Semarang, IDN Times — Dalam kalender Jawa maupun Hijriah, bulan Safar sering kali diperlakukan dengan penuh kehati-hatian oleh sebagian masyarakat tradisional Jawa (Wong Jowo). Tak sedikit orang tua zaman dulu yang melarang anak cucunya menggelar hajatan besar, seperti pernikahan atau pindah rumah, selama bulan ini karena dianggap membawa sial atau bencana (bala).
Stigma "bulan sial" ini bahkan melahirkan tradisi Rebo Wekasan sebagai bentuk amalan penolak bala di pekan terakhir bulan Safar. Namun, jika dibongkar dari sudut pandang sejarah, antropologi, dan ajaran Islam, benarkah Safar adalah bulan pembawa nasib buruk?
Berikut 3 alasan sebenarnya di balik mitos bulan Safar sebagai bulan sial bagi Wong Jowo ala IDN Times. Yuk, simak biar gak salah kaprah lagi, Lur!
