Bajaj Maxride Taklukan Tanjakan Obyek Wisata, Bikin Gen Z Kesengsem

- Bajaj Maxride di Semarang terbukti tangguh menaklukkan tanjakan curam menuju berbagai destinasi wisata, membuatnya digemari terutama oleh kalangan Gen Z yang suka berkeliling kota.
- Dua sopir, Aris Hertanto dan Nur Ahmad, mengaku armada bajaj tetap stabil di medan ekstrem serta memberikan penghasilan lebih tinggi dibanding profesi ojek online sebelumnya.
- Manajemen Bajaj Maxride Semarang tengah memperluas trayek dan menambah armada hingga 250 unit sambil menawarkan promo tarif melalui aplikasi Flight untuk menarik lebih banyak penumpang.
Semarang, IDN Times - Bukan perkara mudah bagi armada transportasi umum untuk menaklukan tanjakan-tanjakan curam di area perbukitan. Khususnya di tempat-tempat wisata di dataran tinggi tentunya para sopir butuh nyali yang tinggi.
Namun siapa sangka bahwa bajaj Maxride punya armada yang bandel dan kuat menaiki jalanan yang terjal.
Hal tersebut diakui Aris Hertanto, seorang sopir bajaj Maxride yang beroperasi di Kota Semarang.
Sebagai orang yang menggantungkan hidup dari bajaj Maxride, mau tidak mau Aris harus siap melayani orderan ke segala tujuan.
Hampir saban hari ia rutin melahap rute dari rumahnya di Bangetayu Kecamatan Genuk menuju Tlogosari, Kota Lama, Simpang Lima sampai area pusat kota lainnya.
Orderan yang ia terima selain dari wisatawan juga didapat dari anak-anak Gen Z.
"Saya dari rumah biasanya melayani orderan ke Tlogosari karena memang lokasinya banyak yang naik bajaj. Terus ke Kota Lama. Dari Kota Lama sering dapat orderan dari wisatawan buat keliling kota. Saya akui kalau anak-anak Gen Z suka berwisata naik bajaj. Katanya sih bodinya lebar jadi selama perjalanan menyenangkan," kata Aris saat ditemui di Titik Nol Kilometer Semarang, Rabu (10/7/2026).
Karena bajaj Maxride bisa menerima orderan yang fleksibel, tak jarang dirinya kerap melayani rute ke sejumlah tempat wisata.
Beberapa tempat wisata yang pernah ia tuju ialah wisata pemandian Kalikesek di Limbangan Kendal, Bandungan Kabupaten Semarang, Kebun Teh Tambi Wonosobo hingga Dieng.
Ketika melayani perjalanan wisata ke Kalikesek, ia membuktikan kalau armadanya bisa melewati medan jalan tanpa kendala. Saat melewati tikungan ekstrem di Sumowono, katanya bajaj Maxride yang dikendarai tetap stabil.
Nur Ahmad, seorang sopir bajaj Maxride lainnya juga mengakui bahwa armadanya lumayan gacor saat menempuh perjalanan di tanjakan Kebun Teh Tambi Wonosobo.
"Ketika jalan menanjak, emang mesinnya sedikit getar. Cuman kekuatan gasnya tetap ada. Jadi walaupun pas waktu itu berwisata ke Tambi di jalan ndak pernah mogok," akunya kepada IDN Times.
Nur sendiri sudah menekuni pekerjaan sebagai sopir bajaj Maxride semenjak Oktober 2025 silam. Ia nekat meninggalkan profesi ojek online karena tergiur penghasilan sebagai sopir bajaj Maxride yang banyak.
Apabila dulu ia bisa mengantongi Rp100 ribu per hari dari ojol, kini sebagai sopir bajaj Maxride penghasilan saban harinya kisaran Rp200 ribuan.
"Enakan narik bajaj orderannya banyak. Kalau ojek online dulu sekitaran seratus ribuan," akunya.
Bajaj Maxride incar pengembangan trayek
City Manajer Bajaj Maxride Semarang, Adam Mahendra, mengatakan pihaknya sedang berusaha memperluas jaringan trayek untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat Semarang dan sekitarnya.
Selain itu, pihaknya juga menebar promo tariff terutama mengajak penumpang bajaj Maxride menggunakan aplikasi Flight.
Adapun soal penambahan armada, katanya idealnya Kota Semarang itu dengan cakupan 16 kecamatan dan berbagai heritage minimal punya 200 sampai 250 unit.
"Saat ini kita berjalan 130. Tapi kita membuka untuk peluang baru lagi. Untuk idealnya ya kita ikuti perkembangan dari sisi demand-nya dulu," urainya.


















