Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Terbongkar! Alasan Sebenarnya Bulan Safar Sering Dianggap Sial oleh Wong Jowo
ilustrasi bulan safar (pixabay.com/flo222)
  • Anggapan Safar sebagai bulan sial berakar dari mitos Arab pra-Islam tentang Hamah dan Safar, serta masa suku-suku meninggalkan rumah untuk berperang atau bepergian.
  • Di Jawa, kepercayaan itu berakulturasi menjadi prinsip eling lan waspada dan ritual sosial-keagamaan, seperti membuat apem serta bersedekah, bukan sekadar memelihara ketakutan.
  • Ajaran Islam menolak thiyarah atau kesialan pada Safar; hadis Bukhari-Muslim menegaskan semua bulan baik, sehingga hajat dan aktivitas tidak perlu dibayangi mitos.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sebelum datangnya Islam

Masyarakat Arab Jahiliah memandang Safar sebagai bulan yang membawa kemalangan, termasuk melalui mitos Hamah dan Safar.

Pada masa lalu

Suku-suku Arab meninggalkan rumah hingga kosong untuk berperang atau bepergian setelah larangan perang pada Muharram berakhir. Keadaan ini sering dikaitkan dengan kerugian dan musibah perang.

Saat ajaran Islam masuk ke Nusantara

Kepercayaan terkait Safar mengalami akulturasi dan penyaringan oleh ulama serta Wali Songo. Ketakutan dialihkan menjadi amalan sosial-keagamaan seperti membuat apem dan bersedekah.

zaman dulu

Sebagian orang tua Jawa melarang hajatan besar atau pindah rumah selama Safar karena dianggap dapat membawa bala.

pekan terakhir bulan Safar

Tradisi Rebo Wekasan dilakukan sebagai amalan penolak bala.

Saat ini

Generasi muda Jawa semakin memahami bahwa tidak ada hari atau bulan yang buruk untuk berbuat baik maupun menggelar hajatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Anggapan bulan Safar sebagai bulan sial di kalangan sebagian masyarakat Jawa dikaitkan dengan warisan mitos Arab pra-Islam, akulturasi budaya, dan tradisi Rebo Wekasan.
  • Who?
    Sebagian masyarakat tradisional Jawa, leluhur Jawa, ulama dan Wali Songo, serta generasi muda Jawa terlibat dalam pewarisan dan perubahan pandangan mengenai Safar.
  • Where?
    Kepercayaan dan tradisi tersebut berkembang di lingkungan masyarakat Jawa, termasuk wilayah Nusantara setelah masuknya ajaran Islam.
  • When?
    Kepercayaan ini berakar pada masa masyarakat Arab pra-Islam dan berlanjut dalam tradisi Jawa; Rebo Wekasan dilakukan pada pekan terakhir bulan Safar.
  • Why?
    Safar dikaitkan dengan kesialan karena mitos Arab kuno tentang bencana serta pengalaman perang, lalu dimaknai masyarakat Jawa sebagai pengingat untuk eling dan waspada.
  • How?
    Ketakutan terhadap Safar dialihkan menjadi kegiatan sosial-keagamaan, seperti membuat apem dan bersedekah. Dalam ajaran Islam, hadis menegaskan tidak ada kesialan pada bulan Safar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dulu, sebagian orang Jawa takut bulan Safar. Mereka tidak mau menikah atau pindah rumah karena takut sial. Rasa takut ini datang dari cerita lama orang Arab. Lalu, orang Jawa membuat tradisi berdoa dan berbagi makanan. Sekarang banyak orang tahu semua bulan itu baik, termasuk Safar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemaknaan Safar di Jawa menunjukkan kemampuan tradisi untuk bertransformasi: dari ketakutan terhadap mitos menjadi pengingat untuk eling lan waspada, introspeksi, serta mempererat kepedulian melalui sedekah. Pelurusan ajaran Islam juga membuka ruang bagi generasi muda untuk memandang setiap bulan sebagai kesempatan yang setara untuk bekerja, berbuat baik, dan menjalani hajat tanpa bayang-bayang kesialan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times — Dalam kalender Jawa maupun Hijriah, bulan Safar sering kali diperlakukan dengan penuh kehati-hatian oleh sebagian masyarakat tradisional Jawa (Wong Jowo). Tak sedikit orang tua zaman dulu yang melarang anak cucunya menggelar hajatan besar, seperti pernikahan atau pindah rumah, selama bulan ini karena dianggap membawa sial atau bencana (bala).

Stigma "bulan sial" ini bahkan melahirkan tradisi Rebo Wekasan sebagai bentuk amalan penolak bala di pekan terakhir bulan Safar. Namun, jika dibongkar dari sudut pandang sejarah, antropologi, dan ajaran Islam, benarkah Safar adalah bulan pembawa nasib buruk?

Berikut 3 alasan sebenarnya di balik mitos bulan Safar sebagai bulan sial bagi Wong Jowo ala IDN Times. Yuk, simak biar gak salah kaprah lagi, Lur!

1. Warisan Tradisi Arab Jahiliah yang Terserap ke Budaya Lokal

ilustrasi orang sedang safar (Pexels.com/Noureddine Belfeth)

Anggapan bahwa Safar adalah bulan sial sebenarnya bukanlah produk murni dari kebudayaan Jawa, melainkan warisan mitos kuno masyarakat Arab Jahiliah sebelum datangnya Islam.

Mitos Burung Nahas dan Bencana: Masyarakat Arab pra-Islam percaya bahwa pada bulan Safar, ruh orang meninggal berubah menjadi burung hantu (Hamah) atau adanya cacing perut (Safar) yang merusak tubuh dan membawa kemalangan.

Asal-Usul Nama "Safar": Secara bahasa, safar berarti "kosong". Pada masa lalu, bulan ini menjadi waktu ketika suku-suku Arab meninggalkan rumah mereka hingga kosong untuk berperang atau bepergian jauh setelah berhentinya larangan berperang di bulan Muharram, yang sering kali berujung pada kerugian dan musibah perang.

2. Proses Akulturasi Budaya dan Kehati-hatian Orang Jawa

Ilustrasi Budaya Jawa (pexels.com/Maxime LEVREL)

Saat ajaran Islam masuk ke Nusantara, tradisi dan kepercayaan tersebut mengalami proses penyaringan (akulturasi) oleh para ulama dan Wali Songo.

Prinsip Eling lan Waspada: Orang Jawa memiliki filosofi hidup yang sangat menjunjung tinggi kehati-hatian. Kepercayaan tentang diturunkannya cobaan pada bulan Safar dimaknai oleh para leluhur Jawa bukan untuk ditakuti secara mistis, melainkan sebagai pengingat agar manusia lebih introspeksi diri (eling) dan berhati-hati (waspada).

Pengalihan Menjadi Ritual Positif: Dibandingkan memelihara ketakutan, para penyebar agama di Tanah Jawa mengubah ketakutan tersebut menjadi momentum sosial-keagamaan, seperti tradisi membuat kue apem (simbol memohon ampunan) dan bersedekah kepada tetangga.

3. Pelurusan Syariat: Semua Bulan Adalah Baik

Saya pernah bermimpi bertemu langsung dengan Baginda Rasulullah ﷺ.

Dalam pandangan ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat Jawa modern, anggapan bahwa ada bulan tertentu yang membawa sial (thiyarah) adalah pemahaman yang perlu diluruskan.

Penegasan Hadis: Rasulullah SAW secara tegas membantah mitos ini dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: "Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada kesialan (thiyarah), tidak ada kesialan karena burung hantu (hamah), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."

Perubahan Cara Pandang: Saat ini, generasi muda Jawa semakin memahami bahwa tidak ada hari atau bulan yang buruk. Setiap masa adalah waktu yang baik untuk berbuat kebaikan, bekerja keras, dan menggelar hajat pernikahan tanpa perlu dibayang-bayangi ketakutan mistis.

Curated For You

Editorial Team

Related Article