Stunting Kudus Turun Jadi 3,04 Persen, Target Zero Stunting di 2030
- Prevalensi stunting di Kudus turun dari 4,08 persen menjadi 3,04 persen dalam dua tahun, didorong kolaborasi program kesehatan dan edukasi keluarga sejak 2024.
- Dinkes Kudus menargetkan prevalensi sekitar 2 persen pada 2027 dan zero stunting pada 2030, melalui intervensi 1.000 HPK, gizi ibu hamil, sanitasi, imunisasi, serta pemantauan anak.
- MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 menyediakan layanan gratis, termasuk USG, skrining anemia dan konsultasi, serta melanjutkan edukasi gizi dan sanitasi melalui program SIKAT dan BPGB.
1. Program kesehatan dan edukasi keluarga
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris (tengah) dan Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad Budiharto (kiri) didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Abdul Hakam, M.Si, Med, Sp.A (kanan) memberikan keterangan media terkait penyelenggaraan MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026. (dok. Bakti Sosial Djarum Foundation) Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris mengatakan, penurunan tersebut tidak lepas dari kolaborasi pemerintah dengan berbagai pihak, termasuk melalui program kesehatan dan edukasi keluarga yang telah berjalan sejak 2024.
“Kami ucapkan terima kasih kepada Bakti Sosial Djarum Foundation yang terus mengawal program-program keluarga sehat dengan penurunan stunting sangat signifikan, yang sebelumnya 4,08 persen menjadi 3,04 persen,” ungkpanya saat menghadiri MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (30/8/2026).
Menurut Sam’ani, angka 3,04 persen menjadi modal untuk mengejar target bebas stunting dalam empat tahun mendatang. Edukasi kesehatan, kata dia, perlu diperluas hingga tingkat desa, RT dan keluarga.
“Semoga dengan ada edukasi dan pelayanan seperti ini masyarakat bisa semakin sadar arti kesehatan keluarga. Kami harapkan seluruh pihak bisa meneruskan informasi ini sampai ke tingkat desa maupun RT,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dokter Abdul Hakam mengatakan, capaian 3,04 persen sudah berada jauh di bawah standar maksimal prevalensi stunting yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 10 persen. Namun, capaian tersebut tidak membuat pemerintah daerah berhenti.
2. Pencegahan stunting sejak 1.000 HPK
Masyarakat Kabupaten Kudus mengikuti aktivitas MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (30/8/2026). (dok. Bakti Sosial Djarum Foundation) “Kita bersyukur Kabupaten Kudus sudah di angka 3 persen. Ini suatu prestasi yang luar biasa dan kita harus maksimalkan,” ujarnya.
Dinkes Kudus menargetkan prevalensi tersebut kembali ditekan secara bertahap. Targetnya sekitar 2 persen pada 2027, kemudian terus turun hingga mendekati nol sebelum mengejar target zero stunting pada 2030.
Menurut Abdul Hakam, pencegahan tidak cukup dilakukan setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan. Intervensi harus dimulai sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk memastikan kebutuhan gizi ibu hamil dan pemantauan tumbuh kembang anak. Sanitasi juga menjadi persoalan yang tidak bisa dilepaskan dari upaya menekan stunting.
“Bagaimanapun sanitasi juga penting karena kaitannya dengan munculnya penyakit. Kalau itu teratasi, pasti secara maksimal problem stunting turun,” katanya.
Selain sanitasi, imunisasi, pemeriksaan tumbuh kembang, pencegahan anemia serta pemenuhan gizi ibu hamil menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
3. Festival Keluarga Sehat hadirkan layanan kesehatan gratis
Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad Budiharto memberi sambutan dalam pembukaan MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 di Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus, Jawa Tengah pada Minggu (30/8/2026). (dok. Bakti Sosial Djarum Foundation) Upaya memperkuat kesadaran keluarga itu salah satunya dilakukan melalui MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 yang berlangsung 29-30 Agustus 2026 di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus.
Festival yang memasuki tahun ketiga tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan keluarga. Masyarakat juga bisa mendapatkan sejumlah layanan kesehatan secara gratis, mulai dari USG bagi ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita, screening anemia bagi remaja dan calon pengantin hingga pemeriksaan triple elimination untuk HIV, sifilis dan hepatitis B.
Masyarakat juga dapat berkonsultasi dengan dokter umum serta mendapatkan pemeriksaan kesehatan jiwa bersama psikolog klinis.
Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad Budiharto mengatakan, capaian penurunan stunting di Kudus menjadi dorongan untuk memperluas program kesehatan keluarga.
“Kami ingin Kudus menjadi salah satu kabupaten terbaik dalam penanganan kesehatan dan juga stunting. Maka dari itu kami siap mendukung untuk menjadikan Kudus zero stunting di tahun 2030,” ujarnya.
4. Fokus pada edukasi masyarakat
Masyarakat Kabupaten Kudus mengikuti aktivitas MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (30/8/2026). (dok. Bakti Sosial Djarum Foundation) Festival tersebut merupakan bagian dari rangkaian program yang telah dimulai sejak Juli 2026 melalui Aksi Rumah Resik Sehat (SIKAT) dan Belanja Pinter Gizine Bener (BPGB).
Program SIKAT melibatkan 2.311 peserta dari Desa Wonosoco, Gribig, Mejobo dan Klaling. Sementara BPGB berfokus pada edukasi masyarakat dalam memilih bahan makanan sesuai kebutuhan gizi seimbang.
Selain layanan kesehatan, festival dikemas dengan berbagai aktivitas keluarga seperti Jalan Keluarga Sehat, Parade Gizi Hebat, lomba Estafet Isi Piringku, lomba mewarnai hingga taman eksplorasi untuk stimulasi sensorik anak.
Bagi penyelenggara, pendekatan tersebut sengaja dibuat lebih ringan agar pesan kesehatan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi lebih mudah diterapkan keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
Kini, dengan prevalensi stunting 3,04 persen, tantangan Kudus bukan lagi sekadar menurunkan angka. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan intervensi kesehatan, gizi, sanitasi dan pemantauan tumbuh kembang benar-benar menjadi kebiasaan keluarga hingga target zero stunting 2030 tercapai.




















