Undip Kukuhkan 4 Guru Besar, Pakar Bedah Onkologi hingga General Audit

- Undip mengukuhkan empat guru besar di berbagai bidang keahlian.
- Proses pengukuhan dilakukan di Gedung Prof. Sudarto, S.H. Kampus UNDIP Tembalang.
- Keempat profesor baru ini memiliki kepakaran mulai dari bedah onkologi hingga General Audit.
Semarang, IDN Times - Universitas Diponegoro (Undip) mengukuhkan empat guru besar (gubes) di Gedung Prof. Sudarto, S.H. Kampus UNDIP Tembalang, Senin (26/1/2026). Empat profesor baru ini memiliki kepakaran mulai dari bedah onkologi hingga General Audit.
1. Strategi penanganan kanker payudara di usia muda

Pengukuhan ini merupakan sesi pertama dari lima sesi pengukuhan 18 gubes Undip. Pada kesempatan tersebut empat gubes memaparkan temuan-temuan penelitiannya yang berkontribusi serta menjawab tantangan global di sektor kesehatan, lingkungan, infrastruktur, dan tata kelola korporasi.
Keempatnya di antaranya Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK), Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K); Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Prof. Dr. Darsono, S.E., Akt., MBA.; Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Prof. Dr. Budiyono, S.KM., M.Kes; serta Guru Besar dari Fakultas Teknik (FT), Prof. Dr. Ir. Purwanto, M.T., M.Eng.
Prof. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B., Subsp.Onk(K) yang memiliki kepakaran Bedah Onkologi mempresentasikan penelitiannya berjudul “Kanker Payudara Usia Muda Pada Populasi Indonesia: Strategi Penurunan Insidensi dan Tatalaksana Komprehensif Berbasis Genetic Profiling Spesifik”.
Dalam paparannya ia menjelaskan tentang strategi penanganan kanker payudara usia muda di bawah 40 tahun di Indonesia melalui pendekatan genetic profiling spesifik. Inovasi ini menyoroti peran mutasi PIK3CA dalam efektivitas terapi guna mengatasi tantangan sistemik seperti keterlambatan deteksi dini dan akses layanan. Melalui pendekatan multidisiplin, penelitian ini bertujuan menurunkan insidensi stadium lanjut serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
2. Bahas ancaman paparan pestisida

Sementara itu, Prof. Dr. Darsono, S.E., Akt., MBA yang memiliki kepakaran General Audit memaparkan penelitian berjudul “Tantangan Audit dalam Meningkatkan Kualitas Laporan Perusahaan pada Era Keberlanjutan”.
Ia menekankan pentingnya peran auditor independen dalam memverifikasi laporan ESG guna memitigasi risiko greenwashing. Melalui adaptasi standar ISSA 5000 serta IFRS S1 dan S2. Pendekatan ini bertujuan menjamin transparansi dan kualitas laporan perusahaan yang kredibel sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis di era keberlanjutan.
Kemudian, Prof. Dr. Budiyono, S.KM., M.Kes. yang memiliki kepakaran Bahan Berbahaya Lingkungan dan Risiko Kesehatan serta Pengendaliannya membahas “Ancaman Paparan Pestisida terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia dan Inovasi Teknologi Pengendalian Berkelanjutan”. Ia menyoroti bahaya paparan pestisida yang memicu gangguan hormon seperti hipotiroidisme dan diabetes.
Dampak seriusnya menyasar ibu hamil dan anak-anak, termasuk risiko stunting, autisme, hingga penurunan kualitas SDM yang memperburuk IPM nasional. Sebagai solusi menawarkan penggunaan teknologi ozone untuk pencucian sisa pestisida serta transisi menuju pertanian organik yang didukung oleh regulasi pemerintah.
3. Undip miliki 248 guru besar

Sedangkan, Prof. Dr. Ir. Purwanto, M.T., M.Eng. memiliki kepakaran Green Concrete. Ia mengangkat judul “Aplikasi Beton Geopolimer Ramah Lingkungan Berupa Balok Haunch sebagai Perkuatan Struktur Beton Bertulang” mengembangkan beton geopolimer tanpa semen berbasis limbah Fly Ash dan Bottom Ash (HVFA).
Inovasi utamanya mencakup Self Compacting Geopolymer Concrete (SCGC) dan penggunaan balok haunch untuk memperkuat struktur gedung serta jembatan. Guna menekan biaya, memanfaatkan material lokal seperti cangkang kerang dan abu sekam sebagai pengganti aktivator kimia impor, menciptakan solusi konstruksi yang ekonomis dan ramah lingkungan.
Pada pengukuhan gubes tersebut, Ketua Senat Akademik UNDIP, Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D., mengatakan dengan dikukuhkannya gubes baru ini, maka semakin banyak profesor yang dimiliki oleh Undip. Hal ini merupakan salah satu indikator semakin meningkatnya kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Saat ini, guru besar yang aktif di Undip berjumlah 248 orang, terdiri dari 244 guru besar tetap dan 4 guru besar tidak tetap,” paparnya.
4. Gubes bawa beban tanggung jawab yang besar

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, M.Tech., Ph.D., IPU yang turut hadir menyampaikan, gelar tertinggi akademik tersebut membawa beban tanggung jawab yang besar bagi kemajuan negara.
“Pengukuhan guru besar bukan hanya suatu seremonial puncak pencapaian akademik, tetapi merupakan peneguhan tanggung jawab intelektual dan moral kepada bangsa dan negara,’’ tegasnya.
Togar menjelaskan, bahwa arah kebijakan Kemdiktisaintek saat ini menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat solusi bagi tantangan nasional.
“Pembangunan nasional ke depan menuntut kebijakan berbasis ilmu pengetahuan (evidence-based policy), inovasi yang berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi harus menjadi episentrum pembangunan sumber daya manusia unggul,” jelasnya.
Sementara, Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo mengapresiasi keempat guru besar baru atas semangatnya dalam mencapai gelar profesor sehingga layak dan patut diteladani.
“Menjadi guru besar adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, memiliki level tertinggi dalam mencapai ilmu dan menjadi role model terbaik bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Semoga ilmu yang ada tidak hanya sampai pada level laboratorium tapi juga bermanfaat dan terus bermartabat di dalam keseharian,” katanya.


















