Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ada Operasi Tangkap Tikus di Semarang untuk Tekan Kasus Leptospirosis

Ilustrasi bakteri penyebab leptospirosis. (Unsplash.com/Michael Schiffer)
Ilustrasi bakteri penyebab leptospirosis. (Unsplash.com/Michael Schiffer)
Intinya sih...
  • Kasus leptospirosis di Semarang fluktuatif dalam 3 tahun terakhir.
  • Dinas Kesehatan Kota Semarang menggiatkan operasi tangkap tikus (OTT) sebagai respons terhadap penyakit yang marak saat musim hujan.
  • Operasi tangkap tikus (OTT) digiatkan untuk menekan kasus penyakit leptospirosis di Kota Semarang.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Kasus penyakit leptospirosis di Kota Semarang dalam tiga tahun terakhir mengalami tren fluktuatif. Merespons penyakit yang marak saat musim hujan ini Dinas Kesehatan Kota Semarang menggiatkan operasi tangkap tikus (OTT). 

1. Tingkat kematian dari leptospirosis tinggi

ilustrasi seseorang terkena leptospirosis (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi seseorang terkena leptospirosis (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Untuk diketahui, leptospirosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira. Penyakit ini umumnya disebarkan melalui urine hewan terinfeksi, terutama tikus ke lingkungan seperti air atau tanah.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, tingkat kematian dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira ini cukup tinggi.

“Lepto disebabkan bakteri. Nah, bakteri ini ketika masuk ke dalam tubuh seseorang, manusia, itu dia gampang untuk tumbuh kembang sehingga risiko menginfeksi dan lari ke organ vital itu sangat luar biasa tinggi. Dan lepto, kuman lepto ini juga ternyata angka kematiannya, mortality-nya itu sangat tinggi," katanya, Minggu (8/2/2026).

2. Ada 8 kasus meninggal di 2025

ilustrasi sakit Leptospirosis (pexels.com/Polina Tankilevitch)
ilustrasi sakit Leptospirosis (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Berdasarkan data Dinkes Kota Semarang, pada tahun 2023 tercatat 38 kasus. Lalu, tahun 2024 terdapat 32 kasus, sedangkan tahun 2025 ada 59 kasus. Kasus leptospirosis mayoritas terjadi di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, serta kondisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang kurang optimal.

"Tahun 2023 ada 10 kasus yang meninggal dunia dan 2025 ada 8 kasus yang meninggal dari 59 kasus. Tadi ya, PHBS-nya mungkin kurang maksimal, kemudian kepedulian dari masyarakat yang tinggal di situ juga kurang maksimal, maka walaupun ini sudah kami edukasi di tingkat masyarakat, kami selalu mengingatkan," jelas Hakam.

3. Giatkan OTT di wilayah rawan

Ilustrasi penyebab leptospirosis (pixabay.com/siapa)
Ilustrasi penyebab leptospirosis (pixabay.com/siapa)

Adapun, untuk menekan kasus leptospirosis, Dinkes menggiatkan operasi tangkap tikus (OTT) di wilayah rawan di Kota Semarang. Gerakan ini menargetkan partisipasi aktif masyarakat di tingkat kelurahan, RW, dan RT.

"Gerakan OTT itu sebetulnya sudah lama, cuma kami target. Di akhir tahun 2025 itu kami target masing-masing kelurahan. Jadi makin banyak tikus yang ditangkap, kemungkinan besar untuk bisa menularkan kepada manusia bakterinya itu akan kecil kan seperti DB. DB itu dengan apa? PSN (pemberantasan sarang nyamuk). Lepto, dengan OTT, makin banyak kelurahan, RW, RT menemukan setiap minggunya," jelas Hakam.

Pada OTT, wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi ditargetkan bisa menangkap sekitar 50-100 tikus per minggu. Dinkes juga mendorong kelurahan untuk menyediakan perangkat penangkap tikus, sementara petugas puskesmas akan memberikan pendampingan, termasuk cara penanganan sesuai ketentuan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Ada Operasi Tangkap Tikus di Semarang untuk Tekan Kasus Leptospirosis

08 Feb 2026, 18:37 WIBNews