Waduh! 1.257 Hektare Tambak Rusak Parah, Petambak Pati Tekor Rp17 M

Pati, IDN Times - Para petambak Kabupaten Pati mengalami kerugian hingga Rp17 miliar akibat 1.257 hektare tambak nila yang dilanda banjir bandang.
Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah, tambak yang terendam banjir di Kabupaten Pati lokasinya enam kecamatan di antaranya Kecamatan Margoyoso, Kecamatan Dukuhseti, Kecamatan Tayu, Kecamatan Kayen, Kecamatan Gabus.
Dari enam kecamatan tersrbut total ada 19 desa yang terdampak. Kepala DKP Jateng, Endi Faiz Effendi menuturkan komoditas tambak yang rusak parah akibat banjir didominasi ikan nila salin.
Menurutnya kerugian yang besar karena nila salin yang sudah siap dipanen, justru terkena dampak banjir bandang.
"Dia mau panen, siap panen malah ngintir. Kasihan kan, misalkan tanggulnya pecah atau airnya meluber, akhirnya ikannya keluar. Kalau misal satu ton harganya per kilogram Rp 18.000, sudah berapa juta itu," ungkapnya, Selasa (27/1/2026).
Pihaknya memastikan total kerugian yang dialami para petambak Kabupaten Pati mencapai Rp17 miliar. Namun ia berkata nilai kerugian masih ditaksir ulang lantaran membutuhkan proses verifikasi.
"Iya Rp 17 miliar, hitungannya masih kasar ya, masih perkiraan," terangnya.
Selain Bumi Mina Tani, katanya juga terdapat laporan dari Pemkab Pemalang bahwa terdapat tambak yang juga kebanjiran.
Tambak yang kebanjiran di Pemalang berlokasi di Desa Sidokare. Khusus kerugian petambak Pemalang, pihaknya sedang mendata ulang karena baru menerima laporan awal.
"Pemalang baru laporan awal, masih kami dalami. Secara keseluruhan pendataan di Jawa Tengah masih berjalan," ujarnya.
Endi menjelaskan, hingga kini sektor budidaya perikanan masih belum memiliki perlindungan seperti yang dimiliki petani tanaman pangan. Jika di sektor pertanian sudah ada skema asuransi gagal panen, kondisi itu belum berlaku bagi pembudidaya ikan.
Perlindungan yang tersedia selama ini baru sebatas asuransi nelayan yang menanggung risiko kecelakaan kerja saat melaut, bukan kerugian usaha akibat tambak terendam banjir atau gagal panen.
Karenanya, demi meringankan beban pembudidaya yang terdampak, DKP menyiapkan langkah pemulihan. Untuk penyaluran bantuan akan difokuskan penyediaan benih ikan.
"Nanti tergantung pada anggaran kita berapa, nanti kita akan petakan mana yang diurus dulu yang butuh benihnya akan kita bantu," kata Endi.


















