Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

SD di Boyolalil Cuma Punya Satu Murid Baru, Padahal Guru Sudah Door to Door

SD di Boyolalil Cuma Punya Satu Murid Baru, Padahal Guru Sudah Door to Door
Suasana SD Negeri 2 Cepokosawit, Boyolali. (IDNTimes/Larasati Rey)
Intinya Sih
  • SDN 2 Cepokosawit di Boyolali hanya menerima satu murid baru tahun ajaran 2026/2027 meski guru sudah berupaya door to door mencari calon siswa.
  • MPLS tetap digelar normal untuk satu siswa bernama Khansa, dengan kegiatan pengenalan sekolah dan pembelajaran yang menekankan karakter serta nilai keagamaan.
  • Kepala sekolah menjelaskan minimnya murid dipengaruhi faktor demografi dan tren orang tua memilih sekolah swasta atau full day, namun layanan pendidikan tetap dijaga maksimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Boyolali, IDN Times – Tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi momen yang berbeda bagi SD Negeri 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Sekolah tersebut hanya menerima satu peserta didik baru. Meski demikian, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap berlangsung seperti biasa dengan suasana hangat dan penuh semangat.

Di ruang kelas 1, hanya tampak satu bangku yang terisi. Satu-satunya siswa baru bernama Khansa mengikuti seluruh rangkaian MPLS didampingi guru kelas. Pihak sekolah memastikan jumlah siswa yang minim tidak mengurangi kualitas layanan pendidikan maupun penyambutan di hari pertama sekolah.

1. Guru Sudah Jemput Bola, Datangi Calon Murid dari Rumah ke Rumah

SDNCepokosawit.jpeg
Suasana SD Negeri 2 Cepokosawit, Boyolali. (IDNTimes/Larasati Rey)

Wali Kelas I SDN 2 Cepokosawit, Andriyani Mudrikah, mengatakan pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan peserta didik baru. Salah satunya dengan mendatangi calon siswa secara langsung ke rumah-rumah warga di sekitar sekolah.

Bahkan, ada calon siswa yang didatangi hingga tiga kali. Namun, sebagian orang tua tetap memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah lain karena ingin bersama teman-teman sebayanya.

“Sebebarnya kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bahkan sudah dari pintu ke pintu mendatangj calon murid,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).

Ia mengaku tetap menerima kondisi tersebut dengan lapang dada dan memilih fokus memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik yang telah bergabung.

“Ada satu orang tua yang kami datangi tiga kali. Tapi karena anaknya ingin sekolah di sekolah lain bersama teman sebayanya, akhirnya tidak jadi masuk ke sini. Tapi berapapun muridnya saya harus tetap semangat. Kita layani sebaik-baiknya,” ujar Andriyani.

2. Hanya Satu Murid, MPLS Tetap Berjalan Normal

SDNCepokosawit.jpeg
Suasana SD Negeri 2 Cepokosawit, Boyolali. (IDNTimes/Larasati Rey)

Meski hanya memiliki satu peserta didik baru, sekolah tidak mengurangi rangkaian kegiatan MPLS. Khansa tetap mengikuti pengenalan lingkungan sekolah, berinteraksi dengan guru, serta mengikuti berbagai aktivitas yang telah disiapkan.

Kepala Sekolah SDN 2 Cepokosawit, Arya Dani Rushertanto, mengungkapkan minimnya jumlah siswa bukan karena sekolah kurang berinovasi, melainkan dipengaruhi kondisi demografi dan perubahan pilihan masyarakat.

Menurut Arya, sekolah telah melakukan berbagai upaya agar tetap diminati calon peserta didik. Beragam program unggulan hingga pendekatan langsung kepada masyarakat dilakukan sebelum pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Arya mengatakan SDN 2 Cepokosawit terus mengembangkan program pembelajaran agar mampu bersaing dengan sekolah lain, termasuk sekolah swasta. Sekolah juga memperkuat pendidikan karakter dan keagamaan melalui berbagai pembiasaan bagi siswa.

“Untuk PPDB tahun ini sebenarnya kami sudah tidak kalah-kalah dalam hal untuk berinovasi nggih. Terlihat dari beberapa bulan terakhir kami juga sudah melaksanakan beberapa ekstrakurikuler unggulan dan juga pembiasaan-pembiasaan yang tidak kalah dengan SD-SD bahkan dengan SD swasta. Ya, kita sudah memasukkan juga unsur-unsur keagamaan,” ujar Arya.

Ia membantah anggapan bahwa sekolah negeri kurang memberikan pendidikan agama. Menurutnya, siswa rutin mengikuti kegiatan hafalan Al-Qur’an, Asmaul Husna, hingga ekstrakurikuler rebana sebagai salah satu program unggulan sekolah.

Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, pihak sekolah juga mendatangi calon siswa secara langsung bersama para guru. Mereka berkoordinasi dengan pemerintah desa, Bunda PAUD, hingga tokoh masyarakat agar lebih banyak anak bersekolah di SDN 2 Cepokosawit.

“Kami tidak kurang-kurang sudah door to door ibaratnya sowan ke wali murid, ke masyarakat, bahkan ke pak lurah dan tokoh masyarakat. Kita menjalin komunikasi dengan Bunda PAUD. Tapi ternyata tahun ini ya tetap kita syukuri, kita mendapatkan satu siswa,” katanya.

3. Faktor Demografi dan Tren Sekolah Jadi Penyebab

SDNCepokosawit.jpeg
Suasana SD Negeri 2 Cepokosawit, Boyolali. (IDNTimes/Larasati Rey)

Arya menilai sedikitnya siswa baru dipengaruhi jumlah anak usia sekolah di wilayah Cepokosawit yang memang menurun. Selain itu, ia melihat adanya kecenderungan sebagian orang tua memilih menyekolahkan anak ke sekolah swasta atau sekolah dengan sistem full day.

“Karena mungkin juga program dari pemerintah sukses yaitu KB sehingga satu keluarga ya hanya satu mungkin dua tidak lebih dari itu untuk anaknya. Dan kami juga berpendapat itu karena mungkin juga ada tren dari masyarakat yang cenderung juga memilih sekolah yang full day atau yang berbasis swasta,” katanya.

Meski hanya menerima satu siswa baru, Arya memastikan pelayanan pendidikan tetap berjalan maksimal. Hal itu dibuktikan dengan pelaksanaan MPLS yang tetap digelar serta capaian akademik sekolah yang dinilai cukup baik.

“Bisa dilihat, walaupun hanya satu siswa tetap kami layani MPLS-nya. Kemudian juga kemarin hasil TKA untuk kelas 6. Ini cukup baik di Kecamatan Sawit. Untuk bahasa Indonesianya itu dapat nilai 93 koma sekian,” jelasnya.

Ia juga menyebut perpustakaan SDN 2 Cepokosawit telah terakreditasi dan menjadi satu-satunya perpustakaan sekolah dasar di Kecamatan Sawit yang memiliki status tersebut.

Di tengah terus menurunnya jumlah peserta didik dalam beberapa tahun terakhir, Arya menegaskan seluruh guru tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada siswa.

“Kami tetap tidak patah semangat. Walaupun berapa jumlah muridnya kami tetap layani dengan sebaik-baiknya. Sampai titik darah penghabisan,” pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jawa Tengah

See More