Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Setiap Tahun 60 Ribu Anak Muda dari Jateng Pilih Jadi Pekerja Migran

Setiap Tahun 60 Ribu Anak Muda dari Jateng Pilih Jadi Pekerja Migran
Para pekerja migran yang akan diberangkatkan ke Korea Selatan. (IDN Times/Larasati Rey)
Intinya Sih
  • Setiap tahun sekitar 60 ribu anak muda Jawa Tengah memilih menjadi pekerja migran, dengan negara tujuan utama seperti Hongkong, Taiwan, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, dan Singapura.
  • Kabupaten seperti Cilacap, Brebes, Pati, Grobogan, Sragen, Kendal, dan Banyumas menjadi kantong utama pekerja migran Jateng yang didorong faktor ekonomi serta kisah sukses dari lingkungan sekitar.
  • Pergeseran terjadi pada jenis pekerjaan; kini banyak lulusan D3 hingga S1 terserap sebagai tenaga profesional di luar negeri setelah melalui pelatihan kompetensi dan pembekalan resmi Disnakertrans Jateng.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Semarang, IDN Times - Para era globalisasi seperti sekarang ini, peluang kerja terbuka tidak hanya di dalam negeri tetapi juga luar negeri. Kesempatan itu kini semakin dilirik anak muda di Provinsi Jawa Tengah untuk memilih bekerja di luar negeri atau sebagai pekerja migran

1. Negara tujuan pekerja migran

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Ahmad Aziz. (IDN Times/Anggun P)
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Ahmad Aziz. (IDN Times/Anggun P)

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah dalam tiga tahun terakhir mencatat rata-rata ada 60 ribu pekerja migran dari Jateng yang mencari nafkah di luar negeri. Pada tahun 2023, sebanyak 64.566 pekerja migran yang berangkat ke luar negeri. Lalu, tahun 2024 ada 66.610 pekerja migran ke luar negeri, dan tahun 2025 sebanyak 62.676 pekerja migran memilih bekerja di luar negeri.

Adapun, negara tujuan pekerja migran dari Jateng antara lain ke Hongkong, Taiwan, Malaysia, Korsel, Jepang, Singapura, dan negara lainnya.

Kepala Disnakertrans Jateng, Ahmad Aziz mengatakan, dari dulu sampai sekarang Jateng merupakan provinsi yang mengirimkan pekerja migran dengan jumlah terbanyak.

‘’Jateng masuk dalam tiga besar setelah Jawa Barat dan Jawa Timur yang mengirimkan pekerja migran ke luar negeri,’’ ungkapnya kepada IDN Times, Selasa (3/3/2026).

2. Kantong pekerja migran di Jateng

Kementerian P2MI lepas 1.035 PMI ke luar negeri
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran RI lepas 1.035 PMI ke luar negeri. (Dok. Kementerian P2MI)

Menurut Aziz, setiap warga di Jateng memiliki kesempatan bekerja di dalam negeri maupun luar negeri. Pilihan itu semuanya dilindungi oleh undang-undang. Adapun, terkait bekerja ke luar negeri itu menyangkut Undang-undang No 18 tahun 2017 tentang Pekerja Migran.

‘’Regulasi itu mengatur tentang memberikan kesempatan kepada pencari kerja WNI untuk bisa bekerja ke luar negeri. Terkait dengan kewenangan di dalam undang-undang itu didistribusikan sampai habis, mulai dari pusat hingga desa. Sedangkan terkait usia pekerja migran yang bisa ke luar negeri minimal 18 tahun atau tergantung negara penempatan,’’ ujarnya.

Untuk di Jateng sendiri, mayoritas kabupaten dan kota asal pekerja migran di antaranya berasal dari Cilacap, Kendal, Brebes, Pati, Grobogan, Sragen, dan Banyumas. Daerah tersebut merupakan kantong pekerja migran Indonesia dari Jateng.

Aziz menjelaskan, latar belakang generasi muda di Jateng memilih bekerja di luar negeri, yaitu ekonomi. Kemudian, juga kisah sukses dari saudara atau tetangga yang berhasil bekerja di negeri orang.

3. Pekerja migran terserap sebagai tenaga profesional

Ilustrasi pekerja migran (freepik.com/freepik)
Ilustrasi pekerja migran (freepik.com/freepik)

‘’Ketika orang tua atau tetangganya bekerja di luar negeri akan diikuti oleh generasi berikutnya. Selain itu dari sisi ekonomi, motivasi mereka untuk meningkatkan kesejahteraan, sebab dengan bekerja di luar negeri akan mendapatkan gaji atau upah yang lebih besar dibandingkan di dalam negeri,’’ jelasnya.

Untuk saat ini, pekerja migran Indonesia khususnya dari Jateng bekerja di berbagai sektor di luar negeri. Tidak hanya sebagai pekerja di urusan domestik seperti asisten rumah tangga dan perawat lansia, tapi juga di perusahaan manufaktur dan rumah sakit.

‘’Sekarang ini ada pergeseran, kalau dulu pekerja migran yang bekerja sebagai domestic worker atau sektor rumah tangga mendominasi, sekarang mulai berimbang. Banyak pekerja migran lulusan D3, D4, dan S1 terserap sebagai tenaga profesional di luar negeri,’’ terang Aziz.

Sebagai persiapan pekerja migran ke luar negeri, Disnakertrans Jateng turut terlibat dengan memberikan asistensi, edukasi, literasi, dan sosialisasi terkait bagaimana bekerja di luar negeri yang aman, nyaman dan kewajiban hak terpenuhi.

4. Warga Jateng yang bekerja di dalam negeri tetap lebih banyak

ilustrasi pekerja migran (unsplash.com/EqualStock)
ilustrasi pekerja migran (unsplash.com/EqualStock)

‘’Maka, ada pelatihan dulu terkait kompetensi teknis dan bahasa. Lalu, ada uji kompetensi terkait itu. Bagaimana mungkin bekerja di Taiwan, Hongkong tidak bisa bahasa Mandarin Kanton, ini akan menjadi permasalahan kalau tidak bisa berbahasa,’’ katanya.

Kedua, lanjut Aziz, teknik koordinasi atau hard skillnya. Tugasnya apa, merawat orang tua apa saja, pasti dibekali. Lalu, kalau sudah kompeten dan siap berangkat, juga ada syaratnya yakni harus mengikuti pembekalan akhir jelang pemberangkatan.

‘’Hal itu termasuk menginformasikan kalau ada permasalahan yang dihadapi di luar negeri harus melapor ke siapa dan dimana. Nomor telepon yang bisa dihubungi pasti diberikan kalau ada masalah,’’ tandasnya.

Sementara itu, secara grafik dalam dua tiga tahun terakhir, warga Jateng yang bekerja di dalam negeri tetap lebih banyak. Dari total angkatan kerja di Jateng, yang bekerja di luar negeri hanya seperempatnya dari yang memilih di dalam negeri baik di wilayah Jateng atau luar Jateng.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More