The Power of Pasutri Gen Z: Meraup Cuan dari Kreasi Bendera Agustusan

- Fahmi dan Regita, pasutri Gen Z di Semarang, memasuki tahun ketiga memproduksi bendera, umbul-umbul, dan dekorasi Agustusan sebagai kelanjutan usaha keluarga.
- Setelah penjualan awal sepi, pesanan tahun ini meningkat melalui marketplace, Google Maps, serta promosi langsung ke kampung-kampung dan pengurus RT/RW.
- Pelanggan dari Semarang hingga Kendal, Demak, dan Jepara memesan dalam jumlah besar; pasangan ini menawarkan produk produksi sendiri dengan strategi harga grosir berbiaya terjangkau.
Semarang, IDN Times - Berada di gang sempit Kelurahan Purwodinatan Semarang Tengah, namun siapa sangka penghuni rumah berkelir cokelat tersebut belakangan sedang sibuk.
Saban menjelang perayaan Agustusan, sang penghuni rumah, Fahmi dan istri tercintanya Regita Sekar Agisti tak henti-henti mendapat orderan pembuatan bendera dan umbul-umbul dari pelanggannya.
Orderan yang kerap diterima mereka mulai dari pembuatan bendera merah putih, umbul-umbul bendera kampung hingga aneka pernak-pernik background untuk kebutuhan perayaan Agustusan.
Bagi Fahmi dan istrinya, momen mendekati Agustusan jadi berkah sekaligus anugerah. Selain tetap senantiasa menjaga bisnis warisan leluhur, memproduksi bendera untuk keperluan perayaan Agustusan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.
Setiap kali menjahit bendera-bendera orderan pelanggannya, semangat nasionalisme jelas terpatri di benak pasangan suami istri (pasutri) tersebut.
Selain itu, menggeluti bisnis bendera Agustusan adalah ladang cuan yang minim pesaing di Ibukota Jateng.
Usahanya ia mulai dari titik nol. Dengan modal cekak ia dan istrinya nekat berjualan bendera dan umbul-umbul Agustusan.
"Ini sudah tahun ketiga saya memproduksi aneka pernak-pernik bendera dan umbul-umbul. Usaha ini awalnya dari bapak yang tinggal di Madiun. Terus habis kuliah dan menikah di Semarang, saya iseng-iseng cek ombak. Mumpung ada kesempatan jualan bendera, jadinya saya lakuin. Tahun pertama masih sepi (peminat), tahun kedua mulai terasa dapat orderan sana sini. Dan tahun ini penjualannya semakin ramai," kata Fahmi saat ditemui di rumahnya, RT 1/RW II Kampung Purwodidatan, Kelurahan Purwodidatan Semarang Tangah, Selasa (4/8/2026).
Awal-awal mereka jualan lewat marketplace. Blibli dipakai sebagai jejaring marketplace-nya untuk mencari ladang rezeki.
Tak berhenti di situ saja, ia juga memasang tautan bisnis benderanya pada akun Google Maps. Dengan cara ini masyarakat kian gampang menemukan jejak bisnisnya dari website. Termasuk mencari kontaknya untuk memesan orderan bendera.
Tapi di balik keuletannya mencari lubang rezeki lewat jejaring medsos, diakuinya bahwa blusukan ke kampung-kampung untuk menyapa warga satu persatu menjadi jurut jitunya dalam memasarkan bendera Agustusan kreasinya.
Sukses menjangkau pelanggan di Kendal hingga Jepara
Dengan usianya baru 28 tahun, Regita alias Gita, istri Fahmi berkata ia tak canggung menyebarkan brosur produk benderanya kepada para ketua RT dan ketua RW. Sebab dari trik itulah, tahun ini bendera Agustusan kreasinya justru digandrungi oleh warga kampung.
"Setiap dapat orderan dari kampung-kampung jumlahnya bisa ribuan. Belum lagi yang memesan dari marketplace dan datang rumah, pas jelang Agustusan kayak gini, jumlah pesanan bisa naik berlipat-lipat," kata Gita.
Orderan yang datang jelang Agustusan mulai dari pelanggan dari Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, kisaran wilayah Kota Semarang dan yang terbanyak dari Kabupaten Jepara.
Para pelanggannya juga ada yang berasal dari kantor-kantor pemerintahan, pengelola swalayan dan pusat bisnis lainnya. "Banyak pesanan juga dari mal-mal dan kantor-kantor pemerintahan," ujar Gita.
"Warga Semarang cenderungnya dadakan. Sehari sering terjual background 50 pcs. Terus sekarang ini penjualan paling ramai dari pesanan RT RW, dari dinas dinas juga. Orderan bisa 3-4 kali sehari," sambungnya.
Lantaran memproduksi sendiri, maka harga bendera dan aneka umbul-umbul pun jatuhnya murah meriah. Gita kerap menjual grosiran bendera seharga Rp5.000 hingga yang harga termahal ratusan ribu rupiah.
Bisa dibilang strategi yang dijalankan Fahmi dan Gita ini menganut pola bisnis yang disebut high volume low margin.
Mereka tentu meyakini bahwa dengan memakai trik bisnis tersebut semata demi melanggengkan usahanya ditambah lagi supaya bendera Agustusan kreasinya makin digandrungi masyarakat Jawa Tengah.





















