drastis. Awan sejatinya berfungsi layaknya "selimut" yang menjaga kehangatan bumi.

Ketika malam tiba dan matahari sudah terbenam, bumi akan melepaskan kembali energi panas yang diserapnya sepanjang siang. Karena langit bersih dari awan, seluruh energi panas tersebut langsung melesat bebas ke atmosfer luar tanpa ada yang memantulkannya kembali ke bumi. Proses pendinginan permukaan bumi pun terjadi dengan sangat cepat.

3. Serbuan Aliran Monsun Australia

Cuaca panas di Kota Lama Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Selain faktor lokal dari langit yang bersih, ada juga faktor eksternal yang dipicu oleh gerak atmosfer skala regional, yaitu pengaruh Angin Monsun Australia.

Saat wilayah Jawa memasuki musim kemarau, Benua Australia justru sedang mengalami puncak musim dingin. Angin kemudian bertiup dari Australia menuju Asia melewati Indonesia, membawa massa udara yang bersifat kering dan relatif dingin ke wilayah Jawa, termasuk kota Semarang. Aliran angin inilah yang menyumbang rasa dingin ekstra di malam hari.

4. Penurunan Kandungan Uap Air di Udara

Cuaca panas dari Sinar matahari yang menyinari Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kondisi kering selama musim kemarau secara otomatis membuat tingkat kelembapan udara di sekitar permukaan tanah menurun drastis. Kandungan uap air di udara menjadi sangat rendah.

Udara yang kering ini memiliki sifat yang kurang efektif dalam menyimpan panas. Akibatnya, atmosfer di sekitar kita menjadi lebih sensitif dan mempercepat proses penurunan suhu begitu pasokan panas dari matahari hilang di malam hari.

5. Mengenal Istilah Fenomena "Bediding"

Cuaca panas di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Masyarakat Jawa punya sebutan lokal tersendiri untuk menggambarkan fenomena suhu dingin yang menusuk di malam hingga dini hari menjelang puncak kemarau ini, yaitu bediding. Istilah ini sudah turun-temurun digunakan untuk menandai perubahan musim.

Meski demikian, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah menyebutkan bahwa fluktuasi suhu dingin di Semarang pada malam hari tidak selalu murni fenomena bediding yang masif. Kondisi ini bisa juga terjadi secara acak akibat dinamika cuaca harian yang kebetulan sedang bersih dari tutupan awan.

Perubahan suhu yang kontras antara siang dan malam ini menuntut tubuh kita untuk lebih adaptif agar tidak gampang jatuh sakit akibat perubahan cuaca yang ekstrem.

Nah, menghadapi cuaca Semarang yang lagi fluktuatif begini, gimana cara Sobat menyiasatinya agar tetap fit? Apakah kamu tim yang lebih memilih pakai selimut tebal saat tidur malam, atau punya tips khusus terhindar dari flu? Yuk, bagikan ceritamu di kolom komentar!

Curated For You

Editorial Team

Related Article