Semarang, IDN Times - Fenomena minat anak muda dari kalangan generasi Z Indonesia untuk bekerja di luar negeri semakin meningkat dewasa ini. Sosiolog Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Hartuti Sulistyo Rini, menilai tren tersebut tidak lepas dari kegelisahan generasi muda terhadap masa depan sosial, politik, dan ekonomi di dalam negeri.
Sosiolog Unnes: Medsos Bikin Generasi Z Ingin Kerja di Luar Negeri
1. Menyasar kelas menengah terdidik
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unnes yang juga pakar dinamika dan perubahan sosial menjelaskan, bahwa fenomena yang populer dengan istilah “Kabur Aja Dulu” banyak terjadi di kalangan generasi Z, terutama dari kelompok kelas menengah terdidik.
Menurutnya, kelompok ini umumnya merupakan lulusan perguruan tinggi yang mulai memikirkan keberlanjutan hidup mereka di masa depan. Namun, dinamika situasi sosial, politik, dan ekonomi di dalam negeri memunculkan kekhawatiran terhadap peluang kerja dan stabilitas kehidupan.
“Fenomena ini banyak menyasar kelas menengah terdidik. Mereka melihat situasi sosial, politik, dan ekonomi saling berkaitan, sehingga muncul kekhawatiran tentang masa depan pekerjaan yang dapat menopang kehidupan mereka,” ujar perempuan yang akrab disapa Lilis.
Ia menjelaskan bahwa generasi muda saat ini memiliki karakter berbeda dibanding generasi sebelumnya. Generasi Z dikenal sebagai native digital atau generasi yang tumbuh dan sangat akrab dengan dunia digital. Kemampuan mengakses informasi global membuat mereka lebih mudah membandingkan peluang hidup di dalam negeri dengan negara lain.
Akses informasi yang luas dari internet dan media sosial menjadi faktor penting yang memengaruhi cara pandang mereka terhadap masa depan. Banyak konten yang menampilkan kehidupan bekerja di luar negeri dengan berbagai fasilitas dan peluang yang terlihat menjanjikan.
2. Pengaruh media sosial sangat besar
“Anak muda sekarang menangkap realitas dari apa yang mereka lihat di internet. Pengaruh media sosial sangat besar dalam memengaruhi keputusan mereka, termasuk ketika melihat kehidupan di luar negeri yang tampak lebih menjanjikan,” kata Lilis.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa bekerja di luar negeri tidak semudah yang terlihat di media sosial. Ada berbagai hal yang harus dipersiapkan, mulai dari proses administrasi yang benar hingga peningkatan kemampuan diri seperti penguasaan bahasa dan keterampilan kerja.
“Pergi ke luar negeri tidak semudah itu. Administrasi harus jelas, kemampuan juga harus disiapkan. Bahasa menjadi modal utama. Kesempatan itu harus diimbangi dengan kapabilitas yang memadai,” jelasnya.
Lilis juga menekankan bahwa gambaran kehidupan di luar negeri yang beredar di media sosial sering kali tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Banyak aspek kehidupan yang jarang disorot, seperti biaya hidup tinggi, pajak yang besar, serta tantangan mencari tempat tinggal.
“Memang gajinya mungkin terlihat besar, tetapi pajaknya juga besar. Biaya hidup dan mencari tempat tinggal juga berbeda dengan di Indonesia. Hal-hal seperti ini sering tidak terlihat di media sosial,” tambahnya.
3. Bentuk ekspresi kegelisahan masa depan
Menurutnya, keinginan generasi muda untuk bekerja di luar negeri merupakan bentuk ekspresi kegelisahan terhadap masa depan. Generasi sekarang memiliki cara pandang yang berbeda dalam memilih pekerjaan dibanding generasi sebelumnya.
Jika generasi terdahulu cenderung menerima berbagai jenis pekerjaan yang tersedia, generasi saat ini lebih mempertimbangkan kualitas hidup, termasuk keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance) serta kesehatan mental.
“Kebutuhan generasi sekarang berbeda. Mereka juga memikirkan kesehatan mental dan kualitas hidup. Situasi dalam negeri yang dinamis membuat mereka khawatir dan mencari alternatif pekerjaan, salah satunya di luar negeri,” ujarnya.
Fenomena ini, lanjutnya, seharusnya menjadi perhatian serius bagi para pemangku kebijakan. Menurut Lilis, potensi besar yang dimiliki generasi muda Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan dengan menyediakan lebih banyak peluang kerja yang layak di dalam negeri.
4. Pekerjaan layak bagi generasi muda tidak terpenuhi
Ia menilai bahwa jika kebutuhan dasar generasi muda, terutama terkait pekerjaan yang layak, tidak dapat dipenuhi, maka Indonesia berpotensi menghadapi persoalan yang lebih besar di masa depan.
“Keinginan generasi Z untuk bekerja di luar negeri seharusnya menjadi pekerjaan rumah yang perlu diprioritaskan. Anak-anak muda dengan potensi besar seharusnya memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkarier di negeri sendiri,” katanya.
Lilis menegaskan, bahwa fenomena meningkatnya minat bekerja di luar negeri sebaiknya tidak dilihat secara negatif, melainkan sebagai sinyal bagi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk memperbaiki ekosistem ekonomi dan ketenagakerjaan di dalam negeri.
“Fenomena ini adalah ekspresi yang perlu diperhatikan. Suara anak muda adalah investasi masa depan. Mereka harus mendapatkan ruang untuk berkembang, termasuk melalui iklim ekonomi yang sehat, ruang politik yang terbuka, serta kesempatan kerja yang lebih luas,” pungkasnya.