Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Suhu Malam Drop Drastis, Waspadai 4 Penyakit Fenomena Bediding di Jateng
Ilustrasi pasien menjalani pemeriksaan saat penapisan gejala influenza di ruang penyakit menular. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
  • Fenomena bediding di Jawa Tengah menyebabkan suhu malam turun drastis, memicu lonjakan penyakit musiman menurut data Dinas Kesehatan hingga Juni 2026.
  • Empat penyakit utama yang meningkat selama fenomena ini adalah ISPA, influenza, kekambuhan asma atau alergi dingin, serta dermatitis akibat kulit kering.
  • Dinkes mengimbau masyarakat menjaga daya tahan tubuh, memakai pelindung saat udara dingin, dan rutin merawat kulit agar terhindar dari dampak bediding.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Sedulur yang tinggal di wilayah Jawa Tengah pasti merasakan ada yang berbeda dengan cuaca belakangan ini, kan? Meskipun siang hari matahari bersinar sangat terik, namun ketika memasuki malam hingga subuh, suhu udara mendadak drop drastis menjadi sangat dingin dan menusuk tulang. Fenomena alam tahunan ini dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai Fenomena Bediding.

Perubahan suhu yang ekstrem antara siang dan malam hari ini tidak boleh diremehkan, Lur. Pasalnya, tubuh kita dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat terhadap penurunan suhu dan kelembaban udara yang drastis. Berdasarkan data evaluasi terbaru yang dirilis oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah hingga Juni 2026 kemarin, terjadi lonjakan kasus pada beberapa penyakit musiman yang khas terjadi selama musim kemarau dingin ini.

Biar kondisi fisikmu tetap bugar dan gak gampang tumbang, yuk simak 4 penyakit musiman saat fenomena bediding di Jateng beserta siasat ampuh mencegahnya berikut ini, Lur!

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

ilustrasi seseorang terkena ISPA (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Berdasarkan grafik data Dinkes Jateng hingga Juni kemarin, ISPA menempati urutan tertinggi sebagai penyakit yang paling banyak dikeluhkan masyarakat selama masa peralihan ke fenomena bediding.

Udara dingin yang kering berpadu dengan hembusan angin kencang yang membawa banyak debu. Kondisi ini membuat lapisan lendir di dalam saluran pernapasan mengering, sehingga bakteri dan virus sangat mudah menempel dan memicu infeksi.

Selalu gunakan masker medis atau kain saat berkendara atau beraktivitas di luar ruangan untuk menghalau debu kering. Selain itu, perbanyak konsumsi air putih hangat untuk menjaga tenggorokan tetap lembab dan membantu mengencerkan lendir.

2. Influenza (Flu Musiman)

gambar perempuan yang menderita influenza (freepik.com/Drazen Zigic)

Virus influenza tercatat mengalami masa keemasan untuk menyebar lebih cepat dan bertahan hidup lebih lama di udara luar ketika kelembaban udara sedang rendah.

Penurunan suhu malam hari sering kali menurunkan daya tahan tubuh (imunitas) secara mendadak jika tubuh kekurangan istirahat. Akibatnya, gejala seperti bersin-bersin, demam, sakit kepala, hingga meriyang menjadi sangat mudah menyerang.

Kunci utamanya adalah mendongkrak sistem imun tubuh. Konsumsi makanan bergizi seimbang, penuhi asupan Vitamin C, dan pastikan Sedulur mendapatkan tidur yang berkualitas (minimal 7-8 jam sehari). Hindari begadang di luar ruangan saat malam hari jika tidak ada keperluan mendesak.

3. Kekambuhan Asma dan Alergi Dingin

gambar pasien asma berkonsultasi dengan dokter (magnific.com/partstock)

Bagi Sedulur yang memiliki riwayat penyakit asma atau alergi, fenomena bediding menjadi salah satu periode yang paling menantang karena risiko kekambuhan meningkat secara signifikan.

Paparan suhu dingin yang ekstrem pada malam dan subuh hari dapat merangsang penyempitan saluran napas (bronkokonstriksi) secara spontan. Udara yang kering juga kerap memicu bersin tiada henti atau gatal-gatal di kulit bagi penderita alergi dingin.

Saat menjelang tidur malam, pastikan Sedulur mengenakan pakaian yang tebal, celana panjang, dan kaus kaki. Gunakan selimut berbahan hangat dan hindari menyalakan AC atau kipas angin secara berlebihan. Selalu siapkan obat-obatan inhaler atau antihistamin pribadi di dekat tempat tidur sebagai langkah antisipasi.

4. Dermatitis dan Iritasi Kulit Kering

Kulit Kering (freepik.com/freepik)

Dampak fenomena bediding tidak hanya menyerang organ bagian dalam, tetapi juga terlihat jelas pada kesehatan kulit luar masyarakat Jawa Tengah.

Kelembaban udara yang merosot tajam menyerap kadar air alami pada kulit kita. Data Dinkes menunjukkan peningkatan keluhan kulit bersisik, bibir pecah-pecah, hingga penyakit dermatitis (eksem) yang dipicu oleh kulit yang terlalu kering dan gatal.

Rajin-rajinlah mengaplikasikan pelembab kulit (body lotion) atau petroleum jelly sesaat setelah mandi dan sebelum tidur malam. Trik taktis lainnya adalah hindari mandi menggunakan air yang terlalu panas, karena air panas justru akan meluruhkan lapisan minyak alami kulit dan membuatnya semakin kering kerontang.

Nah, itulah 4 jenis penyakit musiman yang wajib diwaspadai selama fenomena bediding melanda Jawa Tengah berdasarkan data terbaru dari dinas kesehatan. Jaga kesehatan diri dan keluarga baik-baik ya. Selamat menerapkan siasat pencegahannya dan salam sehat selalu, Sedulur!

Curated For You

Editorial Team

Related Article