Semarang, IDN Times – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi polemik di masyarakat. Hal itu terkait pemberian menu makanan kering pada MBG kepada siswa selama bulan Ramadan.
Siswa di Semarang Pilih Tak Konsumsi MBG Ramadan, SPPG Akan Diaudit

1. Jatah MBG diberikan ke teman
Sejumlah siswa di Kota Semarang pun mengaku enggan mengkonsumsi MBG yang dibagikan di sekolah di bulan Ramadan.
Salah satu siswa SMP 3 Semarang, Keanu menuturkan, pembagian MBG sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Akan tetapi, ia memilih tidak memakan makanan MBG yang diberikan di sekolah.
“Tidak saya makan. Saya berikan ke temen-temen yang mau saja,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Alasan siswa kelas 9 itu karena menunya tidak menarik dan ia tidak doyan dengan makanan yang disajikan.
2. Ada menu ikan asin dan kolak kecut
“Ada ikan asin atau ikan wader goreng gitu. Saya nggak pernah makan jadi saya kasihkan teman. Terus telur dan roti kemasan,” ungkapnya.
Selain Keanu, siswa SD Kalibanteng Kidul 02, Fatih juga memilih tidak memakan menu MBG Ramadan.
"Menunya ada tiga jenis makanan seperti roti basah, kacang, kolak. Kolaknya tidak enak atau sudah kecut jadi langsung saya saja," tuturnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Kelompok Kerja Percepatan Pelaksana Program MBG Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen mengatakan, pihaknya akan segera melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG di bulan Ramadan.
"MBG di bulan Ramadhan ini kita atur lagi deh, ada masukan dari beberapa tokoh agama soal ini. Seperti di Jepara, ada masukan bagaimana MBG diberikan dalam bentuk makanan kering yang bisa diolah di rumah," katanya saat ditemui di acara Kanwil Dirjen Bea Cukai Jawa Tengah - DIY, Rabu (25/2/2026).
3. Akan beri peringatan ke SPPG
Wakil Gubernur Jawa Tengah itu memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah memberikan masukan untuk mengevaluasi program ini.
"Yang tidak layak, perlu untuk dievaluasi lagi. Dan kami akan memberikan peringatan tidak main-main kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melakukan pelanggaran. Seperti halnya kasus temuan ratusan roti berjamur di SMP 5 Blora,” katanya.
Disamping itu, Gus Yasin juga akan melakukan audit pada SPPG. Apabila ketahuan melanggar pihaknya tidak segan untuk menutup SPPG tersebut.
“Kami akan memastikan lagi proses produksi dan distribusi makanan. Ditertibkan, diedukasi betul bagaimana cara penyajian dan pengemasan serta pengiriman harus diperhatikan secara detail agar kejadian serupa tidak terulang," tandasnya.